RM.id Rakyat Merdeka - Bagaimana nasib generasi global yang sekarang tumbuh bersama peperangan?
Dulu, perang datang lewat koran pagi. Atau siaran berita malam yang sudah disunting rapi. Kita di Indonesia sering menyaksikannya lewat program Dunia Dalam Berita. Program itu sangat digemari pada masanya.
Saya ingat pernah juga mendapatkan majalah LIFE. Majalah bekas. Foto-foto perang di majalah itu sangat mengagumkan. Tentu saja semuanya sudah disortir oleh redaktur foto dan pimpinan media. Foto-foto itu tidak mentah. Sudah dipilih dan dipertimbangkan.
Foto-foto yang disertai esai visual yang kuat itu tidak hanya “berbicara”. Foto-foto itu juga menggerakkan. Bukan untuk melahirkan perang baru, tetapi justru memantik kesadaran. Dari sana lahir gerakan dan generasi anti perang.
Baca juga : Potong Rumput, Piara Monster
Bahkan, kalau tidak salah, petinju legendaris Muhammad Ali rela melepaskan gelarnya karena menolak ikut berperang di Vietnam. “Untuk apa saya memerangi orang yang tidak saya kenal,” kira-kira begitu kata Ali.
Sekarang situasinya berubah. Perang hadir dalam genggaman. Di layar ponsel. Di sela waktu istirahat sekolah. Di kamar tidur anak usia belasan tahun.
Ada video ledakan yang meluluhlan-takkan gedung. Tanpa sensor. Mayat tanpa filter. Jeritan anak-anak yang terus berulang. Rudal berseliweran seperti burung besi yang kehilangan arah, namun meninggalkan duka.
Anak-anak di pelosok Indonesia yang jaringan internetnya tersendat-sendat menikmati gambar atau video yang sama dengan anak-anak di apartemen mewah di New York. Mereka berbagi pengalaman global yang sama. Mungkin juga trauma global. Lambat laun pengalaman itu menjadi budaya global.
Baca juga : Perang Di Ujung Jari
Apa dampaknya? Kekerasan terasa sebagai arus biasa. Empati terkikis sedikit demi sedikit. Generasi muda tumbuh lebih sinis terhadap gagasan perdamaian.
Jika terus dibiarkan, generasi pemimpin dunia hari ini, Trump cs, sedang membentuk generasi baru yang hidup dalam kewaspadaan permanen. Cemas. Trauma. Saling curiga antarbangsa dan ras. Mudah tersulut. Dunia terasa selalu berada di ambang kehancuran.
Namun, bisa juga muncul sisi sebaliknya. Paparan global ini justru dapat melahirkan generasi yang lebih sadar, lebih kritis, dan lebih peduli. Generasi yang lebih mencintai perdamaian. Generasi yang lebih tegas menolak perang.
Namun, ada syaratnya. Harus ada bimbingan di sekolah. Harus ada literasi yang memadai. Literasi yang dapat disisipkan dalam berbagai mata pelajaran, atau bahkan melalui program khusus.
Baca juga : Mesin Politik, Mesin Dapur
Para pemegang otoritas pendidikan perlu memikirkan bentuk literasinya. Bagaimana cara pengajarannya. Kita tidak ingin “pengalaman global” ini berubah menjadi new normal yang melahirkan genrasi yang cemas dan kehilangan arah.
Kita tidak berharap lahir “generasi perang” yang berdiri bingung di persimpangan zaman. Generasi yang dibentuk oleh ambisi dan kepentingan generasi (pemimpin) saat ini.
Ketika rombongan rudal menghiasi langit, gedunggedung hancur dan mayat berserakan, Michael Jackson dari alam sana meluncurkan pesan penting lewat lagunya:
Heal the world, make it a better place For you and for me, and the entire human race.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.