Dark/Light Mode

Tingkatkan Keselamatan Berkendara

Guru Besar UI Dorong Desain Jalan Berbasis Batas Kemampuan Manusia

Jumat, 13 Februari 2026 15:35 WIB
Tingkatkan Keselamatan Berkendara Guru Besar UI Dorong Desain Jalan Berbasis Batas Kemampuan Manusia

RM.id  Rakyat Merdeka - Transportasi yang aman hanya bisa terwujud jika semua pihak bekerja sama dengan tujuan yang sama, yaitu menciptakan jalan yang aman bagi semua pengguna. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Martha Leni Siregar, M.Sc. dalam pidato pengukuhan guru besarnya, pada Rabu (11/2) lalu, di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI).

Menurut Prof. Martha, berdasarkan data Integrated Road Safety Management System (IRSMS), jumlah kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih sangat tinggi, mencapai lebih dari 150.000 kejadian per tahun dan 27.364 korban meninggal pada 2024. Angka ini sudah menurun sejak adanya program Dekade Aksi Keselamatan Jalan (2011–2020), namun tetap perlu mendapat perhatian serius. Untuk itu, ia memaparkan konsep Visi Nol Fatalitas sebagai upaya untuk mengurangi angka kecelakaan.

Konsep Visi Nol Fatalitas menekankan bahwa tidak boleh ada korban meninggal di jalan. Korban kecelakaan meninggal terjadi karena benturan yang dialami melebihi kemampuan tubuh manusia untuk menahannya. Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin besar risiko kematian. Karena itu, sistem transportasi harus dirancang dengan mempertimbangkan batas kemampuan tubuh manusia saat terjadi benturan.

Baca juga : Segera Perbaiki Dong Jalan Rusak, Jangan Nunggu Viral

Pengaturan dan pengendalian kecepatan menjadi sangat penting dalam sistem ini. Penanganan kecelakaan harus dilakukan secara proaktif (pencegahan), bukan hanya setelah kejadian (reaktif). Upaya pencegahan ini dilakukan melalui pengaturan kecepatan yang aman untuk memastikan bahwa jika terjadi kecelakaan, tidak ada korban jiwa.  Di sinilah pentingnya desain jalan yang tepat untuk menjaga agar kendaraan melaju dalam batas kecepatan yang masih aman bagi manusia.

“Di Indonesia, tantangan besar datang dari banyaknya jenis kendaraan dan perbedaan kecepatan antar kendaraan. Kondisi lalu lintas yang beragam ini membuat risiko kecelakaan semakin tinggi. Karena itu, dibutuhkan sistem yang menyeluruh untuk mengatur perbedaan kecepatan,” ujar Prof. Martha.

Ia menjelaskan bahwa dalam pendekatan Sistem Berkeselamatan, manusia dapat melakukan kesalahan. Untuk itu, sistem transportasi harus dirancang agar mampu mengantisipasi kesalahan, bukan hanya menyalahkan pengguna jalan. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang salah? melainkan mengapa sistem yang ada memungkinkan benturan yang terlalu keras hingga melebihi batas kemampuan manusia?

Baca juga : Guru Besar Trisakti: Gagasan Gentengnisasi Prabowo Lindungi Balita dan Lansia

“Kita harus menggeser paradigma keselamatan secara fundamental menuju pendekatan yang berorientasi pada pencegahan cedera fatal. Kecepatan yang berkeselamatan harus ditempatkan sebagai prinsip inti dalam perencanaan, desain, dan pengelolaan sistem transportasi. Keselamatan transportasi harus dilihat sebagai produk sistem transportasi, sehingga segala usaha menekan kecelakaan dilakukan dalam kerangka Sistem Berkeselamatan secara proaktif untuk mengarah ke nol fatalitas,” kata Prof. Martha menutup pidatonya.

Upaya Prof. Martha dalam mendukung Visi Nol Fatalitas ini membawanya memperoleh gelar Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Keselamatan Transportasi, Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Penelitian lainnya terkait keselamatan berkendara juga dilakukannya, di antaranya Analyzing Driver Memory for Safety Belt Messages on Variable Message Signs (Study Case: Arterial Road in Leeds) (2025); Variable Message Signs (VMS) for Road Safety: The Combination of Message Framing and Colour Priming and on the Effectiveness of Seat Belt Usage Campaign (2025); dan Impact of Auxiliary Markings on Intersection Safety (2024).

Sebelum dikukuhkan sebagai guru besar, Prof. Martha menamatkan pendidikan S1 di Departemen Teknik Sipil UI pada 1988; mendapat gelar Master of Science in Transportation Planning and Engineering dari University of Southampton, UK pada 1991, dan memperoleh gelar Doktor dari Teknik Sipil UI pada 2022.

Baca juga : Ancam Keselamatan Pengendara, Pramono Akan Ditertibkan Atribut Partai di Flyover

Acara pengukuhan guru besarnya turut dihadiri tamu undangan, antara lain Guru Besar Universitas Kristen Indonesia, Prof. Dr. Wilson Rajagukguk, M.Si., M.A.; Pendeta GPIB Immanuel Depok, Pendeta Peggy Hengkesa A. Aipassa; Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Prof. Ir. Ade Sjafruddin, M.Sc., Ph.D.; Guru Besar Institut Teknologi Indonesia, Prof. Dr.Sc-Ing. Ir. Riana Herlina L., M.T., IPM, ASEAN Eng.; dan Guru Besar Universitas Katolik Atmajaya, Prof. Dr. Sylvia Diana Purba, S.E., M.E.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.