Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Utang Pinjol Tembus Rp 94,85 Triliun, Apa Dampak Baik Dan Buruknya?
Bhima Yudhistira: Utang Naik Karena Daya Beli Merosot
Minggu, 11 Januari 2026 07:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total outstanding pembiayaan pinjaman daring atau pinjaman online (Pinjol) tembus Rp94,85 triliun per November 2025. Data ini pun menjadi perbincangan di kalangan ekonom dan Komisi XI DPR.
“Pada industri pinjaman daring outstanding pembiayaan pada November 2025 tumbuh 25,45 persen year-on-year. Dibanding tahun lalu sebesar Rp90,99 triliun,” sebut Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, dan Lembaga Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, dalam Konferensi Pers RDKB Desember 2025, Jumat (9/1/2026).
Di sisi lain, tingkat risiko kredit macet di sektor pinjol secara agregat atau wanprestasi 90 hari (TWP90) berada di posisi 4,33 persen hingga November 2025, naik 2,7 persen dari bulan sebelumnya.
Baca juga : Muhammad Misbakhun: Positifnya Untuk Ekonomi Nasional
Agusman menambahkan, utang pembiayaan dari perusahaan pembiayaan tumbuh 1,09 persen secara tahunan hingga November 2025 menjadi Rp506,82 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh pembiayaan modal kerja yang meningkat 8,99 persen secara tahunan.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi XI DPR Muhammad Misbakhun menilai, angka tersebut menunjukkan adanya manfaat bagi sisi konsumsi maupun sektor produksi, terutama permodalan startup. Dia yakin, kenaikan jumlah utang merupakan langkah positif untuk kepentingan ekonomi nasional.
“Positif dalam artian bahwa ini menggerakkan roda perekonomian nasional,” ujar Misbakhun kepada Rakyat Merdeka, Jumat (9/1/2026) malam.
Baca juga : Penegakan Hukum Tak Mesti Berujung Pidana
Sementara itu, Ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira, melihat fenomena ini sebagai tanda daya beli masyarakat yang merosot tajam. Menurut dia, Pemerintah harus tegas kepada perusahaan pinjol dan meningkatkan literasi ke masyarakat soal risiko gagal bayar.
“Pinjol makin naik artinya masyarakat makin hopeless soal kondisi ekonomi. Tuntutan biaya hidup tak sebanding dengan pendapatan,” ungkap Bhima kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (10/1/2026).
Untuk mengetahui pandangan Bhima Yudhistira mengenai utang pinjol yang mencapai Rp94,85 triliun tersebut, berikut wawancaranya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya