Sebelumnya
Kritik Vaksin Terawan
Sebelumnya, Ines mempertanyakan strategi ilmiah vaksin Nusantara Terawan yang berbasis sel dendritik, untuk virus saluran pernafasan di tengah pandemi Covid-19. Menurutnya, pendekatan sel dendritik, sudah diteliti sejak tahun 2000-an untuk imunoterapi kanker.
Baca juga : Komisi IX DPR Siap Jadi Relawan Uji Klinis Fase 2 Vaksin Nusantara
"Proses vaksin sel dendritik mahal, dan tidak relevan utk vaksinasi terhadap virus saluran pernafasan," kritiknya.
Saat ini, kata Ines, yang kita perlukan adalah penelitian yang fokus pada desain vaksin dan penelitian, sehingga xapat menghasilkan vaksin yang bagus terhadap semua varian.
Baca juga : Holding Bakal Kerek Daya Saing Dan Industri Pariwisata
"Sekarang, sudah ada 6 vaksin yang disuntik langsung, yang dapat memicu respon imun yang baik. Untuk apa menggunakan pendekatan berbelit2, kalau suntikan langsung cukup?" tukasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ines juga menegaskan, dirinya bukanlah kelompok anti vaksin. Ia mendukung penelitian berkualitas di Indonesia.
Baca juga : Doni Akui Kekurangan Faskes Dan Vaksinator
"Banyak yang bertanya kenapa saya kritik vaksin dendritik untuk Covid-19. Apakah saya anti-vaxxer???????? JELAS TIDAK. Saya peneliti RnD di bidang vaksin dan saya mendukung pelaksanan penelitian berkualitas di Indonesia," tegasnya. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.