Sebelumnya
Sementara akun @nadiyasejar meminta Prabowo membuktikan sumpah menjaga negara ini sebagai Menhan. Caranya dengan memulangkan TKA China.
“Saya pendukung bapak di 2 pemilu dan terus hadir di kampanye. Sekarang mulai ragu,” ucapnya. “Yang baik kami dukung yang kurang baik kami ingatkan,” timpal @fikiramadhani.
Untuk diketahui, peristiwa 1998 menjadi peristiwa yang tak menguntungkan bagi Prabowo. Mantan Pangkostrad ini selalu mendapat tuduhan macam-macam. Mulai dari akan melakukan kudeta dan menjadi dalang kerusuhan di ibu kota.
Jelang Soeharto lengser pada 21 Mei 1998 dan diganti BJ Habibie, situasi di Jakarta kacau balau. Ada kerusuhan dan penculikam terhadap sejumlah aktivis.
Baca juga : Perhatikan Penanganan Cedera Saat Berolahraga
Wiranto yang saat itu menjadi Panglima ABRI, dan Prabowo sebagai Panglima Kostrad menjadi tertuduh.
Setelah masa transisi selesai, Wiranto dan Prabowo punya nasib yang berbeda. Karir Wiranto mocer. Sementara Prabowo dicopot oleh Habibie sehari setelah dilantik menjadi presiden. Dalam buku “Detik-detik Yang Menentukan”, Habibie menceritakan bahwa pada pagi 22 Mei 1998, Wiranto melaporkan keberadaan pasukan Kostrad yang bergerak menuju Jakarta serta konsentrasi pasukan di sekitar kediaman Habibie di Kuningan dan Istana Merdeka.
Menurut pengakuan Habibie, Wiranto minta petunjuk kepadanya selaku presiden. Mendengar laporan Wiranto, Habibie berkesimpulan bahwa Pangkostrad (Prabowo) bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Pangab.
“Sebelum matahari terbenam, Pangkostrad harus diganti dan kepada penggantinya diperintahkan agar semua pasukan di bawah komando Pangkostrad harus kembali ke basis kesatuan masing-masing,” tegas Habibie. Wiranto sempat memastikan perintah presiden. “Sebelum matahari terbenam?” tanyanya.
Baca juga : Kejagung Tahan Enam Tersangka Kasus Asabri
Namun, isu ini biasanya dimainkan saat memasuki Pemilu Presiden. Prabowo yang sudah tiga kali ikut Pilpres, selalu diserang lawan politiknya dengan isu tersebut. Yang paling kencang, saat dirinya maju sebagai calon presiden di Pilpres 2014 dan 2019.
Pada masa kampanye 2019, politisi Gerindra, Desmond J Mahesa menuturkan, isu serupa pernah diungkit Jusuf Kalla (JK) yang mendampingi Jokowi dalam debat pada Pilpres 2014 lalu. Pertanyaan JK itu dijawab Prabowo dengan ringan.
“Prabowo cuma bilang apakah kita harus bongkar-bongkar di sini (debat Pilpres 2014). Siap kita bongkar-bongkar di sini. Setelah itu, JK tidak melanjutkan lagi pertanyaannya ke Prabowo,” katanya.
Desmond juga menepis berbagai tuduhan yang ditujukan kepada Prabowo, seperti akan melakulam kudeta, menculik aktivis, dan dalang kerusuhan. Karena itu, Desmond berharap peristiwa 1998 dibongkat agar tak ada lagi kejadian serupa.
Baca juga : Ayo Kita Disiplin Jalankan Prokes, Bantu Pemerintah Tangani Covid
Lantas kapan Prabowo bicara dalam video tersebut? Kemarin, Rakyat Merdeka mencoba menanyakan video tersebut ke sejumlah politisi Gerindra seperti Waketum Habiburakhman, Desmond J Mahesa serta Anggota Dewan Pembina Andre Rosiade. Namun, potongan video yang dikirim hanya bertanda centang dua biru yang bertanda sudah dibaca. Saat ditanyakan soal ini, ketiganya tak menjawab.
Sementara itu, Wasekjen Gerindra Kawendra Lukistian hanya mau menanggapi pertanyaan soal hasil survei yang menempatkan Prabowo sebagai capres dengan elektabilitas tertinggi di atas Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil dan Anies Baswedan. Soal video itu, Kawendra enggan berkomentar. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.