BREAKING NEWS
 

Rupiah Payah Jangan Pasrah

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Jumat, 27 Oktober 2023 00:17 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Kondisi nilai tukar rupiah belum juga pulih. Masih betah di angka sekitar Rp 15.800-Rp 15.900 per dolar AS. Lemahnya nilai tukar rupiah sudah terjadi sejak awal 2023 dan akhir-akhir ini semakin payah. Melihat kondisi ini, para pejabat kita menampilkan sikap tetap tenang. Namun, kita tidak tahu di balik hal itu, apa mereka pasrah karena tak mampu mendongkrak kembali nilai rupiah.

Sikap tenang itu diperlihatkan Presiden Jokowi, Menteri Keuangan Sri Mulyani, juga pihak Bank Indonesia (BI). Jokowi bilang, nilai tukar rupiah saat ini masih aman. Sri Mulyani menyatakan, pelemahan rupiah belum berdampak signifikan pada belanja subsidi. Sementara, BI menyebut, pelemahan rupiah masih terkendali.

Baca juga : Rumah Firli Bahuri Digeledah, KPK Pasrah

Selama ini, para pejabat kita sering berlindung dengan kata-kata, “dolar sedang menguat terhadap semua mata uang”. Kondisi itu memang benar. Namun, pelemahan mata uang lain terhadap dolar AS tak separah rupiah.

Adsense

Pada pembukaan perdagangan Kamis (26/10) kemarin, rupiah melemah 0,34 persen terhadap dolar AS. Dibanding mata uang lain di Asia, rupiah menjadi salah satu yang pelemahannya tertinggi. Contohnya, baht Thailand melemah 0,18 persen, yen Jepang turun 0,01 persen, ringgit Malaysia anjlok 0,13 persen, dolar Hong Kong turun 0,02 persen, dolar Singapura minus 0,07 persen, dan peso Filipina turun 0,17 persen. Penurunan nilai tukar rupiah hanya kalah dari won Korea Selatan, yang melemah 0,41 persen.

Baca juga : Suhu Memanas, Jangan Lupa PR

Rupiah tak hanya melemah terhadap dolar AS, dengan mata uang lain juga keok. Contohnya, terhadap euro, rupiah melemah 0,21 persen ke level Rp 16.807. Lalu, dengan poundsterling, rupiah turun 0,19 persen ke level Rp 19.258.

Untuk para eksportir, pelemahan rupiah ini menjadi cuan. Sebab, harga barang yang mereka jual ke luar negeri menjadi lebih mahal. Pemerintah juga menikmati hal ini dengan kenaikan pajak dan bea keluar.

Baca juga : Prabowo Masih Joget-joget

Namun, keuntungan ini tidak sebanding dengan beban yang akan ditanggung masyarakat luas. Dengan pelemahan rupiah, harga barang, terutama yang berasal dari impor, akan terkerek. Dan yang paling terasa adalah harga BBM. Dengan nilai tukar dolar naik ditambah harga minyak dunia melambung, otomatis harga BBM juga naik.

Untuk itu, pelemahan rupiah ini tidak boleh dianggap wajar. Pemerintah tidak boleh pasrah dengan kondisi ini. Harus ada langkah-langkah konkret dan efektif untuk menguatkan kembali rupiah. Sebab, jika lepas begitu saja ke mekanisme pasar, bukan tidak mungkin rupiah melewati Rp 16.000 per dolar AS, angka yang pernah tercapai saat krisis moneter 1998.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense