Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kerek Kinerja, Pertamina Perlu Sesuaikan Harga Pertalite dan Pertamax RON 92

Jumat, 14 Januari 2022 11:34 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Peneliti LSM Ekonomi Konstitusi Defiyan Cori meminta Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM jenis Pertalite dan Pertamax RON 92. "Ketiadaan penyesuaian harga itu menjadi penyebab utama melorotnya kinerja Pertamina," ujar Defiyan, Jumat (14/1). 

Pada 18 September, PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Patra Niaga, atau Sub Holding Commercial & Trading menaikkan dua produk BBM non subsidi, yaitu Pertamax Turbo dan Pertamina Dex.

Pertamax Turbo (RON 98) yang semula harganya Rp 9.850 per liter dinaikkan menjadi Rp 12.300 per liter. Atau, sejumlah Rp 2.450 atau sebesar hampir 25 persen.

Berita Terkait : Airlangga: Operasi Pasar, Langkah Konkret Pemerintah Stabilkan Harga Bahan Pangan

Kenaikan harga juga diberlakukan kepada Pertamina Dex (CN 53) yang semula harganya Rp10.200 per liter menjadi Rp 11.150 per liter atau mengalami perubahan harga sejumlah Rp 950 atau hanya sebesar 9,3 persen saja.

Namun, untuk produk BBM jenis lain seperti Pertalite dan Pertamax RON 92 tidak mengalami perubahan, dan mengikuti ketentuan yang telah diberlakukan pada jenis BBM non subsidi tersebut. Padahal, konsumsi Pertalite mencapai 70 persen dari total jenis BBM yang diperjualbelikan.

"Ketiadaan penyesuaian harga BBM jenis Pertalite dan Pertamax 92 ini tentu akan berpengaruh signifikan biaya atau beban operasional korporasi yang berakibat pada kondisi aliran kas (cash flow) Pertamina dalam jangka pendek untuk membeli sumber bahan baku yang lebih mahal, sementara harga jual ke konsumen tidak mengalami perubahan," tutur Defiyan.

Berita Terkait : Harga Minyak Dunia Naik Terus, Pertamina Diminta Sesuaikan Harga BBM

Dalam jangka panjang, implikasinya adalah terkait dengan kebijakan subsidi energi dan transisi energi yang telah ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentu akan menghambat aksi korporasi BUMN Pertamina dalam mencari sumber pembiayaan ekonomis.

Juga membayar kewajiban kepada pihak ketiga, serta melayani masyarakat konsumen sampai ke daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T).

"Kenaikan harga BBM jenis Pertalite ini penting dalam kerangka mendukung mandat Presidensi G20 pada Presiden Joko Widodo dan komitmen COP26 untuk menyediakan energi bersih dan ramah lingkungan, dan Pertalite masih termasuk dalam jenis BBM yang tidak mendukungnya," tandasnya.
 Selanjutnya