BREAKING NEWS
 

Permintaan Senator Kalsel: Vaksin Murah Covid-19 Perlu Disiapkan

Reporter & Editor :
KRISTANTO
Rabu, 13 Mei 2020 21:01 WIB
Ketua Badan Kerja Sama Parlemen (BKSP) DPD RI Gusti Farid

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Kerja Sama Parlemen (BKSP) DPD RI menyambut baik deklarasi Pertemuan Puncak Online Gerakan Non-Blok (GNB) Untuk Menghadapi Covid-19 ( The Online Summit Level Meeting of the Non-Aligned Movement (NAM) Contact Group in Response to COVID-19 ) pada 4 Mei 2020 yang lalu. 

Pertemuan tersebut diketuai Presiden Azerbaijan, Ilham Aliev, dan dihadiri 120 negara anggota. Termasuk Indonesia, serta wakil-wakil dari Uni Eropa, Uni Afrika, WHO dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa.

"Hasil dari pertemuan itu, intinya dua, yaitu pendekatan multilateralisme dan pembentukan gugus tugas GNB," kata Gusti Farid Hasan Aman, Ketua BKSP DPD RI. 

Baca juga : Perintah Wamen ke RS BUMN: Persiapkan Penanganan Covid-19 Lebih Cepat

Menurut Gusti Farid, pendekatan multilateralisme dilakukan agar semua negara-negara Non Blok dapat berkonsentrasi menyelamatkan nyawa umat manusia. Terutama di negara-negara yang tidak atau  relatif terbatas sumber daya kesehatan dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini.

"Kunci penanganan Covid-19 ini ada di pengembangan vaksin, sehingga ketersediaan vaksin yang murah perlu disiapkan," lanjut Gusti Farid, senator dari Kalimantan Selatan.

Adsense

Gusti Farid memahami bahwa setiap negara tentu mengutamakan ketersediaan alat uji Covid-19 dan perlindungan diri untuk tenaga medis dan warganya terlebih dahulu. 

Baca juga : Penerapan PSBB Turunkan Jumlah Kasus Positif Covid-19 Di DKI

Namun di sisi lain menurutnya, persaingan antar negara tersebut tidak boleh menutup akses peralatan karena situasi  genting di sebuah negara.

"Negara-negara seperti Amerika Serikat, Rusia, telah melakukan uji Covid-19 ke jutaan warganya. Sementara banyak negara lain masih pada kisaran puluhan atau ratusan ribu," kata Gusti Farid kembali.

Ketua BKSP DPD ini berharap agar semua pihak dapat menyiapkan strategi keluar atau exit strategy dalam menghadapi pandemi ini.

Baca juga : 19 Pekerja Migran Ilegal Diamankan Bakamla RI

"Ada negara yang kurvanya turun atau mulai turun, ada yang masih menanjak atau belum melewati fase krisis. Atau ada juga yang bersiap menghadapi bahaya gelombang kedua atau ketiga pandemi ini. Jadi, memang harus dipikirkan exit strategi agar pandemi ini bisa dikendalikan secara menyeluruh dan kita semua dapat berpikir menghidupkan perekonomian negara," kata Gusti Farid.

Dia berharap penyusunan kebijakan exit strategy tetap berbasis kepada sains (ilmu pengetahuan) dan bukan karena keputusan yang terburu-buru.

"Exit strategy Covid-19 harus tetap mempertimbangkan data saintifik terbaik, untuk mencegah potensi ledakan infeksi virus ini apabila pembatasan sosial akan dilonggarkan," kata Gusti Farid mengakhiri pernyataan persnya. [KRS]
 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense