BREAKING NEWS
 

Putu Rudana: Forum Parlemen Indonesia-Pasifik Dorong Konsep Blue Economy

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Sabtu, 27 Juli 2024 10:30 WIB
Wakil Ketua BKSAP DPR Putu Supadma Rudana (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR Putu Supadma Rudana mengatakan, Sidang Kedua Indonesia-Pasific Parliamentary Partnership (IPPP), di Senayan, Jakarta Pusat, menjadi momentum untuk mendorong konsep blue economy, karena negara-negara kepulauan yang menjadi pesertanya dikeliling oleh lautan. Makanya, tema yang diusung dalam forum ini ‘Partnership for Prosperity: Fostering Regional Connectivity and Inclusive Development’.

“Kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, Pasific juga negara-negara kepulauan yang dikelilingi oleh lautan," ucapnya, dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu (27/7/2024).

Putu Rudana melanjutkan, 2 per 3 wilayah Indonesia adalah lautan. Potensi maritim, potensi dari blue economic sangat besar. Indonesia menjadi marine mega-biodiversity karena begitu luasnya.

"Jadi, potensi pertama hubungannya dengan food security kita. Kita harus merawat laut kita, memang blue economic menjadi penting karena perikanan potensinya di situ,” kata Putu.

Baca juga : Putu Rudana: Forum Indonesia-Pasifik Bakal Tingkatan Investasi

Kedua, lanjut Putu, pertanian pesisir dan potensi kepariwisataan penting juga untuk dibuatkan format kerja sama blue economy. Kata dia, ekonomi yang dibangun dengan konsep blue economy akan menjadi sangat luar biasa. Karena, biasanya negara yang dikelilingi oleh lautan itu sangat indah.

“Bayangkan, Indonesia memiliki Raja Ampat, Labuan Bajo, Pulau Komodo, dan Bali serta pulau lainnya. Di Pasifik juga begitu indahnya. Jadi destinasi dan potensi pariwisata begitu besar," terangnya.

Potensi laut juga, kata Putu, tidak kalah pentingnya, baik dari sisi food security. Di laut Pasifik begitu banyak spesies ikan yang dapat dikonsumsi untuk kebutuhan food security. "Makanya, ke depan harus dijaga keberlangsungan potensi laut kita ini,” ujarnya.

Wakil Ketua BKSAP DPR Putu Supadma Rudana (kanan).
Adsense

Selanjutnya, Putu mengatakan, ekonomi ke depan harus dibangun secara sustainable atau berkelanjutan. Potensi ini harus mampu digali untuk kebutuhan peningkatan (growth) dan ekonomi masyarakatnya.

Baca juga : Putu Rudana Minta Pemerintah Perhatikan Lembaga Pendidikan Seni Budaya

“Terakhir, laut juga harus kita jaga preservasinya (pemeliharaan atau perawatan) dan menjaganya agar tetap berkesinambungan, lestari sepanjang masa bagi genearsi berikutnya,” jelas Anggota Inter-Parliamentary Union (IPU) untuk Pembangunan Keberlanjutan ini.

Oleh karenanya, Putu mengatakan, blue economy adalah konsep mendasar negara-negara kepulauan dan memang harus di-mainstreaming. Memang, kata dia, Pemerintah sudah berusaha melakukan ini sehingga dari parlemen ingin terus mendorong perannya. Misalnya, peran parlemen membangun regulasi untuk meningkatkan konsep blue economy.

“Bagaimana afirmasi anggaran, pengawasan kita agar pemerintah betul-betul yakin bahwa konsep blue economy akan memberikan kesejahteraan pada setiap masyarakat, baik Indonesia maupun negara-negara Pasifik. Tentu blue economy ini menjadi konsep ke depan yang patut kita kawal. Tapi, tidak bisa hanya kita gunakan konsep harus ada capacity building, harus ada peningkatan bagaimana kita me-maping laut kita,” ungkapnya.

Terpenting, lanjut dia, menjaga isu-isu climate change, karena potensi laut juga dapat memetakan permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan alam. “Tentu harus ada satu konsep mainstrem untuk melakukan penelitian terhadap laut Indonesia dan laut-laut Pasifik. Ini menjadi sangat penting,” kata Legislator asal Bali ini.

Baca juga : Putu Rudana Dorong Cross Border Tourism di Indonesia

Menurut dia, dalam isu climate chane atau perubahan iklim, mitigasi dan adaptasi climate change, negara maju dan negara kaya sudah menyampaikan komitmennya pada 2020. Kini, komitmen itu harus diwujudkan dengan bantuan 100 miliar dolar AS per tahun. Kalau dihitung sampai sekarang, lanjutnya, mungkin sudah hampir 500 miliar dolar AS.

“Pada saat COP28 di Dubai, kebutuhannya bukan miliar dolar AS lagi tapi triliun dolar ASm Jadi bayangkan, betapa besarnya kebutuhan dana untuk mitigasi dan adaptasi climate change. Sehingga negara-negara maju wajib berkomitmen, karena negara Pasifik langsung nyata dampaknya terjadi. Mungkin kenaikan suhu bumi, kenaikan permukaan air laut. Tentu ini kita perjuangkan bersama,” ujarnya lagi.

Dalam forum ini, Putu mengatakan, Parlemen Indonesia-Pasifik ingin menemukan komitmen sama-sama memperjuangkan isu climate change dalam forum internasional, salah satunya COP29 nanti yang membahas masalah climate finance, climate found.

“Kita bawa Forum IPU agar resolusi di IPU membahas tentang bencana ini, mitigasi ini agar negara maju punya komitmen konkret untuk men-deliver janji-janji mereka dan kita bawa juga ke PBB. Di PBB dipastikan dalam UN GA (United Nation General Assembly) memutuskan bahwa isu penting adalah climate change yang harus ditekel bersama. Ini urgent dan harus nyata segera diselesaikan,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense