BREAKING NEWS
 

Waspadai FOMO: Kecanduan Berita Viral, Sulit Fokus pada Hal yang Lebih Penting

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Kamis, 22 Agustus 2024 16:23 WIB
Flyer Literasi Digital mengenai FOMO yang digelar Kemkominfo bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung, di Lampung Selatan, Kamis (22/8/2024). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Fear of Missing Out alias FOMO merupakan fenomena psikologis yang semakin umum di era digital. Banyak orang merasa tertekan untuk selalu terhubung dan mengikuti perkembangan terbaru. Hal ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan kesejahteraan individu secara keseluruhan.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Lampung Selatan Andwika Cahyani Jelisia saat menjadi narasumber dalam webinar Literasi Digital yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, di Lampung Selatan, Kamis (22/8/2024).

Dalam diskusi untuk segmen pendidikan yang diikuti siswa dan tenaga pendidik itu, Andwika mengatakan, seseorang yang mengalami FOMO memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah. Sebab, orang tersebut terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. 

Gejala FOMO misalnya selalu mengecek gadget, lebih peduli dengan media sosial daripada kehidupan nyata, selalu ingin tahu kehidupan orang lain, ingin tahu gosip terbaru, dan mengeluarkan uang melebihi kemampuan,” jelas Andwika dalam diskusi bertajuk ”Fenomena FOMO, Kritis Terhadap Berita Viral” yang dipandu moderator Firdha itu.

Baca juga : Bupati Mahulu Harap Prabowo Subianto Dukung Owena Mayang Shari Jadi Penggantinya

Andwika menerangkan, media sosial berperan besar dalam menciptakan FOMO. Dengan berbagai platform yang menawarkan informasi cepat, ada sebagian orang merasa tertekan untuk selalu terhubung dan mengikuti setiap berita yang viral. 

”Kita terjebak dalam FOMO, karena kebutuhan untuk merasa relevan dan terhubung dengan orang lain. Ketika melihat orang lain menikmati sesuatu, kita merasa terdorong untuk ikut serta, meskipun itu tidak selalu sesuai dengan minat kita,” ujar Andwika.

Kecanduan terhadap berita viral, sambung Andwika, membuat seseorang sulit fokus pada hal-hal yang lebih penting. Orang tersebut seringkali menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengikuti berita yang sebenarnya tidak berdampak pada kehidupannya.

Adsense

Dia lalu membagikan tips untuk mengatasi FOMO. Pertama, mengatur waktu penggunaan media sosial. Kedua, berfokus pada pengalaman pribadi. Ketiga, berlatih mindfulness. “Dengan cara ini, kita bisa mengurangi kecemasan yang ditimbulkan oleh FOMO,” tutup Andwika dalam diskusi yang diikuti para pelajar dengan menggelar nonton bareng (nobar) dari sekolah masing-masing.

Baca juga : Raih Emas Di Olimpiade, Menpora Ucapkan Terima Kasih Pada Atlet Panjat Tebing

Sejumlah sekolah yang menggelar nobar diskusi online di Kabupaten Lampung Selatan dan sekitarnya antara lain SMPN 4, SMPN 5, dan SMPN 6 Natar, SMPN 1 dan SMPN 2 Tanjungsari, SMA Tri Sukses Natar, SMAN 1 Bangunrejo, SMP YBL dan SMP Wiyata Bhakti Natar, SMAN 1 Sidomuyo, SMP Qur’an Darul Fattah, SMAN 1 Merbau Mataram, dan SMAN 1 Ketapang.

Dari sudut pandang berbeda, dosen ilmu komunikasi sekaligus Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur Eko Pamuji mengatakan, FOMO semakin sering terdengar seiring dengan berkembangnya media sosial. Cepatnya arus informasi yang ada di media sosial membuat banyak orang berlomba-lomba untuk terus mengikuti zaman. 

”Tanpa sadar, masyarakat kemudian menjadi kecanduan dan merasakan kecemasan apabila tertinggal dari tren yang ada di media sosial,” ucap Eko Pamuji.

FOMO dipicu oleh penggunaan gadget yang berlebihan, membandingkan diri dengan orang lain, kurangnya rasa bersyukur, dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. ”FOMO bisa dihindari dengan fokus pada diri sendiri, membangun hubungan sosial dengan orang sekitar, menghargai diri sendiri, membatasi penggunaan smartphone dan media sosial, dan bersyukur,” pungkas Eko Pamuji.

Baca juga : Dinilai Lamban, Juara Bertahan Pulang Lebih Cepat

Semetara Sekretaris Yayasan Pendidikan Cendekia Utama Meithiana Indrasari meminta pelajar peserta diskusi lebih baik membuat konten kreatif budaya sendiri daripada ikut FOMO. ”Budaya asli Nusantara tersebar dari Sabang hingga Merauke. Buat konten sesuai nilai Pancasila dan sebarkan lewat media sosial,” sarannya.

Nobar diskusi seperti digelar di Kabupaten Lampung Selatan ini merupakan bagian dari program Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD). GNLD digelar sebagai salah satu upaya untuk mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan hingga kelompok masyarakat menuju Indonesia yang #MakinCakapDigital. 

Sejak dimulai pada 2017, sampai dengan akhir 2023 program ini tercatat telah diikuti 24,6 juta orang. Kegiatan ini diharapkan mampu menaikkan tingkat literasi digital 50 juta masyarakat Indonesia hingga akhir 2024.

Kecakapan digital menjadi penting, karena menurut hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pengguna internet di Indonesia pada 2024 telah mencapai 221,5 juta jiwa dari total populasi 278,7 juta jiwa penduduk Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense