Sebelumnya
Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo mengatakan, seluruh outlet laboratorium milik perusahaan telah menurunkan harga tes PCR mulai 17 Agustus lalu.
Harga tes PCR Swab Test KF sebelumnya seharga Rp 900.000 turun menjadi Rp 495.000, harga swab antigen reagen (regular) dari sebelumnya Rp 190.000 menjadi Rp 85.000, dan swab antigen reagen untuk merk Abbot Panbio semula Rp 190.000 turun menjadi Rp 125.000.
“Begitu aturannya keluar, kami langsung menjalankan arahan itu sebagai bentuk komitmen perusahaan untuk memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat,” katanya, di Jakarta, Rabu (18/8).
Baca juga : Lain Di Atas, Lain Di Bawah
Menurutnya, dengan penurunan tarif tersebut bisa mendorong peningkatan testing dan tracing. Sehingga penyebaran Covid-19 di Tanah Air bisa diantisipasi dengan lebih baik lagi.
“Proyeksi permintaan dari sisi hukum ekonomi, (adanya) penurunan harga akan meningkatkan demand. Tentu hal ini akan sangat baik untuk pencegahan penularan Covid-19,” ungkapnya.
Menanggapi ini, Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Andree Surianta meyakini, penurunan PCR dapat mendukung pengendalian pandemi Covid-19. Karena hal tersebut memacu testing dan tracing untuk membantu penentuan pola penyebaran virus.
Baca juga : Biaya Tes PCR Di Bandara Turun, AP I Prediksi Trafik Penumpang Meningkat
“Permintaan untuk tes PCR kini sudah pasti tinggi. Jadi, jalan untuk menekan harga adalah dengan memastikan berlimpahnya pasokan,” kata Andree kepada, kemarin.
Namun sayangnya, Indonesia belum mampu memproduksi PCR sendiri. Sehingga sepenuhnya masih bergantung pada impor. Artinya, kebijakan mematok harga hanya akan efektif kalau pasokan berlimpah dan semua komponen biaya diketahui pemerintah.
“Jika harga patokan terlalu tinggi, tentu membatasi jumlah konsumen (yang mau tes). Tetapi kalau terlalu rendah, supplier bisa mundur. Sehingga terjadi kelangkaan atau bahkan terbentuknya pasar gelap,” warning-nya.
Baca juga : Para Gubernur Maunya Gratis
Untuk itu, dia menyarankan perlu ditinjau apakah kondisi ini terjadi karena jumlah importir yang terlalu sedikit. Sehingga, untuk menjaga ketersediaan pasokan bisa melibatkan BUMN guna “Penting juga memperhatikan reaksi pasar. Jika setelah harga dipatok malah banyak lab yang tidak menawarkan PCR lagi atau terjadi kelangkaan PCR, berarti harga tersebut tidak bisa menutupi biaya lab,” pungkasnya. [IMA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.