Sebelumnya
Melindungi Masyarakat
Dengan begitu, mudah untuk dipahami bersama kalau ancaman penyebaran Virus Corona tak hanya merusak kesehatan manusia, tapi juga memporakporandakan bangunan ekonomi, baik ekonomi skala nasional maupun ekonomi skala global. Kerusakan di sektor ekonomi menjadi sebuah konsekuensi logis, predictable dan sekaligus menjadi kecenderungan yang mudah untuk dipahami bersama pula. Pada saat-saat seperti ini, setiap komunitas dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah karena harus ada yang dikorbankan. Kerja keras membatasi penyebarluasan wabah nCoV-19 otomatis menuntut pengorbanan dari sektor lain, termasuk sektor ekonomi dan semua sub-sektornya.
Saat ini, banyak negara, termasuk Indonesia, tidak hanya sekadar melakukan pembatasan atau lockdown, tetapi juga harus mengeluarkan anggaran ekstra—yang tidak diprediksi atau dialokasikan sebelumnya—semata-mata untuk melindungi semua warga negara dari kemungkinan tertular nCoV-19.
Baca juga : Cegah Corona, AP II Perbanyak Tempat Cuci Tangan dan Perluas Penyemprotan Disinfektan
Tak hanya alokasi anggaran, bahkan waktu, tenaga serta pikiran seluruhnya fokus pada upaya cegah tangkal penyebarluasan wabah nCoV-19. Dan, sudah terbukti bahwa upaya komprehensif untuk cegah tangkal itu ternyata sangat tidak mudah. Lihatlah buktinya. Hanya dalam hitungan dua-tiga minggu sejak kasus pasien positif Covid-19 terdeteksi di Depok, total pasien Covid-19 di dalam negeri pada pekan kedua Maret 2020 sudah berjumlah 450 pasien dan tersebar di 16 provinsi.
Pada saat yang sama, semua kepala pemerintahan bersama jajaran menteri ekonomi juga bekerja ekstra keras agar kinerja perekonomian negara tidak lumpuh. Alih-alih memacu pertumbuhan ekonomi sesuai target yang telah diproyeksikan, mencegah kerusakan di sejumlah sektor pun menjadi pekerjaan tidak mudah. Kerusakan di sektor pariwisata, jasa penerbangan dan hotel sangat nyata. Begitu juga di sektor perdagangan antar-negara (ekspor-impor). Kerusakan di sektor ekonomi saat ini bahkan sudah memunculkan perkiraan tentang potensi resesi ekonomi global. Dalam situasi seperti sekarang, yang bisa dilakukan setiap negara adalah menerapkan sejumlah kebijakan stimulus agar perekonomiannya tidak mengalami kerusakan yang kelewat serius. Langkah yang sama juga dilakukan Indonesia.
Baca juga : Hasil Sidak Mentan Sembako Aman, Masyarakat Tak Perlu Panic Buying
Sejumlah pihak sering menggambarkan kerusakan ekonomi Indonesia dari gambaran fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kalau nilai tukar saat ini sudah menyentuh level Rp 16.000 per dolar AS, depresiasi rupiah seperti itu sejatinya predictable, karena para pengelola dana (fund manager) menggeser penempatan dana ke negara-negara yang perekonomiannya relatif belum mengalami kerusakan akibat wabah nCoV-19. Sangat disayangkan karena ada saja pihak yang terus mendramatisasi fluktuasi nilai tukar valuta. Padahal dramatisasi seperti itu berpotensi menambah rasa takut masyarakat. Hal-hal seperti ini tak patut dilakukan ketika sebagian besar masyarakat masih diselimuti gelisah dan cemas oleh pandemi virus corona.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.