Dark/Light Mode

Sidang Promosi Doktor SKIP Model: Sinergi Komunikasi Inovasi Dan Partisipasi

Kamis, 21 Agustus 2025 07:08 WIB
Gadis Octory (kanan) saat menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta, Selasa (19/8/2025). (Foto: Dok. Pribadi)
Gadis Octory (kanan) saat menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta, Selasa (19/8/2025). (Foto: Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta, Selasa (19/8/2025), Gadis Octory membahas Sinergi Komunikasi Inovasi dan Partisipasi (SKIP Model) hadir sebagai tawaran baru dalam wacana komunikasi pembangunan di Indonesia.

Model ini mengintegrasikan teori difusi inovasi Rogers (1962, 2003) yang menekankan tahapan adopsi dan peran agen perubahan, dengan teori partisipasi Uphoff (1985), Arnstein (1969), Pretty (1995), dan Freire (1970) yang menekankan keterlibatan kritis masyarakat. Seperti dicatat Rusadi (2014).

Letak keunikan SKIP, menjadi jalan tengah yang memposisikan masyarakat bukan sekadar penerima inovasi, tetapi co-innovator yang ikut mengawal perubahan.

Perpaduan kedua teori ini menarik untuk dikaji karena menghadirkan peluang sekaligus tantangan.

Baca juga : Kementan Dorong Pertanian Modern Lewat Inovasi Mekanisasi

"Partisipasi kerap menghadapi keterbatasan struktur sosial dan daya dukung kelembagaan. Justru dalam keterbatasan dan kelebihan masing-masing," ujar Gadis dalam keterangannya, Rabu (20/8/2025).

SKIP menemukan relevansinya, yakni menghadirkan paradigma komunikasi pembangunan yang adaptif, dialogis untuk memperkuat ekonomi kreatif sekaligus menjaga budaya lokal.

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, dengan dukungan Pemerintah Kota Tangerang Selatan, Dekranasda Kota Tangsel di bawah kepemimpinan Ketua Umum Dekranasda Tri Utami Ajeng Pilar, serta Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan.

Riset ini juga melibatkan Camat Setu Erwin Gemala Putra dan Ketua Dekranasda Kecamatan Setu Iva Fatmawati.

Baca juga : Kormi-Komisi X DPR Siap Bersinergi Demi Indonesia Bugar Dan Indonesia Emas 2045

Hasil dari riset itu terlihat nyata pada pengrajin kriya seperti Rumah Batik Setu, Ladifa Collection, dan Renata Ecofashion.

Mereka tidak hanya menerima pelatihan pemberdayaan, tetapi juga ikut menyusun strategi, memantau, hingga ikut mengevaluasi program secara partisipatif.

Dari pelatihan-pelatihan tersebut, akses pasar meluas, literasi digital juga meningkat, dan rasa percaya diri komunitas tumbuh.

Dalam sidang, para promotor dan penguji riset ini adalah: Promotor: Dr. Udi Rusadi, M.S, Co-Promotor: Dr. Jamalullail, M.M. dan Penguji: Prof. Dr. Sunarto, Dr. Ridzki Rinanto Sigit, Dr. Agus Triyono, Dr. Drs. Prasetya Yoga Santoso., MM. dan Prof. Dr. Suraya.

Baca juga : Presiden Membawa Komitmen Investasi Dan Kerja sama Strategis

Gadis mengakui keterbatasan penelitian, diantaranya aspek gender belum menjadi fokus utama, padahal peran perempuan dalam inovasi sangat nyata; serta penelitian yang hanya berlangsung 2023–2024 sehingga masih perlu kajian jangka panjang.

SKIP Model menjadi kontribusi nyata dari dunia akademik untuk masyarakat. Model ini bukan hanya teori, tapi cara praktis dalam memperkuat ekonomi kreatif dengan melibatkan semua pihak.

"SKIP lahir dari Kota Tangerang Selatan sebagai langkah kecil, namun membawa mimpi besar menuju Indonesia kreatif yang mandiri, berakar, dan bersaing di dunia," ujar Gadis.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.