Dark/Light Mode

Pergeseran Peran Guru dan Krisis Karakter Siswa: Tantangan Berat di Era Digital

Rabu, 26 November 2025 20:31 WIB
Pakar pendidikan nasional Darmaningtyas (Foto: Istimewa)
Pakar pendidikan nasional Darmaningtyas (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Peringatan Hari Guru Nasional tahun ini menjadi momentum penting untuk menyoroti pergeseran beban kerja tenaga pendidik. Di balik seremoni tahunan, para guru kini menghadapi tantangan ganda yang jauh lebih kompleks dibanding satu dekade lalu: beradaptasi dengan laju teknologi sekaligus menangani kerentanan mental siswa yang kian mengkhawatirkan.

Pakar pendidikan nasional Darmaningtyas menilai, peran guru saat ini tidak lagi sebatas mentransfer ilmu, tetapi menjadi fondasi pembentukan karakter siswa. Namun, realitas di lapangan memperlihatkan benturan budaya dan mentalitas yang makin tajam.

“Di satu sisi, guru banyak didorong oleh perkembangan teknologi kekinian. Di sisi lain, para guru dihadapkan dengan mental-mental siswa yang mungkin lemah,” ujar Darmaningtyas, Selasa (25/11/2025).

Baca juga : Rekomendasi 5 Karakter Striker Paling Worth It di Blood Strike

Menurutnya, kompleksitas masalah ini makin terasa ketika melihat karakteristik siswa zaman sekarang, generasi digital, yang mengalami kesenjangan dalam kemampuan komunikasi dan interaksi sosial. Dunia digital yang membentuk perilaku mereka sering gagal menanamkan perspektif kebangsaan, sehingga tercipta generasi yang cerdas secara teknis tetapi rapuh secara emosional.

Ia menyebut, kondisi itu diperparah oleh minimnya ruang ekspresi yang sehat di rumah maupun di lingkungan sosial. Ketidakmampuan menyalurkan emosi kemudian muncul sebagai perilaku menyimpang di sekolah, mulai dari sikap acuh hingga tindakan agresif.

“Anak-anak kaum milenial itu juga punya persoalan, terutama dalam hal komunikasi maupun interaksi dengan sesama. Termasuk juga memberikan ruang untuk penyaluran kegelisahan, kekecewaan, dan sebagainya,” jelas penulis buku Manipulasi Kebijakan Pendidikan itu.

Baca juga : Milad ke-9, Dallas Tour Optimis Hadapi Tantangan Masa Depan

Lelaki kelahiran Gunungkidul, 9 September 1962, itu menegaskan, sering kali perilaku menyimpang siswa berakar dari tidak adanya ruang yang memadai di keluarga. Akibatnya, banyak siswa menjadi bengal, apatis, dan tenggelam dalam gawai.

“Inti persoalannya, kenapa perundungan di sekolah berkembang meskipun sudah ada protap untuk mengatasi kekerasan di sekolah, karena lingkungan keluarga itu bermasalah,” katanya.

Darmaningtyas mengaitkan fenomena ini dengan konsep Tri Pusat Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara. Menurutnya, porsi pengaruh sekolah hanya sekitar 30 persen, sementara keluarga memegang 50 persen dan lingkungan 20 persen. Ketimpangan peran keluarga berdampak langsung terhadap perilaku siswa.

Baca juga : Menag Gowes Onthel Susuri Lapangan Banteng

Menghadapi situasi ini, ia menegaskan pendekatan kekerasan atau otoriter ala mandor sudah tidak relevan. Guru dituntut menjadi fasilitator yang mendorong siswa tumbuh dan berkembang tanpa kekerasan verbal maupun fisik.

Namun, untuk menjadi pengayom yang efektif, guru juga harus memiliki mental yang kuat serta wawasan kebangsaan yang luas. Literasi sejarah dan pemahaman nilai-nilai luhur bangsa menjadi kunci agar guru mampu menjadi jangkar moral bagi siswanya.

Sebagai solusi fundamental, Darmaningtyas menekankan pentingnya pendidik kembali menggali nilai-nilai para pendiri bangsa. “Kuncinya, guru perlu membaca banyak hal. Terutama biografi para pendiri bangsa sehingga bisa memahami jiwa kebangsaan, bagaimana negara ini dibentuk,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.