BREAKING NEWS
 

Pasien Wafat Saat Isoman Di Rumah Makin Banyak

“Jam 7 Malam Masih Batuk-batuk, Diantar Makanan Tak Jawab”

Reporter & Editor :
APRIANTO
Minggu, 11 Juli 2021 07:50 WIB
Setelah dimandikan dan dikafani, jenazah pasien Covid-19 yang wafat saat isolasi mandiri di Kawasan Taman Sempur Kaler Bogor, Jawa Barat, dibungkus plastik, disemprot disinfektan, lalu dishalatkan di tempat itu juga, Sabtu (10/7/2021). Sambil menangis, keluarga hanya bisa melihat dari kejauhan, tak bisa ikut mendekati. (Foto: Putu Wahyu Rama/RM)

 Sebelumnya 
Komandan Posko Gabungan yang juga Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Wahyu Pristiawan Buntoro mengatakan, meningkatnya kasus orang meninggal saat isoman disebabkan karena banyaknya rumah sakit yang penuh. Akibatnya, pasien tak punya banyak pilihan selain menjalani isoman. Wahyu mengatakan, kasus seperti ini terjadi hampir terjadi di setiap kabupaten di DIY seperti Gunungkidul maupun Kulonprogo. “Paling banyak terjadi di Sleman,” ujarnya.

Koordinator Analis Twitter LaporCovid-19, Yerikho Setya Adi mengatakan, berdasarkan data diketahui sedikitnya 265 pasien Covid-19 meninggal dunia saat melakukan isoman di rumah. Data itu dihimpun berdasarkan hasil penelusuran tim LaporCovid19 di media sosial seperti Twitter, berita online dan laporan langsung warga ke LaporCovid-19.

Pasien meninggal dunia dalam kondisi sedang isoman di rumah, saat berupaya mencari fasilitas kesehatan, dan ketika menunggu antrean di instalasi gawat darurat (IGD) Rumah Sakit. “Kematian di luar fasilitas kesehatan ini terjadi hanya selama bulan Juni 2021 hingga 2 Juli 2021,” kata Yerikho.

Baca juga : Ogah Divaksin, Tinggalin Aja

Yerikho menyebutkan, sebanyak 265 korban jiwa tersebut tersebar di 47 Kota dan Kabupaten dari 10 Provinsi yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Lampung, Kepulauan Riau, Riau dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara itu, provinsi yang terekam cukup banyak mengalami kematian di luar RS adalah Jawa Barat dengan 97 kematian dari 11 kota/kabupaten.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan pasien Corona meninggal dunia saat menjalani isoman di rumah.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, banyak pasien tidak bisa mendapatkan perawatan di fasyankes karena penuh. “Warga harus mengantre panjang dan akhirnya memilih untuk menjalani isolasi mandiri di rumah,” ujar Nadia.

Baca juga : Anies: Banyak Orang Baik Kasih Bantuan Tanpa Foto-foto

Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Laura Navika Yamani menilai, fenomena ini merupakan dampak dari rumah sakit yang sudah kolaps. Pasien akhirnya tak punya pilihan selain menjalani perawatan di rumah. Padahal, bisa jadi banyak pasien Corona yang membutuhkan perawatan intensif, seperti ruang ICU dan sebagainya.

Agar tak makin banyak korban meninggal dunia, Laura mewanti-wanti agar pasien yang bergejala sedang dan berat tidak melakukan isoman. Pasien lebih baik ikut dalam antrean IGD rumah sakit. Setidaknya ada penanganan yang bisa dilakukan tenaga kesehatan jika terjadi sesuatu.

“Ini jauh lebih baik dibandingkan memaksakan diri melakukan isolasi mandiri di rumah,” ujarnya. Isoman kata dia, hanya untuk pasien tanpa gejala atau bergejala ringan. [BCG]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense