Dark/Light Mode

Lebaran Selesai, Panen Cabe Kembali Lancar, Harga di Petani Turun

Senin, 10 Juni 2019 20:00 WIB
Tumpukan cabe yang dijajakkan di pasar (Foto: Humas Kementan)
Tumpukan cabe yang dijajakkan di pasar (Foto: Humas Kementan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pasca libur Lebaran, para petani cabe di sentra produksi Kabupaten Kediri, Blitar, Tuban, dan Malang, sudah kembali memetik si pedas. Pasokan pun kembali lancar. Melimpahnya panen cabe di sentra tersebut turut mendorong penurunan harga, terutama cabe rawit merah.

"Peningkatan harga cukup drastis pada Lebaran disebabkan berkurangnya pasokan. Petani dan buruh petik mengambil jatah libur untuk berlebaran dengan keluarganya. Nah sekarang baru bisa panen. Wajar kalau melimpah hasil panenan kali ini," ucap Suyono dari Paguyuban Petani Cabe Kediri.

Suyono menyampaikan, di tingkat distributor, Minggu (9/6), harga cabe merah besar varietas gada Rp 20 ribu per kilogram dan imola Rp 17 ribu. Harga cabe merah keriting turun menjadi Rp 20 ribu sedangkan harga cabe rawit merah kecil varietas pusaka/brenggolo terjun menjadi Rp 6 ribu, nanu/prentul Rp 4 ribu, dan kencana Rp 5 ribu per kilogram.

Berita Terkait : Nilai Tukar Petani Mei 2019 Naik 0,38 Persen, BPS: Daya Beli Petani Menguat

Meski panen melimpah, harga cabe itu masih menguntungkan, khususnya jenis cabe keriting dan TW. "Untuk jenis rawit merah memang masih sangat rendah dan diperkirakan akan bertahan sampai bulan Juli. Mudah-mudahan lekas membaik harganya supaya petani tetap semangat menanam atau merawat kebunnya," kata pria yang dipanggil Yono ini.

Khusus cabe TW, hasil panen banyak diserap oleh industri olahan dan makanan lewat jalur kemitraan. "Untuk cabe rawit merah varietas lokal yang banyak ditanam yaitu brenggolo, manu atau prentul dan kencana. Untuk memperbaiki harga cabe rawit merah, mau gak mau kami harus atur pola tanam sesuai anjuran pemerintah," imbuhnya.

Menyikapi hal ini, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Yasid Taufik menekankan pentingnya perbaikan rantai pasok dan alur distribusi. "Oleh karena itu, revitalisasi kelembagaan pemasaran meliputi Sub Terminal Agribisnis, Pasar Tani, dan Pasar Lelang menjadi penting. Selain itu, kegiatan pengolahan dapat digalakkan di tingkat petani untuk mengatasi melimpahnya pasokan, sehingga para petani mendapatkan nilai tambah," ujar Yasid.

Berita Terkait : Biar Sehat, Lebaran Jangan Cuma Makan Daging, Sayuran Juga

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Moh Ismail Wahab menyebut, pihaknya intensif memantau aktivitas pasokan cabe sejak awal puasa hingga masa setelah libur lebaran. Terutama ke pasar induk di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang.

"Hari ini, Lebaran H+4, harga di petani berkisar Rp 4-6 ribu per kilogram, sedangkan Lebaran H+3 kemarin, harga terpantau Rp 16-18 ribu per kilogram di petani dan Lebaran H-2 harga di petani sekitar Rp 6-9 ribu per kilogram. Alhamdulillah harga masih tetap terjaga," kata Ismail. 

Ismail mengakui, memang kalau pada Lebaran hari H ada sedikit peningkatan harga di petani. Karena buruh petiknya juga libur Lebaran. Jadi, pasokan belum normal.  

Berita Terkait : Negosiasi Jadi Kunci Surplus Neraca Perdagangan Pertanian

"Kami juga pantau kondisi pertanaman di lapangan, masih banyak yang sedang masa panen di daerah sentra. Ini menunjukkan kalau petani sudah menyadari arti manajemen pola tanam yang kami rancang,” sambungnya. 

Kata dia, Pemerintah tidak hanya fokus pada momen Lebaran. Pasca-Lebaran pun dikawal ketat karena kebutuhan terus berlanjut. "Biasanya kan banyak orang mengadakan acara syawalan yang identik dengan sajian masakan, walaupun tidak seperti kebutuhan pada saat Lebaran," ucapnya. [KAL]