Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Saat ini, kita pasti sering mendengarkan kata emisi karbon dan global warming (pemanasan global). Masyarakat sedang ramai memperbincangkan kedua hal ini. Secara sederhana, fenomena emisi karbon merupakan proses pelepasan karbon seperti CO2 (karbondioksida) dan CFC (Chlor Fluoro Carbon) ke lapisan atmosfer bumi. Lantas, apakah ada hubungan terikat antara emisi karbon dan pemanasan global?
Pemanasan global merupakan suatu bentuk ketidakseimbangan ekosistem di bumi akibat terjadinya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan di bumi. Jadi, emisi karbon berperan sebagai pemicu terjadinya pemanasan global. Karbon yang dilepas ke atmosfer lebih banyak daripada karbon yang diikat oleh tumbuhan. Sesuai dengan sifatnya, banyaknya karbon di atmosfer akan memantulkan panas kembali ke bumi. Atmosfer yang seharusnya berperan sebagai pelindung bumi justru menjadi penyebab kerusakan bumi. Tentunya hal ini akan memberi dampak buruk bagi nasib kehidupan di bumi pada masa yang akan datang.
Dalam menyikapi fenomena emisi karbon dan pemanasan global, banyak masyarakat yang telah sadar dan melakukan aksi-aksi pengurangan emisi karbon. Di Inggris, terjadi gerakan lingkungan hidup yang dipelopori oleh NGO (Non-Governmental Organization) yang bernama Friends of The Earth. Mereka menggunakan kampanye politik untuk mendorong perubahan iklim di Inggris pada tahun 2005. Mereka juga mendorong publik untuk mengajukan isu ini pada setiap parlemen di daerah masing-masing.
Pada 25 Mei 2005, Friends of The Earth meluncurkan kampanye “The Big Ask” yang dilaksanakan oleh beberapa negara, termasuk Inggris beserta 15 negara bagian Uni Eropa lainnya. Pada November 2008, keluar sebuah undang-undang perubahan iklim pertama di Inggris dan di dunia, yaitu Climate Change Act. Undang-undang ini mengatur pengurangan emisi karbon Inggris sebesar 80 persen pada semua sektor penerbangan dan perkapalan di Inggris.
Baca juga : Resmikan Pusat Penelitian, Ganjar Ingin Rempah Indonesia Kembali Kuasai Dunia
Selain aksi politik, masyarakat luas juga dapat menerapkan beberapa langkah pencegahan terjadinya dampak emisi karbon dan pemanasan global. Terdapat beberapa kegiatan gaya hidup rendah karbon yang dapat diterapkan dalam keseharian. Kegiatan sederhana seperti berjalan kaki saat tidak bepergian jauh, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum sebenarnya telah membantu mengurangi emisi karbon. Penggunaan bahan bakar untuk kendaraan bermotor sudah pasti menghasilkan emisi karbon. Betapa banyaknya emisi karbon yang dihasilkan jika semua orang menggunakan mobil pribadi mereka.
Emisi karbon sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Emisi karbon dapat dihasilkan dari BBM (Bahan Bakar Minyak), LPG (Liquefied Petroleum Gas), gas yang dikeluarkan dari AC (Air Conditioner), obat nyamuk, dan cat semprot. Kegiatan penghematan listrik sangat amat dianjurkan dalam hal pengurangan emisi karbon. Barang elektronik yang sedang tidak dipakai akan tetap mengkonsumsi listrik jika listrik masih tersambung. Mematikan lampu dan mencabut semua listrik ketika tidak dipakai merupakan cara yang tepat mengatasinya. Penggunaan AC juga dapat diganti dengan kipas angin.
Selain itu, konsumsi makanan dan minuman oleh masyarakat juga sangat berpengaruh. Masyarakat disarankan untuk mengurangi konsumsi makanan impor dan air minum kemasan. Alat transportasi makanan impor serta pabrik yang membuat kemasan air minum akan menambah emisi karbon. Sehingga, masyarakat dapat beralih mengkonsumsi makanan lokal dan menggunakan botol air minum sendiri.
Konsumsi daging merah seperti daging sapi dan daging kambing juga harus dikurangi. Faktanya, kotoran hewan ternak ini ternyata menghasilkan gas metana (CH4) yang berdampak lebih besar daripada karbondioksida (CO2). Koefisien daya tangkap panas metana jauh lebih tinggi, yaitu 25 kali koefisien daya tangkap panas karbondioksida. Menurut Asaah Ndambi sebagai senior spesialis produksi hewan internasional, salah satu upaya mitigasi di sektor ternak yang dapat dilakukan adalah memperbaiki manajemen pakan hewan ternak dan kotoran. Kotoran hewan ternak harus diolah dengan tepat agar tidak memberi dampak buruk yang sangat besar.
Baca juga : Park Ji Hyun, Tepis Isu Pernah Jadi Atlet Gulat
Menurut cleanomic.co.id, menghabiskan waktu dengan keluarga di rumah juga ternyata dapat membantu pengurangan emisi karbon. Misalnya, makan bersama. Terdengar sederhana, namun kegiatan ini cukup mengurangi penggunaan kompor atau alat pemanas secara berulang untuk menghangatkan makanan. Jika orang yang ketinggalan makan semakin banyak, maka makanan akan sering dipanaskan, sehingga kompor atau alat pemanas yang menambah emisi karbon akan lebih sering digunakan.
Bermain atau berolahraga di luar rumah juga dapat dijadikan referensi kegiatan bersama keluarga yang dapat mengurangi emisi karbon. Dengan bermain atau berolahraga di luar rumah, kegiatan menonton televisi atau bermain computer di rumah akan berkurang.
Kegiatan manusia akan mempengaruhi keadaan bumi. Disadari atau tidak, bumi ini terasa semakin panas setiap harinya. Memanasnya bumi berkaitan dengan fenomena emisi karbon dan pemanasan global.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), populasi dunia diproyeksikan mencapai 8 miliar jiwa pada November 2022. Dengan demikian, peran manusia dalam berjalannya roda kehidupan di bumi sangat berpengaruh. Terlebih lagi, kita semua tahu bahwa faktanya setiap manusia yang bernapas mengeluarkan CO2 (karbondioksida).
Baca juga : PAM Jaya Kudu Gercep Respons Aduan Warga
Bumi merupakan tempat tinggal manusia. Jika Bumi rusak, dimana manusia sebanyak 8 miliar jiwa akan tinggal dan hidup? Maka, sangat diperlukan adanya dorongan dan kesadaran masyarakat untuk mencegah maupun mengatasi keadaan bumi yang semakin memburuk. Banyak kegiatan sederhana yang dapat dilakukan. Sebagai contoh, berjalan kaki atau bersepeda untuk menghindari penggunaan bahan bakar yang berlebih, mematikan barang elektronik ketika tidak digunakan, memilih untuk mengkonsumsi makanan lokal dan minum menggunakan botol air minum sendiri, mengurangi konsumsi daging merah, menghabiskan waktu bersama keluarga dengan makan bersama, serta bermain atau berolahraga di luar.
Hendaknya masyarakat Indonesia turut menerapkan gaya hidup rendah karbon. Selain menjadi upaya untuk mengurangi emisi karbon, kegiatan-kegiatan tersebut membuat tubuh manusia menjadi lebih sehat. Bersamaan dengan tubuh yang sehat, manusia juga memperoleh lingkungan yang sehat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya