Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Madani Scholarship: Ketika Sebuah Gagasan Menjadi Gerakan Bersama
Senin, 27 Juli 2026 17:36 WIB
Tidak semua perubahan berawal dari organisasi besar atau dukungan pendanaan yang melimpah. Terkadang, perubahan justru lahir dari sebuah pertanyaan sederhana, "Bagaimana jika kita sendiri yang membantu teman-teman yang sedang mengalami kesulitan?" Pertanyaan inilah yang kemudian melahirkan Madani Scholarship, sebuah program beasiswa berbasis gotong royong yang diinisiasi Bagus Satrio saat menjabat sebagai Kepala Dinas Advokasi Kampus BEM KM FKIP Universitas Sriwijaya periode 2024.
Madani Scholarship tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan biaya pendidikan. Program ini menjadi representasi nyata bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui kolaborasi antarmahasiswa. Di tengah anggapan bahwa penyelenggara beasiswa umumnya berasal dari pemerintah, perusahaan, atau yayasan besar, Madani Scholarship menunjukkan bahwa mahasiswa juga mampu menghadirkan solusi bagi sesamanya.
Gagasan tersebut muncul dari realitas yang dihadapi banyak mahasiswa FKIP Universitas Sriwijaya yang mengalami keterbatasan ekonomi. Dalam menjalankan tugasnya sebagai Kepala Dinas Advokasi Kampus, Bagus Satrio melihat bahwa berbagai persoalan mahasiswa tidak cukup hanya disuarakan melalui advokasi, tetapi juga membutuhkan langkah konkret. Banyak mahasiswa berprestasi menghadapi kendala finansial yang berpotensi menghambat proses perkuliahan mereka. Kondisi inilah yang mendorong lahirnya konsep beasiswa berbasis gotong royong.
Pada awalnya, ide tersebut dipandang sebagai gagasan yang terlalu idealis. Banyak pihak meragukan kemungkinan mahasiswa mampu menghimpun dana yang cukup untuk menyelenggarakan program beasiswa secara mandiri. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa program semacam ini membutuhkan dukungan sponsor besar sehingga sulit diwujudkan. Keraguan tersebut membuat Madani Scholarship sempat dianggap hanya akan berhenti sebagai sebuah wacana.

Di tengah berbagai keraguan tersebut, keyakinan justru semakin menguat. Bagus percaya bahwa nilai gotong royong yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia juga dapat diterapkan di lingkungan kampus. Prinsipnya sederhana, yaitu ketika banyak orang bersedia memberikan kontribusi kecil, manfaat besar dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.
Baca juga : 30 Tahun Kudatuli: Merawat Ingatan, Menjaga Demokrasi Tetap Bernyawa

Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui pembentukan Tim Satgas Madani Scholarship yang diketuai oleh Shintia bersama sejumlah mahasiswa yang memiliki visi serupa. Tim ini berperan sebagai penggerak utama program, mulai dari menyusun konsep, merancang mekanisme seleksi penerima beasiswa, hingga mengoordinasikan berbagai kegiatan penggalangan dana.

Madani Scholarship dibangun dengan konsep beasiswa gotong royong, yaitu bantuan pendidikan yang dananya tidak bergantung pada satu donatur besar, melainkan berasal dari partisipasi banyak pihak. Salah satu inisiatif yang menjadi identitas program ini adalah Gerakan 2000 Perak. Melalui gerakan tersebut, mahasiswa diajak menyisihkan minimal Rp 2.000 sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Meskipun nilainya relatif kecil, kontribusi yang dilakukan secara kolektif mampu menghasilkan dampak yang berarti.
Upaya tersebut semakin kuat melalui kolaborasi dengan seluruh Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) di lingkungan FKIP Universitas Sriwijaya. Setiap himpunan berperan aktif menyosialisasikan Gerakan 2000 Perak kepada anggotanya sehingga semangat berbagi dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa. Kolaborasi lintas program studi ini mempertegas bahwa kepedulian terhadap pendidikan merupakan tanggung jawab bersama seluruh sivitas mahasiswa FKIP.

Baca juga : Jadi Plt Gubernur BI, Destry Pastikan Tugas Bank Indonesia Tetap Berjalan Normal
Selain menggalang dana di lingkungan kampus, Tim Madani Scholarship juga melaksanakan aksi sosial secara langsung di tengah masyarakat. Mereka turun ke sejumlah titik keramaian di Kota Palembang dengan membawa kotak donasi, spanduk, dan pengeras suara untuk memperkenalkan program sekaligus mengajak masyarakat berpartisipasi melalui donasi sukarela. Setiap calon donatur diberikan penjelasan mengenai tujuan program sehingga bantuan yang diberikan lahir dari pemahaman dan kepedulian bersama.
Kegiatan tersebut tentu tidak selalu mudah dijalankan. Berdiri di ruang publik untuk mengajak masyarakat berdonasi membutuhkan keberanian, rasa percaya diri, dan ketangguhan mental. Tidak semua orang memberikan respons yang sama. Sebagian menyambut baik dan memberikan dukungan, sementara yang lain memilih untuk berlalu tanpa berhenti. Namun, bagi Bagus dan timnya, setiap bentuk dukungan, sekecil apa pun, memiliki arti penting karena seluruh hasil penggalangan dana akan kembali kepada mahasiswa yang membutuhkan.
Keberlangsungan Madani Scholarship juga didukung oleh sinergi yang baik dengan pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya. Melalui komunikasi yang intens dengan Wakil Dekan III FKIP Unsri, Dr. Ismet, M.Si., program ini memperoleh dukungan dari pihak dekanat. Dukungan tersebut tidak hanya memberikan legitimasi terhadap program, tetapi juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap gerakan sosial yang diprakarsai mahasiswa.
Seiring perkembangannya, Madani Scholarship tidak hanya berfokus pada penghimpunan dana, tetapi juga menerapkan mekanisme seleksi penerima beasiswa secara terbuka dan terstruktur. Mahasiswa yang mendaftar harus memenuhi sejumlah persyaratan, seperti memiliki prestasi akademik maupun nonakademik, mengalami kendala ekonomi, aktif dalam organisasi atau kegiatan sosial, serta mengikuti proses seleksi administrasi dan wawancara. Mekanisme tersebut diterapkan agar bantuan benar-benar diterima oleh mahasiswa yang membutuhkan sekaligus memiliki komitmen untuk terus berkembang.
Perjalanan Madani Scholarship membuktikan bahwa sebuah gagasan yang pada awalnya dipandang sulit diwujudkan dapat berkembang menjadi program yang memberikan manfaat nyata apabila dijalankan dengan konsisten. Apa yang semula dianggap tidak realistis kini telah menjadi salah satu gerakan sosial mahasiswa yang memberikan dampak positif di lingkungan FKIP Universitas Sriwijaya.
Hingga periode 2024–2025, Madani Scholarship telah memberikan beasiswa kepada 17 mahasiswa. Meskipun jumlah tersebut belum sebesar program beasiswa nasional, dampak yang dihadirkan memiliki makna yang sangat besar bagi para penerimanya. Bantuan tersebut tidak hanya membantu meringankan biaya pendidikan, tetapi juga memberikan harapan untuk melanjutkan studi, menjaga semangat berprestasi, serta menumbuhkan keyakinan bahwa mereka tidak menghadapi perjuangan tersebut sendirian.
Baca juga : Ketika Sepakbola Menyatukan ASEAN Dan Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Di balik pencapaian tersebut, Madani Scholarship menghadirkan pelajaran berharga mengenai makna kepemimpinan. Kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga dari keberanian menghadirkan solusi yang mampu dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Melalui inisiatif ini, Bagus Satrio menunjukkan bahwa mahasiswa dapat menjadi penggerak perubahan ketika memiliki keberanian untuk memulai, kemauan untuk berkolaborasi, dan keteguhan untuk tetap melangkah meskipun dihadapkan pada berbagai keraguan.


Pada akhirnya, Madani Scholarship bukan sekadar program beasiswa. Program ini telah berkembang menjadi sebuah gerakan sosial yang menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih hidup di kalangan mahasiswa. Madani Scholarship membuktikan bahwa kepedulian tidak harus menunggu seseorang memiliki kekayaan atau kekuasaan yang besar. Sebaliknya, perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti menyisihkan dua ribu rupiah, meluangkan waktu untuk menggalang donasi, atau mengajak orang lain ikut berbagi.
Pengalaman tersebut sekaligus menegaskan bahwa esensi pendidikan tidak hanya terletak pada ilmu yang diperoleh di ruang kelas, tetapi juga pada kemampuan mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang memberikan manfaat bagi sesama. Melalui Madani Scholarship, nilai gotong royong tidak hanya dipelajari sebagai konsep, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata yang terus menghadirkan harapan bagi mahasiswa yang membutuhkan.
Bagus Satrio
Mahasiswa Universitas Sriwijaya
Mahasiswa Universitas Sriwijaya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya