Dewan Pers

Dark/Light Mode

BPIP: Pengukuran Implementasi Pancasila Penting Bagi Bangsa

Jumat, 20 Agustus 2021 19:41 WIB
Deputi Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP Prakoso. (Foto: Ist)
Deputi Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP Prakoso. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menilai pentingnya pengukuran implementasi nilai Pancasila di sekolah dalam skala mikro. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana pembangunan karakter bangsa tertanam pada para siswa didik. Dengan begitu, harapan membangun manusia unggul berorientasi pencapaian kinerja bisa diwujudkan.

Hal tersebut disampaikan Anggota Dewan Pengarah BPIP Sudhamek saat memberi wejangan dalam 'Workshop Implementasi Skala Mikro Indeks Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dengan Global Sevilla', Jumat (20/8). Acara yang digelar secara daring ini merupakan kerja sama Kementerian Pendidikan Kebudayaan  Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dan Sekolah Global Sevilla School Pulo Mas.

Hadir dalam acara Deputi Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP Prakoso serta jajaran dari Kemendikbud Ristek, Bappenas, dan BPS.

Sudhamek menambahkan, sering kali kegiatan berbangsa dan bernegara itu berhenti dalam tataran makro saja. Padahal yang terpenting adalah tataran mikro. Misalnya dalam pembangunan karakter bangsa.

Berita Terkait : Implementasikan Pancasila Dan Semangat Kebhinekaan Di Kampus

"Kita tidak pernah tahu apa yang kita cita-citakan dalam tataran makro termanifestasi dalam tataran mikro," kata Sudhamek.

Mantan Anggota Komite Ekonomi Industri Nasional ini lalu berkisah soal kegiatan pembangunan karakter bangsa di era Orde Baru. Kata dia, rumusan 36 butir dalam penataran P4 Pancasila sangat luar biasa dan mengagumkan. Namun belum berwujud ideal. Menurut dia, salah satu penyebab masalahnya adalah dalam hal pengukuran.

"Padahal sebagai bangsa dan negara, kita punya infrastruktur dan suprastruktur untuk pengukuran dalam skala makro sampai mikro," terangnya.

Karena itu, Sudhamek merasa BPIP dan Kemendikbud Ristek punya tanggung jawab dalam implementasi aktualisasi nilai-nilai Pancasila di sekolah sampai perguruan tinggi nantinya bisa diukur secara mikro.

Berita Terkait : Pengusaha Logistik Dukung Kemendag Cetak Surplus Perdagangan

"Kalau itu bisa dilakukan keinginan kita membangun manusia yang berorientasi pencapaian kinerja bisa diwujudkan," ucapnya.

Menurut Sudhamek, hidup ini kalau disederhanakan ada dua jenis kegiatan. Yaitu yang menciptakan nilai tambah, dan yang tidak. Jadi secara umum ada dua jenis manusia di negara maju maupun berkembang. Inilah yang membedakan kenapa ada dua orang yang sama-sama sibuk tapi yang satu berhasil dan yang satu tidak. Yang membedakan adalah orang yang satu  bisa menciptakan nilai tambah. Satu lagi sibuk tapi tidak menciptakan nilai tambah. "Disitulah  pengukuran menjadi kunci," tekannya.

Sudhamek mengingatkan, pengukuran perlu dirumuskan dahulu. Tidak serta merta sim salabim langsung selesai.

Sementara itu, Prakoso berharap setelah workshop ini terbentuk Gugus Bersama yang bisa melakukan asesmen dalam skala mikro di sekolah Global Sevilla.

Berita Terkait : Pandemi Mengajarkan Kita Saling Bantu, Semampu Yang Kita Bisa

Kata Prakoso, sebelumnya BPIP telah membahas indikator nilai-nilai Pancasila yang akan diukur secara makro bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik dan Bappenas. Alhasil, perlu diukur pula secara mikro apa saja yang telah diimplementasikan dalam aktualisasi nilai Pancasila di Global Sevilla.

Dalam perjalanannya nanti akan dilihat bagaimana proses belajar mengajar, kurikulum, guru, sarana dan pra sarana. Kelak, pengalaman yang telah diajarkan di Global Sevilla akan diimplementasikan di dunia pendidikan mulai dari PAUD, TK sampai perguruan tinggi.

Sekadar latar saja, salah satu sekolah percontohan yang menerapkan nilai-nilai Pancasila adalah Global Sevilla. Sekolah ini dinilai mampu menerapkan pendidikan karakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila kepada pendidik dan siswa. Diantaranya menghargai keberagaman,  rutin mengunjungi rumah panti jompo setiap tahun, dan mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak yatim piatu di panti asuhan. [BCG]