BREAKING NEWS
 

Klub Presiden Yang Didambakan

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Selasa, 7 Mei 2024 06:25 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Hubungan antar presiden di Indonesia tak pernah harmonis dan bulat. Ada saja yang sulit disatukan. SBY dengan Megawati sudah cukup lama mengalami perang dingin. Sekarang, giliran Jokowi dengan Megawati yang hubungannya dipertanyakan.

Karena itu, ide Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk membentuk Presidential Club, layak diapresiasi. Wadah silaturahmi antar presiden dengan para mantan presiden ini, bisa menyatukan hubungan yang retak.

Selain itu, Presidential Club juga bisa menyatukan serta menguatkan ide-ide untuk membangun bangsa dan negara. Presiden (terpilih) Prabowo bisa meminta masukan dari para mantan Presiden untuk menyusun peta jalan Indonesia ke depan.

Hubungan yang harmonis di antara para mantan Presiden, juga bisa menjadi teladan yang baik bagi rakyat Indonesia yang masih menganut “patron-client”.

Namun, pembentukan Presidential Club tak semudah yang dibayangkan. Kritikan datang dari PDI Perjuangan dan PKS. Dua parpol yang disebut-sebut akan menjadi oposisi (2024-2029) ini kurang sreg dengan ide Presidential Club.

Baca juga : Calon Menteri Yang Steril

Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat mengatakan bahwa usulan pembentukan Presidential Club hanya gimik politik yang bisa menggambarkan bahwa Prabowo kurang pede dalam mengemban tanggungjawab.

“Usulan tersebut bisa jadi cuma basa-basi atau gimik politik agar Pak Prabowo terlihat sebagai seorang negawaran sejati,” kata Djarot.

PKS juga menilai, Presidential Club tidak diperlukan karena sudah ada Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Adsense

Di pihak lain, parpol-parpol koalisi pendukung Prabowo-Gibran menyatakan setuju dan menyambut baik ide pembentukan Presidential Club. Presiden Jokowi, juga setuju. Kalau perlu, kata Jokowi, pertemuannya bisa dua hari sekali.

Kita menunggu, apakah Presidential Club akan dilembagakan atau tidak. Atau, hanya sekadar forum silaturahmi informal.

Baca juga : Kita Menunggu Menteri Terbaik

Apa pun bentuknya, bangsa ini perlu melembagakan proses peralihan kepresidenan yang baik dan bermartabat. Proses yang smooth bisa menjadi obat bagi rakyat yang terpolarisasi akibat perbedaan pilihan politik.

Ide pembentukan Presidential Club sebenarnya bukan hal baru. Di era SBY dan Jokowi, juga ada yang menggaungkannya. Ide ini sudah didambakan sejak lama.

Prabowo yang relatif tidak memiliki kendala psikologis dengan tiga mantan Presiden sebelumnya, bisa saja merealisasikan Presidential Club.

Di Amerika Serikat, Presidential Club dinilai cukup berhasil (kecuali di era Trump). Hampir semua Presiden petahana memberikan tugas khusus kepada para pendahulunya. Terutama dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Para mantan Presiden juga menyadari bahwa mereka tidak mau terlibat terlampau jauh dalam urusan politik praktis karena bisa menimbulkan kegaduhan.

Baca juga : Kita Butuh Oposisi Seperti Apa?

Dengan saling menghargai seperti itu, dua Presiden yang dianggap sebagai musuh bebuyutan George Bush dan Bill Clinton bisa menjalin persahabatan seusai lengser.

Pada tahun 2005, Presiden George W. Bush mengirim ayahnya, Bush Sr, untuk melakukan perjalanan keliling dunia bersama Clinton setelah tsunami menghantam Samudera Hindia. Termasuk Indonesia.

Setelah Badai Katrina, duo ini (yang oleh Barbara Bush disebut sebagai “pasangan aneh”) juga terus bahu membahu mengumpulkan sumbangan. Persahabatan “dua musuh dan sahabat” yang tergabung dalam Presidential Club ini menjadi teladan abadi yang sangat menyentuh.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense