Sebelumnya
Perang Rusia-Ukraina, misalnya, kalau kedua negara tak punya etika perang, ugal-ugalan menggunakan senjata nuklir, sangat berbahaya.
Dalam dunia hukum juga demikian. Hakim, sebagai wakil Tuhan di muka bumi, punya kuasa tak terhingga. Di tangannya nasib manusia ditentukan.
Baca juga : Crazy Rich, Bukan "Crazy Law"
Hakim serta para penegak hukum lainnya, bisa memberi dalih apa pun untuk meringankan atau memberatkan hukuman terdakwa, masuk akal atau tidak. Tapi, tetap saja tak bisa semena-mena. Tak boleh bersikap “bodo amat” dan mentang-mentang.
Politik, walaupun sering disebut sebagai seni menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, tetap harus mengedepankan etika atau moral.
Baca juga : "Demokrasi 41.839 Jam"
Salah satu etika itu, misalnya, mematuhi rambu-rambu demokrasi yang sudah diperjuangkan dan disepakati bersama. Jangan justru dirusak. Negara ini telah berjuang, melalui beberapa tahap penting yang menggelisahkan serta menggetarkan: pada 1945, 1965 serta 1998. Ini cermin. Juga tonggak penting.
Ketika etika dan moral politik serta hukum diabaikan, yang muncul adalah sikap mentang-mentang serta “bodo amat”. Mata dan telinga tertutup.
Baca juga : Kendali Diri, Kendalikan Harga!
Ini bisa membuat pilar kokoh jadi keropos. Sangat berisiko. Juga mendebarkan. Seperti balon indah warna-warni yang terbang mendekati mawar berduri. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.