Sebelumnya
Sejak menjalankan program vaksinasi Covid pada 13 Januari 2021, Indonesia memberikan lebih dari 22 juta dosis vaksin, yang sebagian besar adalah vaksin Sinovac.
Akhir tahun ini, Indonesia berharap bisa mencapai target kekebalan masyarakat (herd immunity) untuk 270 juta penduduknya.
Apa yang disampaikan BGS soal efektivitas vaksin Covid di Tanah Air, menguatkan temuan di Brazil, yang menyebut vaksin Sinovac lebih efektif di dunia nyata, dibanding saat uji coba klinis.
Namun, juru bicara Sinovac di Beijing mengaku belum dapat mengomentari hasil studi di Indonesia, sampai memperoleh rincian informasi lebih lanjut.
Baca juga : Jelang Lebaran, Jalur Utama Puncak-Cianjur Sepi Dari Kendaraan Pemudik
Dalam wawancara terpisah dengan Bloomberg pada Selasa (11/5), CEO Sinovac Yin Weidong mengatakan, CoronaVac bekerja lebih baik ketika diterapkan di dunia nyata. Namun, pembuktian efektivitas di dunia nyata juga mempersyaratkan skala vaksinasi dalam jumlah besar.
Skenario ini sulit dicapai oleh negara berkembang dengan infrastruktur kesehatan yang buruk. Serta akses yang terbatas untuk menjangkau target vaksinasi.
Dalam studi yang melibatkan tenaga medis Indonesia, dan studi lainnya di Serrana, sebuah kota Brazil yang berpenduduk 45 ribu jiwa, hampir 100 persen orang yang telah divaksinasi penuh menunjukkan penurunan tingkat keparahan penyakit dan risiko kematian.
Akan tetapi, kondisi yang terjadi di Chile sungguh berlawanan. Meski sepertiga penduduknya yang berjumlah 19 juta jiwa sudah mendapatkan vaksinasi (termasuk yang tercepat di dunia, Red), Chile ternyata atak mampu menekan laju penyebaran Covid.
Baca juga : Jelang Lebaran, Pengawasan Prokes Pulau Pramuka Diperketat
"Lansia adalah kelompok awal yang mendapatkan vaksinasi di Chile, dengan jumlah dosis kurang dari 15 juta. Kira-kira hanya 7 juta orang yang mendapatkan vaksin Sinovac. Setara dengan 36 persen dari total populasi 19 juta," jelas Yin.
"Tingkat perlindungan yang diberikan vaksin itu tidak sama. Tergantung varian virusnya. Namun, Sinovac diyakini mampu bertahan dalam melawan varian virus yang kini menjadi perhatian," sambungnya.
Satu pertanyaan mendasar tentang vaksin adalah kemampuannya dalam melindungi tubuh dari risiko penularan virus.
Terkait hal ini, Yin menerangkan, sampai saat ini Sinovac belum mengetahui apakah vaksinnya yang dibuat dengan metode inactivated (virus yang dilemahkan) dapat membendung risiko tertular Covid ketika pertama kali terpapar.
Baca juga : Jelang Lebaran, Pertamina Tambah Pasokan LPG 3 Persen
"Faktanya, vaksin mampu mencegah kita dari risiko mengalami penyakit yang parah atau menghindari risiko kematian. Itu yang terpenting,"papar Yin.
Soal efektivitas vaksin, ahli vaksin University of Auckland Selandia Baru, Helen Peteousis-Harris mengatakan, kemampuan vaksin dalam mengontrol suatu penyakit memang dapat lebih tinggi di dunia nyata, ketimbang saat uji klinis.
"Pengalaman saya, kita kerap gagal memprediksi dampak vaksin secara keseluruhan. Sesuatu yang hanya bisa kita lihat di dunia nyata, setelah vaksin tersebut digunakan secara luas," ungkapnya.
Ia menambahkan, mengurangi sebagian besar penyakit tidak hanya penting untuk menyelamatkan nyawa. Tetapi juga sangat bermanfaat untuk mengurangi kemungkinan munculnya varian baru yang bakal jadi biang kerok. [HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.