Dewan Pers

Dark/Light Mode

Asosiasi Pengembang Minta Pemerintah Selesaikan Sejumlah Kendala Sektor Perumahan

Jumat, 14 Januari 2022 21:26 WIB
Sejumlah pimpinan asosiasi pengembang usai mengikuti diskusi yang diselenggarakan Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera), di  Jakarta, Jumat (14/1). (Foto: Ist)
Sejumlah pimpinan asosiasi pengembang usai mengikuti diskusi yang diselenggarakan Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera), di Jakarta, Jumat (14/1). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tahun 2022 menjadi tahun yang paling ditunggu para pemangku kepentingan (stakeholder) sektor perumahan di Tanah Air. Soalnya, gelombang pandemi yang mulai surut dan diikuti menggeliatnya kegiatan ekonomi, membuat sejumlah pengembang bersiap-siap untuk tinggal landas (take off) dengan meluncurkan beragam produk.

Produk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) masih menjadi unggulan pilihan konsumen dalam mendapatkan rumah idaman. Fleksibilitas masa tenor dan pembayaran uang muka 10 persen, menjadikan produk ini banyak diminati konsumen.

Sumber pembiayaan KPR mencapai 75,08 persen di Kuartal II- 2021, pertumbuhan KPR secara tahunan (yoy) di Kuartal II 2021 mencapai 7,24 persen.

Berita Terkait : Kasus Covid Melonjak, Pemerintah Terbitkan Aturan Baru Pelaku Perjalanan LN

Beragam kebijakan yang dirilis pemerintah pun menjadi stimulus bagi sektor riil ini. Sebut saja  suku bunga acuan di level 3,5 persen (terendah sepanjang sejarah), relaksasi Loan to Value (LTV) yang memungkinkan konsumen mendapatkan KPR dengan uang muka 0 persen.

Serta, Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) atas properti siap huni yang diperpanjang hingga akhir Desember 2021 melalui Peraturan Menteri Keuangan nomor 103/PMK.010/2021. Perpanjangan insentif ini disambut hangat pihak pengembang dan terbukti meningkatkan penjualan rumah siap huni.

Tapi, Kepala Divisi Subsidized Mortgage Lending Division PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Mochamad Yut Penta mengatakan, terdapat beberapa permasalahan yang terjadi pada penyaluran KPR Subsidi di Tahun 2021.

Berita Terkait : Mahfud: Pejabatnya Sudah Masuk Penjara

Menurutnya, sektor informal belum tergarap secara maksimal. Sesuai realisasi 2021, sektor informal hanya mampu tergarap 12 persen dari total keseluruhan. Sehingga, diperlukan strategi dalam mendorong penyerapan realisasi dari sektor informal.

Selain itu, imbuh Penta, belum ada lembaga yang berfokus dalam mengontrol ketepatan sasaran, kualitas, dan keterhunian rumah.

"Pemerintah telah mengganti Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dengan persetujuan bangunan gedung (PGB) di Tahun 2021. Namun, hal ini tidak diikuti dengan penerbitan Perda dan Sistem PBG secara nasional," ujarnya, dalam Diskusi Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera), di Jakarta, Jumat (14/1).

Berita Terkait : Airlangga: Operasi Pasar, Langkah Konkret Pemerintah Stabilkan Harga Bahan Pangan

Dia juga meminta program stimulus PPN DTP dilanjutkan pada tahun ini. Perpanjangan program ini diyakini akan mampu mendorong tumbuhnya industri perumahan pada tahun ini. 
 Selanjutnya