Dark/Light Mode

Komunikasi Relasional Mewujudkan Indonesia Tangguh Melawan Covid-19

Selasa, 17 Agustus 2021 09:03 WIB
Fita Fathurokhmah, M.Si, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Foto : Istimewa)
Fita Fathurokhmah, M.Si, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Foto : Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan Republik Indonesia ke 76 tahun tepat pada 17 Agustus 2021. Moment dirgahayu RI tersebut berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perayaan kemerdekaan sekarang dalam kondisi pandemi Covid-19.

Indonesia mengalami sebaran grafik Covid-19 yang belum menunjukkan stabilitas menurunnya kasus. Bahkan mengalami lonjakan kasus Covid-19 sehingga Pemerintah mengambil kebijakan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk menekan lajunya penyebaran Covid-19.

PSBB diterapkan di masa awal pandemic 2020 tahun lalu, PPK Darurat merupakan kebijakan yang baru diumumkan Pemerintah dan diberlakukan dari 3-20 Juli 2021, dan sekarang di perpanjang dari 17 Agustus hingga 23 Agustus 2021 yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut ada 8 Kabupaten kota yang turun status dari level 4 ke level 3.

Berita Terkait : IBM ASMI Optimis Dapat Melahirkan Generasi Tangguh dimasa Pandemi

Untuk menekan tingginya penyebaran kasus Covid-19, rakyat Indonesia harus memiliki pemahaman yang utuh tentang Covid-19 termasuk begitu pentingnya vaksinasi sebagai upaya terhindar dari virus Covid-19. Covid-19 menciptakan ketidakpastian bagi semuanya. Pro dan kontra kepercayaan atas obat dan vaksin Covid-19 menjadi persoalan di Indonesia.

Setelah upaya Pemerintah dalam menekan tingginya penyebaran Covid-19, sekarang masyarakat diwajibkan di vaksin. Dalam hal ini kepercayaan rakyat Indonesia terhadap vaksin sangat dibutuhkan dan sangat penting untuk implementasi dan keberhasilan. Indonesia harus Tangguh dalam melawan Covid-19 ini.

Informasi yang salah, hoax, fake news banyak ditemukan di media arus utama, internet dan media sosial tentang vaksin. Maka dari itu diperlukan tindakan komunikasi dialektika relasional untuk memahami pentingnya vaksin dalam melawan Covid-19.

Berita Terkait : Karantina Kelar, Shin Tae-yong Tiba Di Indonesia Rabu Malam

Vaksin Covid-19 awalnya mulai dilakukan di Indonesia Desember 2020 dengan harapan mimpi buruk pandemi Covid-19 dengan kematian akan segera berakhir. Tetapi muncul persoalan akan keragu- raguan terhadap vaksin dan itu menjadi masalah yang perlu diatasi. Sentimen anti vaksin terus tumbuh hampir tidak terkendali di seluruh jaringan media sosial.

Atas persoalan tersebut diperlukan komunikasi dialektika relasional antara masyarakat, Pemerintah, pihak- pihak terkait penanganan Covid 19 akan pentingnya dilakukan vaksin bagi seluruh rakyat Indonesia secara maksimal.

Komunikasi dialektika relasional Leslie Baxter dan Barbara Montgomery mengusulkan adanya komunikasi antara mitra hubungan sebagai akibat ketegangan dialektika. Pentingnya vaksinansi untuk menekan jumlah penyebaran Covid-19 masih ditemukan masyarakat Indonesia yang menolak untuk divaksin dengan berbagai pertimbangan pribadi khusunya bagi masyarakat di daerah.

Berita Terkait : Maknai Kemerdekaan RI ke 76, Sania Bantu Pahlawan Covid-19

Dibutuhkan dialektika satu sama lain dengan komunikasi yang efektif dengan tujuan pemahaman yang sama tentang pentingnya vaksinasi bagi Kesehatan dan keselamatan dimasa pandemi ini.
 Selanjutnya