Dark/Light Mode

Smartboard dan Inklusi Pembelajaran Digital

Jumat, 29 Agustus 2025 22:03 WIB
Presiden Prabowo Subianto dan Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyaksikan penggunaan papan interaktif (smart board) dalam pembelajaran di SD Negeri Cimahpar 5, Bogor, Jawa Barat, 2 Mei 2025. [BPMI Setpres]
Presiden Prabowo Subianto dan Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyaksikan penggunaan papan interaktif (smart board) dalam pembelajaran di SD Negeri Cimahpar 5, Bogor, Jawa Barat, 2 Mei 2025. [BPMI Setpres]

Bayangkan, di pelosok daerah agak terpencil, mungkin itu level desa atau kota kecamatan, anak-anak belajar di kelas menggunakan teknologi terkini dengan ceria. Karena selain mereka bisa menjelajah dunia melalui layar datar, lebar dan penuh warna, juga bisa berkomunikasi dengan kawan-kawannya dari daerah lainnya. 

Melalui layar interaktif tersebut, mereka bisa saling sapa, berbagi pengalaman. Mereka yang tinggal di kawasan pantai, bisa berbagi langsung kepada saudaranya yang tinggal di dataran tinggi. Mereka yang di kota bisa berbagi kepada yang tinggal di desa, begitu seterusnya. 

Meski dengan segala kontroversi mengenai alokasi Anggaran Pendidikan yang mandatorinya adalah 20 persen dari APBN, namun di sisi lain, arah kebijakan pendidikan di bawah Presiden Prabowo saat ini terlihat sekali menekankan pentingnya digitalisasi. Tentu saja ini menggembirakan di tengah persoalan Indonesia yang sedang berusaha mengejar ketertinggalan agar mampu bersaing di panggung global. 

Salah satu perangkat yang bisa menjadi “game changer” dalam transformasi pendidikan adalah smartboard, papan pintar interaktif yang bukan hanya sekadar layar besar, melainkan sarana kolaborasi digital di ruang kelas.

Baca juga : OVO Nabung Tembus 1 Juta Pengguna, Jadi Pendorong Inklusi Keuangan Digital

Sekadar informasi, papan pintar atau smartboard sudah lama digunakan di negara-negara maju untuk menjadi bagian dari proses pembelajaran di kelas. Hal ini dikarenakan selain teknologinya optimal untuk menyajikan berapa informasi yang dibutuhkan, juga karena interaktif, peserta didik/ murid dan guru bisa lebih kreatif menciptakan ekosistem kelas yang ramah, menyenangkan, dan kreatif. 

Sebelum lebih jauh, mari kita sedikit melihat realitas yang ada dalam konteks Pendidikan, khususnya Pendidikan digital. Di mana beberapa data menunjukkan betapa timpangnya akses pendidikan digital kita. Saat ini, akses internet di kalangan rumah tangga Indonesia terus meningkat, namun diperkirakan belum merata—terutama antara kota dan desa. 

Hal ini menjadi tantangan dalam upaya digitalisasi pendidikan. Meski banyak sekolah sudah memiliki fasilitas komputer atau bahkan laboratorium, distribusinya belum tersebar sempurna. Untuk itu, penyediaan teknologi seperti smartboard perlu difokuskan bukan hanya di kota besar, tetapi juga di daerah tertinggal, agar semua murid punya peluang yang setara. Dengan kondisi demikian, wajar jika digital divide menjadi masalah serius.

Smartboard, dalam beberapa hal, hadir untuk menutup celah itu. Jika selama ini digitalisasi pendidikan diartikan sebagai “setiap murid harus punya gawai”, maka hal itu justru memperbesar jurang. Tidak semua orang tua mampu membelikan laptop atau tablet untuk anaknya. Smartboard menawarkan solusi kolektif: satu perangkat bisa dipakai seluruh kelas. Dengan begitu, semua peserta didik/ murid, tanpa memandang latar belakang ekonomi, bisa menikmati pembelajaran digital.

Baca juga : Pacu Pertumbuhan Ekonomi, RI Belajar Dari Vietnam

Dengan demikian, penggunaan papan interaktif meningkatkan partisipasi peserta didik/ murid dalam pembelajaran, karena secara mudah bisa menghadirkan guru “tidak itu-itu saja”, melainkan guru-guru pengajar dari manapun. Bahkan dari luar negeri pun jika diperlukan bisa dihadirkan bukan dalam bentuk rekaman monolog, tetapi interaktif. Sehingga hal ini bisa memberikan pengalaman baru bagi peserta didik/ murid dalam belajar maupun berjejaring sejak dini. 

Bagi guru, smartboard tentu bukan sekadar teknologi tambahan, melainkan alat pedagogis. Materi bisa disampaikan lebih interaktif dan kreatif. Contoh: peta digital bisa disentuh dan diperbesar, rumus matematika dapat divisualisasikan, hingga simulasi sains dapat diputar langsung di kelas. 

Tentu dengan proses seperti ini, materi-materi pelajaran bisa lebih mendalam. Terlebih saat ini, pendekatan baru sudah diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah: Pembelajaran Mendalam (PM) dan KKA atau Koding dan Kecerdasan Artifisial. 

Dengan pola seperti ini, akan memudahkan peserta didik/ murid memahami konsep yang abstrak. Lebih dari itu, smartboard juga selain membuat murid-murid di pelosok bisa mengakses konten pembelajaran global yang sama dengan sekolah-sekolah unggulan di kota besar, juga bisa mendapatkan ilmu pengetahuan baru dan perasaan senang karena tidak lagi dianaktirikan dalam Pendidikan.

Baca juga : Wamen Todotua Dukung Inovasi Keuangan Digital di Indonesia

Presiden Prabowo telah menegaskan pentingnya pemerataan kualitas pendidikan dan digitalisasi sebagai bagian dari misi besar menuju Indonesia Emas 2045. Tentu Smartboard sejalan atau setidaknya ada dalam arah tersebut. Smartboard tidak perlu dipahami sebagai barang mewah pembelajaran, melainkan bagian dari instrumen pemerataan. Dengan memfasilitasi inklusi digital dan memutus mata rantai kesenjangan teknologi, smartboard menjadi investasi jangka panjang yang akan melahirkan generasi setara, kompetitif, dan siap bersaing di dunia global.

Jika digitalisasi pendidikan hanya berhenti pada jargon, maka kesenjangan akan semakin menganga. Akan tetapi jika upaya dan proses pendidikan diwujudkan melalui langkah konkret seperti penyediaan smartboard di sekolah-sekolah, terutama di daerah tertinggal, maka kita benar-benar sedang membangun fondasi masa depan. Smartboard adalah simbol bahwa digitalisasi pendidikan bukan monopoli kota besar, melainkan hak semua anak Indonesia.

Bahwa ada sikap atau analisis pesimis dari berbagai kalangan bahwa bend aini akan tidak optimal karena masalah internet dan listrik, tentu saja hal ini harus sudah dideteksi oleh pemerintah. Saat ini, internet bisa menggunakan berbagai jasa layanan, yang salah satunya memakai produk internet satelit; sedangkan untuk listrik bisa mengoptimalkan teknologi tenaga surya (solar panel) yang saat ini sekami mudah didapatkan.
 Jadi, mau apa lagi. Pesimis atau optimis? [*]

Dr. Tantan Hermansah
Dr. Tantan Hermansah
Anggota Dewan Tafkir PP Persis; Ketua Prodi Magister KPI UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.