Dark/Light Mode

LSPR Kukuhkan Prof. Lely Sebagai Guru Besar Komunikasi Politik

Jumat, 11 April 2025 18:14 WIB
Guru Besar Bidang Komunikasi. Prof. Lely Arrianie. Foto: Istimewa
Guru Besar Bidang Komunikasi. Prof. Lely Arrianie. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - LSPR Institute of Communication and Business (LSPR Institute) mengukuhkan Prof. Lely Arrianie sebagai Guru Besar Bidang Komunikasi.

Prof. Lely dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Komunikasi usai melakukan penelitian berjudul Komunikasi Politik Tanpa Model: Tantangan Menemukan Model Komunikasi Politik Khas Indonesia Menuju 2045”.

Prof. Lely menyampaikan penelitiannya menggambarkan model komunikasi politik Indonesia saat ini. Di mana, menurut Lely, Indonesia belum memiliki model komunikasi politik yang jelas.

"Kalaupun ada, kita bisa sebut sebagai model komunikasi politik yang tidak ada model," kata Lely di LSPR Institute, Sudirman, Jakarta, Jumat (11/4/2025).

Baca juga : Noel Sebut Dasco sebagai Jembatan Komunikasi Kedamaian Bangsa

Padahal, ditekankannya, Indonesia perlu memiliki model komunikasi politik yang jelas dan kuat. Tujuannya untuk membangun budaya politik yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

"Karena ketiadaan model, maka semua pilar demokrasi eksekutif, legislatif dan yudikatif lebih didominasi oleh gaya atau pola komunikasi politik bukan model," ungkap pakar komunikasi politik itu.

Kata dia, gaya dan pola politik dari politisi Indonesia hanya menunjukkan karakteristik pribadi. Sementara model merupakan sebuah sistem yang konkret yang dapat menjadi acuan untuk mempelajari kompleksitas sebuah fenomena agar bisa dipelajari atau dianalisa lebih lanjut.

Lely melihat, komunikasi politik tanpa model itu berdasarkan dinamika panggung politik sejak reformasi hingga saat ini.

Baca juga : Bamsoet Ingatkan Pejabat Tinggi Negara Pentingnya Komunikasi Publik yang Baik

Temuannya, tambah Lely, terjadi pergeseran komunikasi politik dari yang bersifat santun dan seragam ke arah komunikasi politik sebaliknya yang mengabaikan etika dan budaya politik.

"Karena komunikasi politik yang dapat dikatakan tidak memenuhi etika dan budaya politik. Sebagai model, tentu memiliki ciri khas yang tetap dan permanen," sebutnya.

Dia juga menjelaskan, komunikasi politik yang berlangsung saat ini tidak lagi linear, tetapi bergerak ke arah yang lebih konvergen dan sirkular. Bahkan, akunya, lebih transaksional yang ditandai dengan praktik negosiasi yang intens.

"Sementara komunikasi politik adalah tentang pertukaran pesan politik bukan lagi penyampaian pesan yang membuat panggung politik lebih kaya impression management, yang menyimpan banyak masalah termasuk warna warni kekerasan fisik maupun psikologis yang disikapi masyarakat sebagai premanisme politik," paparnya.

Baca juga : Kumpul Di Istana, Menteri Dan Wamen Diminta Prabowo Perbaiki Komunikasi Publik

Di kesempatan sama, Rektor LSPR Institute Andre Ikhsano menegaskan, acara pengukuhan profesor membuktikan pihaknya sebagai institusi pendidikan menunjukkan keseriusan dalam dunia akademis dengan memberikan sumbangsih keilmuan yang lebih luas dan mendalam.

"Orasi menunjukkan pentingnya komunikasi politik bagi setiap aktor politik agar menciptakan sebuah gaya, pola dan model komunikasi yang menunjukkan kekhasan Indonesia," pungkas Andre.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.