Sebelumnya
400.000 Anak Terdiagnosis Kanker Per Tahun
Kepala Bagian Anak RS Kanker Dharmais, dr. Haridini Intan, SpA(K) mengungkapkan, data WHO mencatat sekitar 400.000 anak dan remaja setiap tahun terdiagnosis kanker. Sedangkan di Indonesia, tercatat 11.000 anak setiap tahun terdiagnosiskanker.
Jenis kanker yang sering terjadi pada anak, jelas Haridini, antara lain adalah leukemia, lymphoma dan tumor syaraf pusat. Permasalahan yang dihadapi dalam penanganan kasus kanker itu, menurut dia, adalah masalah diagnostik dalam upaya mendeteksi kanker pada anak, seperti keterlambatan diagnostik dan keterbatasan pemeriksaan.
Baca juga : Syarief Hasan: Segera Perbaiki Asrama Haji Yang Rusak
Menurut Haridini, saat ini dibutuhkan sistem pencatatan data (registry kanker anak) yang baik untuk mengetahui besaran masalah dengan lebih baik sebagai dasar pembuatan kebijakan pemerintah. Karena itu, jelasnya, dibutuhkan pendanaan yang memadai dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi diagnosis dan tata laksana kanker pada anak.
Ketua Pokja UKK Hematologi/Onkologi, Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Bambang Sudarmanto mengungkapkan, dari sekitar 4.000 dokter anak, hanya 50 dokter anak yang memiliki keahlian dalam penanganan kanker. Kondisi ini ujar Bambang, diperburuk lagi dengan penyebaran dokter yang belum merata atau hanya terpusat di Pulau Jawa. Padahal, ujarnya, jumlah penderita kanker anak jumlahnya 20 persen dari total jumlah penderita kanker.
Sebagian besar penderita kanker anak, menurut Bambang, dapat diobati dengan kemoterapi dan sebagian dengan bedah dan radioterapi. Namun, tambahnya, penyebab kematian akibat kanker anak sering terjadi akibat keterlambatan diagnosa, terjadi hambatan akses fasyankes dan kasus dropout pengobatan akibat kurangnya pengetahuan.
Baca juga : Bappenas Perkuat Peran Inklusi Sosial Perpustakaan
Juliana Hanaratri dari Ikatan Perawat Anak Indonesia (IPANI) berpendapat, dalam penanganan kasus kanker anak para perawat harus terus berupaya meningkatkan keterampilannya, sesuai standar minimal yang ditetapkan International Society of Padriatic Oncology (SIOP).
Standar minimal tersebut, jelas Juliana, antara lain perawat kanker anak tidak disarankan terlalu sering dirotasi agar memiliki waktu yang cukup untuk melakukan orientasi terhadap kondisi pasien, pendidikan berkelanjutan dan memperkuat team work, karena penanganan kanker anak berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.
Ketua DPP Partai NasDem Bidang Kesehatan Okky Asokawati berpendapat bila dilihat dari perbedaan survivor rate yang cukup besar antara negara maju (80 persen) dan negara berkembang (20 persen), bisa diartikan dengan penanganan yang lebih baik, anak bisa survive bahkan sembuh dari serangan kanker.
Baca juga : Kemnaker Perkuat Sinergitas Ketenagakerjaan Dengan SPB
Karena itu, tegas Okky, para pemangku kepentingan harus berlomba-lomba agar survivor rate kanker anak di Indonesia bisa seperti di negara-negara maju dengan segera memperbaiki tata kelola dan fasilitas penanganan kanker terhadap anak di tanah air.
Ketua Yayasan Anyo Indonesia (YAI) Pinta Manullang Panggabean mengungkapkan, pihaknya berupaya ikut serta menyelamatkan anak-anak yang menderita kanker di Indonesia, antara lain lewat bantuan transportasi, rumah inap saat berobat ke rumah sakit dan pendampingan bagi anak dan orang tuanya.
Dia menambahkan, komitmen para pemangku kepentingan di pusat dan daerah harus kuat dalam upaya penanganan kasus kanker anak di Indonesia dengan berbasis data yang akurat, agar penanganan kanker anak di tanah air lebih terarah dan efektif untuk meningkatkan survivor rate penderita kanker anak di Indonesia. [TIF]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.