RM.id Rakyat Merdeka - Pada akhir abad ke-19 hingga awal ke-20, di Minangkabau ada satu pengalaman khas dari seorang tokoh asal Pariaman yang bernama Moehammad Saleh. Seorang saudagar yang pada masa hidupnya telah berlayar hingga ke Aceh, tumbuh bersama dengan tinggi gelombang laut Pantai Barat Sumatera. Anak dari Peto Radjo itu menyusun buku berisi pengalaman hidup untuk anak-cucunya yang kemudian diberi judul “Riwajat Hidup dan Perasaian Saja (Sejarah Hidup dan Penderitaanku). Buku itu ditulis oleh Saleh pada 1914, ketika usianya telah memasuki 73 tahun. Dalam buku itu, Saleh bercerita banyak tentang kehidupan serta lingkungan yang dilalui.
Ia berkisah tentang kisah jatuh bangun perjuangan hidupnya yang rumit dengan berbagai rintangan dan cobaan yang harus dilalui. Sampai pada akhirnya Saleh memiliki gelar Datuak Rangkayo Basa (Datuk Orang Kaya Besar), gelar untuk pedagang terkemuka dari Minangkabau. Keberhasilannya dapat tercermin dari sifat pengusaha yang ada dalam dirinya. Ia cerdik, pekerja keras, hemat, dan berpengetahuan luas. Saleh meninggal di Pariaman pada 1922 dalam usia 81 tahun.
Baca juga : Salim, Kebiasaan Kecil Yang Punya Pengaruh Besar
Riwayat Moehammad Saleh bisa dibaca di tulisan Tsuyoshi Kato, seorang akademisi asal Jepang. Pada 1986, satu esainya dalam Journal of Asian Studies diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang kemudian diberi judul “Rantau Pariaman: Dunia Saudagar Pesisir Minangkabau Abad XIX”. Tulisan Kato bersumber kepada autobiografi Moehammad Saleh yang berjudul “Riwajat Hidup dan Perasaian Saja”.
Menulis autobiografi, seperti apa yang dilakukan oleh Saleh, adalah hal yang luar biasa. Pada masa itu, budaya masyarakat Minangkabau masih condong dengan tradisi lisan bakaba. Penyampaian informasi dan berbagai panduan hidup disebarkan secara lisan. Bahkan, ketika booming surat kabar melanda masyarakat, tidak terdengar tulisan autobiografi yang muncul ke permukaan.
Baca juga : Kwitang, Oase Di Kota Metropolitan
Mestika Zed (2017) menjelaskan, naskah asli autobiografi Moehammad Saleh ditulis dalam tulisan Arab-Melayu berbahasa Minangkabau. Cucu kesayangan Moehammad Saleh, Soetan Mahmoed Latif, mulai menyalin naskah itu ke dalam huruf latin pada 1920-an. Pengalihaksaraan tersebut selesai pada 1933, dan buku itu naik cetak dalam jumlah terbatas pada 1935. Pada saat itu, buku hanya dicetak terbatas untuk keluarga besar Moehammad Saleh. Selang 30 tahun kemudian, oleh Latif, naskah buku tersebut kembali dialihaksarakan. Kali ini ke dalam Bahasa Indonesia.
Zed memandang, autobiografi Moehammad Saleh ini merupakan suatu dokumen unik dan langka. Pertama, jarang sekali terdapat autobiografi seorang tokoh yang hidup sebelum abad ke-20. Tulisan autobiografi, maupun biografi, dari tokoh pribumi baru banyak muncul setelah memasuki abad ke-20. Kedua, kebanyakan tulisan yang ada mayoritas ditulis kaum terpelajar, atau yang pernah menempuh pendidikan formal. Dengan kata lain, Saleh menuliskan pengalaman hidupnya secara otodidak, dengan mendidik dirinya sendiri.
Baca juga : `Wanita Emas` Sebut Pentingnya Data Terintegrasi Demi Atasi Pandemi Covid-19
Ketiga, tulisan autobiografi pada masa itu hampir semuanya bercorak politik. Amat jarang tulisan dari perspektif selain itu, apalagi dengan corak kehidupan dunia sosio-ekonomi bahari seperti apa yang ditulis Saleh. Keempat, tulisan Saleh sangat kaya akan informasi yang terperinci mengenai kehidupan masyarakat, terutama yang hidup di Pariaman dan Pantai Barat Sumatera. Ia tidak hanya menceritakan dirinya sendiri, tapi juga menulis hal-hal kecil yang dialami dan dilihat tentang daerah yang pernah ia kunjungi maupun orang-orang yang pernah ia datangi.
Terakhir, dalam tulisan Saleh begitu banyak nasihat-nasihat serta panduan hidup. Secara sederhana, boleh jadi Zed ingin menyatakan bahwa yang dilakukan Moehammad Saleh adalah suatu local genius. Meski tidak hadir secara melembaga, namun hadir dalam batasan individu saja, pribadi serta lingkungan Saleh yang saling kait-mengait melahirkan pengalaman yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.