RM.id Rakyat Merdeka - Zohran Mamdani mengukir sejarah baru. Dia memenangi pemilihan dan menjadi Wali Kota New York City ke- 111. Dia Asia Selatan pertama. Seorang muslim. Dia menjadi wali kota termuda dalam 104 tahun terakhir. Usianya sekarang, 34.
Kemenangannya bisa disebut sebagai guncangan politik. Dia mobilisasi akar rumput sehingga bisa mengalahkan mesin politik establishment yang telah lama berkuasa. Ini studi kasus yang menarik. Bukan hanya bagi Amerika, tapi juga bagi dunia.
Dia lahir jauh dari New York. Di Uganda, Afrika. Dia datang ke New York pada usia tujuh tahun dan bersekolah di sekolah negeri.
Latar belakangnya unik. Ibunya, Mira Nair, sutradara film terkenal. Ayahnya, Mahmood Mamdani, seorang penulis dan profesor di Columbia University. Istrinya, seorang seniman asal Suriah.
Baca juga : Rutinitas Korupsi Kenapa Berulang?
Keluarga terpelajar menjadi fondasi kuat bagi Mamdani yang kemudian menggeluti aktivisme kerakyatan. Dia membela mereka yang terpinggirkan, komunitas yang dilihatnya setiap hari di New York. Pada 2021, Mamdani pernah ditangkap saat melakukan aksi menuntut keringanan utang bagi pengemudi taksi.
Dia kemudian mencalonkan diri untuk pemilihan wali kota New York City. Mamdani yang kurang terkenal menantang kemapanan lama. Dia melawan Andrew Cuomo yang memiliki nama besar. Cuomo, mantan gubernur New York, memiliki koneksi politik luar biasa, luar dalam. Donald Trump bahkan berupaya keras menjegal Mamdani.
Kemenangan Mamdani menjadi pelajaran hebat, termasuk panggung politik yang kerap kali didominasi tokoh-tokoh mapan, dinasti politik, atau mereka yang memiliki modal besar.
Mamdani tidak menjual narasi dirinya sebagai politisi paling kompeten, tetapi berbicara langsung menyentuh kebutuhan dasar rakyat: biaya hidup yang terjangkau, perumahan yang layak, dan transportasi yang mudah diakses.
Baca juga : Seperti Api Di Musim Panas
Mantan rapper dengan nama panggung “Mr. Cardamom” ini melakukan komunikasi politik model advokasi. Terjun langsung menyentuh kehidupan riil di tengah masyarakat. Dia berbicara bersama rakyat, bukan kepada rakyat.
Kemenangan Mamdani di kota paling multikultural di dunia, membawa pesan kuat tentang toleransi dan keberagaman. Dia mengorganisir kelompok masyarakat dari berbagai suku, agama, ras, dan latar belakang untuk tujuan bersama yang lebih besar. Tujuan itu melampaui SARA.
Kunci lain dari kemenangan wakil dari Partai Demokrat ini adalah kemampuannya memobilisasi pemilih muda. Dia memanfaatkan media sosial, terutama TikTok, dengan cara yang kreatif untuk menyebarkan pesan politiknya. Dengan cara ini, dia menarik perhatian generasi muda yang sebelumnya apolitis.
Di Indonesia, yang memiliki populasi muda yang besar, ini menjadi cetak biru yang sangat relevan. Banyak anak muda yang sinis terhadap politik konvensional dapat digerakkan kalau ada figur yang kapabel, berintegritas, berani, dan menawarkan solusi radikal terhadap masalah yang mereka hadapi.
Baca juga : Demokrasi Di Atas Awan
Kemenangan Mamdani mengirimkan pesan jelas: politik tidak harus dikuasai oleh mereka yang mapan secara politis, koneksi atau modal.
Untuk Indonesia, ini bisa jadi inspirasi untuk menyegarkan kembali budaya politik. Kemenangan Mamdani menjadi studi kasus bagaimana mendekati, menggerakkan dan menyatu bersama kekuatan akar rumput.
Siapa yang mau mengikuti jejak Mamdani? Relevankah untuk Indonesia saat ini? Atau, kalau Mamdani berkiprah di negara lain, dia dikondisikan hanya untuk menjadi seorang komisaris?
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.