Dark/Light Mode

Piala Presiden 2026

Ketika Sepakbola Menyatukan ASEAN Dan Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Minggu, 26 Juli 2026 13:37 WIB
Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026 Maruarar Sirait saat pembukaan Piala Presiden 2026. (Foto : Pialapresiden2026)
Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026 Maruarar Sirait saat pembukaan Piala Presiden 2026. (Foto : Pialapresiden2026)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sorak-sorai ribuan suporter menggema di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Sabtu (25/7/2026) malam. Tribun penuh sesak jauh sebelum laga pembuka Piala Presiden 2026 antara Persib Bandung melawan Arema FC dimulai.

Di tengah lautan biru pendukung Persib dan hadirnya suporter Arema dalam pengamanan yang tertib, suasana terasa berbeda. Turnamen pramusim paling bergengsi di Indonesia itu tidak hanya membuka kompetisi sepak bola, tetapi juga membuka babak baru diplomasi olahraga di Asia Tenggara.

Di tribun kehormatan hadir Ketua Umum PSSI Erick Thohir, Menteri Pemuda dan Olahraga, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026 Maruarar Sirait. Kehadiran para pemangku kepentingan itu menjadi simbol bahwa Piala Presiden telah berkembang menjadi lebih dari sekadar turnamen sepak bola.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah penyelenggaraannya, Piala Presiden menghadirkan klub dari empat negara ASEAN, yakni Indonesia, Thailand, Singapura, dan Brunei Darussalam. Kehadiran Port FC dari Thailand, Tampines Rovers dari Singapura, serta DPMM FC dari Brunei Darussalam membawa dimensi baru bagi turnamen yang lahir pada 2015 tersebut.

Di lapangan memang ada persaingan selama 90 menit. Namun di luar lapangan, Piala Presiden menghadirkan pesan yang jauh lebih besar. Sepak bola menjadi bahasa universal yang mempererat hubungan masyarakat ASEAN.

Para pemain, pelatih, ofisial, media, sponsor hingga suporter dari empat negara bertemu dalam satu panggung kompetisi. Mereka saling berinteraksi, bertukar budaya, membangun persahabatan, sekaligus menunjukkan bahwa olahraga mampu melampaui batas-batas politik dan geografis.

Piala Presiden 2026 menjadi contoh nyata bagaimana konsep people to people connection yang selama ini digaungkan ASEAN dapat diwujudkan melalui sepak bola.

Namun dampaknya tidak berhenti pada aspek diplomasi. Di balik riuh rendah pertandingan, turnamen ini juga menggerakkan roda ekonomi rakyat. Area Stadion Si Jalak Harupat di Bandung dipenuhi stand UMKM yang menjajakan berbagai produk.

Mulai dari kuliner, minuman, fesyen, aksesori, suvenir, mainan anak hingga produk kreatif lainnya. Ribuan penonton yang datang tidak hanya membeli tiket pertandingan, tetapi juga menjadi konsumen bagi pelaku usaha kecil yang mendapat ruang berjualan secara gratis.

Dengan demikian, Piala Presiden bukan hanya menjadi milik klub dan suporter, melainkan juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dari Turnamen Nasional Menjadi Panggung ASEAN

Ketika pertama kali digelar pada 2015, Piala Presiden lahir sebagai solusi menjaga denyut sepak bola Indonesia yang tengah menghadapi masa sulit. Dalam satu dekade, turnamen ini tumbuh menjadi agenda pramusim paling bergengsi di Tanah Air.

Namun edisi 2026 menghadirkan perubahan paling signifikan. Panitia mengundang delapan peserta yang terdiri atas lima klub Indonesia dan tiga klub luar negeri dari kawasan ASEAN. Langkah ini membuat Piala Presiden berubah dari turnamen domestik menjadi kompetisi pramusim internasional yang merepresentasikan semangat kawasan Asia Tenggara.

Grup A dihuni Persib Bandung, Arema FC, DPMM FC, dan Tampines Rovers yang seluruh pertandingannya berlangsung di Stadion Si Jalak Harupat.

Sementara Grup B mempertemukan Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, PSMS Medan, dan Port FC di Stadion Gelora Bung Tomo.

Keikutsertaan tiga klub asing bukan sekadar meningkatkan kualitas pertandingan, tetapi juga memperluas nilai strategis turnamen. Indonesia tampil sebagai tuan rumah yang mempertemukan klub-klub terbaik ASEAN dalam atmosfer kompetisi yang sehat.

Baca juga : Menkop Tegaskan MES Harus Jadi Penggerak Sektor Riil dan Ekonomi Umat

Di era ketika olahraga semakin dipandang sebagai instrumen diplomasi, Piala Presiden memberikan contoh bahwa hubungan antarnegara dapat diperkuat melalui interaksi antarmasyarakat. Diplomasi tidak selalu berlangsung di ruang konferensi. Tepuk tangan terhadap permainan lawan, pertukaran syal antarsuporter, hingga apresiasi terhadap budaya negara lain merupakan bentuk diplomasi yang tumbuh secara alami melalui olahraga.

Animo masyarakat terhadap Piala Presiden 2026 terlihat sejak hari pertama penyelenggaraan. Ketua Panitia Pelaksana Piala Presiden 2026 Tsamara Amany mengungkapkan seluruh tiket pertandingan pembuka habis terjual sebelum kick-off. Sebanyak 24 ribu penonton memenuhi Stadion Si Jalak Harupat.

Tingginya antusiasme itu menunjukkan bahwa masyarakat merindukan pertandingan sepak bola yang berkualitas sekaligus aman.

Menurut Tsamara, panitia tidak hanya mempersiapkan pertandingan, tetapi juga membangun budaya baru di kalangan suporter.

Penyelenggara ingin membuktikan bahwa rivalitas antarklub dapat berlangsung dalam suasana damai, tertib, dan saling menghormati.

Pertandingan Persib melawan Arema menjadi ujian penting. Kedua klub memiliki sejarah rivalitas yang panjang, namun pertandingan berlangsung dalam pengamanan yang baik sehingga menjadi contoh bahwa sepak bola Indonesia dapat berkembang menuju budaya suporter yang lebih dewasa.

Keberhasilan itu menjadi modal penting bagi transformasi sepak bola nasional.

Menghadirkan Klub Bersejarah

Salah satu keputusan paling menarik dalam Piala Presiden 2026 adalah kehadiran PSMS Medan. Di tengah dominasi klub-klub Liga 1, PSMS yang masih berkompetisi di Liga 2 Championship justru memperoleh undangan mengikuti turnamen.

Keputusan tersebut didasarkan pada konsep baru yang diusung panitia, yakni menghadirkan klub-klub besar yang memiliki nilai historis dalam perjalanan sepak bola Indonesia.

PSMS merupakan salah satu klub tertua di Indonesia dengan koleksi lima gelar Perserikatan serta memiliki basis suporter yang sangat besar.

Kehadiran PSMS sekaligus menjadi representasi wilayah luar Pulau Jawa sehingga turnamen benar-benar mencerminkan semangat nasional, bukan sekadar kompetisi yang berpusat di Jawa.

Dari sisi industri olahraga, langkah ini juga meningkatkan nilai komersial turnamen karena PSMS memiliki basis pendukung yang loyal dan pasar yang besar.

Aroma Indonesia di Klub ASEAN

Menariknya, tiga klub ASEAN yang tampil di Piala Presiden juga memiliki kedekatan dengan sepak bola Indonesia. Port FC masih diperkuat bek Timnas Indonesia Asnawi Mangkualam.

Klub asal Thailand itu juga merekrut mantan kapten Persebaya Surabaya, Bruno Moreira, sehingga menghadirkan momen emosional ketika kembali bermain di Stadion Gelora Bung Tomo.

Baca juga : Piala Presiden 2026, Persiapan Persija Baru 70 Persen

DPMM FC juga membawa mantan kapten Persita Tangerang Muhammad Toha. Sebelumnya klub asal Brunei Darussalam tersebut juga pernah diperkuat Ramadhan Sananta yang kini kembali bermain untuk Persebaya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa mobilitas pemain di kawasan ASEAN semakin tinggi. Kompetisi antarnegara bukan lagi sekadar rivalitas, tetapi juga ruang kolaborasi yang memperkuat kualitas sepak bola regional.

Di balik kemeriahan pertandingan, terdapat aspek penting yang menjadi kekuatan utama Piala Presiden, yakni tata kelola.

Ketua Steering Committee Piala Presiden Maruarar Sirait menegaskan penyelenggaraan turnamen dilakukan dengan prinsip transparansi.

Seluruh laporan keuangan diaudit oleh PricewaterhouseCoopers (PwC), auditor independen bertaraf internasional.

Lebih penting lagi, turnamen ini tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Seluruh pembiayaan berasal dari sponsor.

Pada penyelenggaraan tahun 2026, nilai sponsor mencapai Rp60 miliar. Dana tersebut berasal dari sejumlah perusahaan besar yang percaya terhadap profesionalisme pengelolaan sepak bola Indonesia.

Model penyelenggaraan seperti ini menunjukkan bahwa industri olahraga dapat tumbuh secara mandiri tanpa bergantung pada anggaran negara.

Transparansi juga membangun kepercayaan dunia usaha. Ketika tata kelola dilakukan secara terbuka dan profesional, sponsor memperoleh kepastian bahwa dana yang mereka keluarkan benar-benar digunakan sesuai tujuan.

Kepercayaan inilah yang menjadi fondasi berkembangnya industri olahraga nasional.

UMKM Menjadi Pemenang

Salah satu dampak paling nyata dari Piala Presiden dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Panitia menyediakan stan UMKM secara gratis di Stadion Si Jalak Harupat.

Mereka menjual makanan, minuman, fesyen, suvenir, aksesori hingga berbagai produk kreatif.

Menurut Maruarar Sirait, UMKM yang dilibatkan berasal dari dua kategori, yakni pelaku usaha yang telah berkembang dan UMKM baru yang memiliki potensi untuk naik kelas.

Kebijakan ini menunjukkan keberpihakan penyelenggara terhadap ekonomi kerakyatan. Berdasarkan pengalaman penyelenggaraan tahun sebelumnya, setiap pelaku UMKM mampu memperoleh omzet antara Rp2 juta hingga Rp5 juta per hari.

Nilai tersebut belum termasuk dampak ekonomi dari penjualan tiket, transportasi, hotel, restoran, parkir hingga sektor pariwisata.

Baca juga : Danantara Tinjau Pemberdayaan Nasabah PNM, Dukung Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Efek berganda (multiplier effect) inilah yang menjadikan Piala Presiden bukan hanya sukses sebagai ajang olahraga, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal.

Hiburan Rakyat yang Terjangkau

Panitia juga memastikan turnamen dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Harga tiket dipatok Rp50 ribu sehingga relatif terjangkau.

Dengan biaya tersebut, masyarakat memperoleh hiburan berkualitas sekaligus dapat menikmati berbagai produk UMKM di area stadion.

Konsep ini mengubah fungsi stadion menjadi ruang publik yang hidup.

Stadion tidak lagi hanya menjadi tempat berlangsungnya pertandingan, tetapi juga pusat aktivitas ekonomi kreatif yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat.

Piala Presiden 2026 memperlihatkan wajah baru sepak bola Indonesia. Turnamen ini berhasil menjalankan berbagai fungsi sekaligus.

Ia menjadi sarana diplomasi olahraga yang mempererat hubungan Indonesia dengan negara-negara ASEAN.

Ia menjadi contoh tata kelola olahraga yang profesional melalui transparansi keuangan dan pendanaan tanpa APBN.

Ia menjadi motor penggerak ekonomi rakyat melalui pemberdayaan ratusan pelaku UMKM. Dan yang tidak kalah penting, ia menghadirkan hiburan berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat.

Pada akhirnya, warisan terbesar Piala Presiden 2026 bukan hanya trofi yang akan diangkat sang juara. Warisan sesungguhnya adalah lahirnya ekosistem sepak bola yang semakin profesional, inklusif, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Di tengah pesatnya perkembangan industri olahraga modern, Piala Presiden membuktikan bahwa sepak bola memiliki kekuatan yang jauh melampaui hasil pertandingan. Ia mampu menjadi jembatan persaudaraan antarbangsa di kawasan ASEAN, menggerakkan roda ekonomi kerakyatan, membangun budaya suporter yang lebih dewasa, sekaligus memperkuat kepercayaan dunia usaha terhadap industri olahraga nasional.

Melalui Piala Presiden 2026, Indonesia tidak hanya memperlihatkan kemampuan menyelenggarakan turnamen sepak bola berkelas internasional, tetapi juga menunjukkan bagaimana olahraga dapat menjadi instrumen pembangunan—mempersatukan bangsa, mempererat kawasan, dan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.