BREAKING NEWS
 

Jeda Perang Dan Pasar Kebayoran

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Kamis, 23 April 2026 06:18 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (21/4/2026) menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu. Keputusan ini hanya beberapa jam sebelum tenggat berakhir.

Ini bukan keputusan biasa. Ini Bukan sekadar jeda. Perang tidak dihentikan, tetapi digantung. Tanpa kepastian. Tanpa akhir. Sepertinya, Trump sedang mengubah cara bagaimana perang itu dimenangkan. Iran menyadari strategi itu.

Selama tujuh pekan, konflik antara AS/Israel Vs Iran mengguncang lebih dari sekadar perang kawasan. Konflik ini mengganggu rantai pasok global. Mengerek harga energi. Membuat pasar gelisah.

Dalam kondisi seperti itu, setiap hari tanpa kepastian, adalah kerugian, terutama bagi pihak yang ekonominya relatif rapuh.

Baca juga : Awas, Perang “Telor Setengah Matang”

Di sinilah perspektif yang sering terlewat: gencatan senjata tanpa batas bukan tentang menghentikan perang. Perang jalan terus. Cuma diperlambat. Penekan tombol rudal tetap siaga 1.

Dengan tetap mempertahankan blokade laut, Washington tidak benar- benar berhenti. Hanya mengubah cara. Menggeser medan tempur. Dari militer ke ekonomi.

Adsense

Iran dipaksa bertahan dalam tekanan yang konstan, tanpa tahu kapan ujungnya. Justru ini tak kalah gregetnya. Termasuk bagi negara­negara yang jauh dari wilayah perang, seperti Indonesia.

Meskipun jauh dari lokasi perang, kita berada tepat di jalur dampaknya. Ketika harga energi naik, subsidi bisa membengkak. Ketika logistik terganggu, inflasi merambat pelan. Ketika pasar global goyah, rupiah ikut tertekan. Dampaknya terasa sampai ke Pasar Kebayoran Lama.

Baca juga : Kenapa Tragedi Ini Harus Berulang?

Karena itu, kita harus berhenti menganggap krisis ini sebagai siklus semen- tara. Untuk itu, cadangan energi perlu disiapkan. Ketergantungan pada impor, apa pun, hrus benar-­benar dipangkas, bukan sekadar dikelola. Tidak ada lagi keringanan atau pengecualian.

Yang tak kalah penting, karena perang terus berlanjut (walau diperlambat), banyak negara yang seolah tercekik pelan­pelan. Situasi ini, “perang seolah mereda” bisa menipu. Mengecoh dan menjebak. Bisa membuat lengah.

Untuk itu, dalam kondisi seperti sekarang, ketahanan domestik menjadi kewajiban. Cadangan pangan dan stabilitas fiskal sangat penting. Pemberantasan korupsi di segala level, serta kepercayaan publik, tak kalah pentingnya.

Karena, dalam perang berbasis “ulur­-ulur waktu”, negara yang paling tahan lama adalah yang kondisi dalam negerinya paling siap. Domestiknya oke. Dari kelas bawah, menengah sampai atas, semua oke. Siap. Kuat. Jangan ada yang ditinggal.

Baca juga : Kuasa Tak Terlihat

Misalnya, jangan ada penilaian “kelas menengah pasti mampu”. Karena, kelas menengah ini serba galau. Abu-­abu. Tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan sosial, tapi tidak cukup kaya untuk bertahan kalau ada tekanan ekonomi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense