Dark/Light Mode

Laut Kita Dijebol China

Pak Prabowo, Masih Mau Diam Saja Nih?

Sabtu, 16 Januari 2021 07:40 WIB
Menteri Pertahanan, Letjen (Purn) Prabowo Subianto. (Foto: Humas Kemenhan)
Menteri Pertahanan, Letjen (Purn) Prabowo Subianto. (Foto: Humas Kemenhan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah kemasukan drone, laut kita juga dimasuki kapal penelitian China. Melihat laut kita terus dijebol China, apa Menteri Pertahanan, Letjen (Purn) Prabowo Subianto masih mau diam saja?

Kurang dari sebulan, laut Indonesia dijebol China dua kali. Pertama, akhir Desember lalu, ditemukan drone bawah laut (seaglider) milik China di laut Selayar, Sulawesi Selatan.

Berita Terkait : Prabowo, Mana Aksimu?

Teranyar, kapal penelitian China yang nyelonong seenaknya ke perairan Selat Sunda. Kapal yang bernama Xiang Yang Hong 03 tersebut tertangkap basah oleh Badan Keamanan Laut (Bakamla).

Awalnya, kapal Bakamla, KN Pulau Nipah 321 sedang mencari korban Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh. Nah, saat kapal Bakamla berlayar menuju Selat Sunda, Rabu (13/1), ketemu kapal China tersebut.

Baca Juga : Menkes Juga Dengarkan Pengkritik Yang Berisik

Menerima kabar tersebut, Direktur Operasi Laut Bakamla, Laksamana Pertama Bakamla Suwito memerintahkan Letkol Bakamla Anto Hartanto untuk mengejarnya menggunakan KN Pulau Nipah 321. Akhirnya, kapal China tersebut berhasil didekati. Pihak keamanan laut Indonesia kemudian menjalin komunikasi melalui radio marine band.

Hasil yang didapat, Kapal Xiang Yang Hong 03 berangkat dari China menuju Samudera Hindia melewati perairan Indonesia menggunakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan Indonesia atau ALKI-I sesuai UNCLOS. Namun, kapal itu telah mematikan Sistem Identifikasi Otomatisnya (AIS) sebanyak tiga kali saat berlayar di Alur Laut Kepulauan Indonesia atau ALKI-I. Di antaranya saat berlayar di Laut Natuna Utara, Laut Natuna Selatan, dan Selat Karimata.

Baca Juga : Akhiri Pandemi Susah Menang

Padahal, menurut Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 7/2019, setiap kapal berbendera Indonesia dan kapal asing yang berlayar di wilayah perairan Indonesia, wajib memasang serta mengaktifkan AIS. Bila AIS tidak berfungsi, nakhoda wajib menyampaikan informasi kepada Stasiun Radio Pantai (SROP) atau Stasiun Vesstel Traffic Service (VTS) serta mencatat kejadian tersebut pada buku catatan harian (log book) kapal yang nantinya dilaporkan kepada Syahbandar.

DPR menanggapi dijebolnya laut Indonesia oleh kapal China. Anggota Komisi I DPR, Saifullah Tamliha mengatakan, Prabowo perlu bertindak tegas apabila kejadian ini shahih. Sebab, kawasan Selat Sunda murni milik teritorial NKRI. “Tanpa sengketa dengan negara manapun termasuk China,” tegas kader PPP ini, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
 Selanjutnya