Dark/Light Mode

Transisi Energi Dikebut

5,5 Gigawatt PLTU Segera Pensiun Dini

Jumat, 28 Januari 2022 18:12 WIB
Presiden Jokowi saat groundbreaking pembangunan Kawasan Industri Hijau Indonesia, di Bulungan, Kaltara, 21 Desember 2021. (Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev)
Presiden Jokowi saat groundbreaking pembangunan Kawasan Industri Hijau Indonesia, di Bulungan, Kaltara, 21 Desember 2021. (Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi mendorong B20 untuk berkontribusi dalam upaya mempercepat transformasi energi ini. Tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat kecil.

Terkait hal tersebut, Jokowi menilai, solusi global dalam hal pendanaan dan kemitraan merupakan agenda yang harus menjadi perhatian utama. Termasuk, alih teknologi untuk mendorong produksi berbasis ekonomi hijau.

“Potensi di sektor energi terbarukan harus diikuti dengan skenario dan peta jalan yang jelas, termasuk pendanaan dan investasi,” imbuhnya.

Jokowi menyebut, Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan sebesar 418 gigawatt yang bersumber dari air, panas bumi, angin maupun matahari. Di samping itu, Indonesia juga memiliki kekayaan sumber daya mineral logam, yang dibutuhkan untuk mendorong transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Baca juga : Berkas Dilimpahkan, Dua Pegawai Pajak Segera Disidang

“Kami kaya akan nikel, bauksit, timah, dan tembaga. Kami memastikan akan menyuplai cukup bahan-bahan tersebut untuk kebutuhan dunia. Tapi, bukan dalam bentuk bahan mentah. Melainkan dalam bentuk barang jadi atau setengah jadi yang bernilai tambah tinggi,” tegasnya.

Hilirisasi nikel yang dimulai pada tahun 2015, telah memberikan dampak positif pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai ekspor, dan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia.

Jokowi menjelaskan, saat ini nilai ekspor Indonesia mencapai 230 miliar dolar AS atau Rp 3.328,97 triliun yang sangat dipengaruhi oleh peningkatan ekspor besi baja. Ekspor besi baja di tahun 2021 mencapai 20,9 miliar dolar AS atau Rp 302,50 triliun. Meningkat dari sebelumnya, yang hanya 1,1 miliar dolar AS atau Rp 15,92 triliun pada tahun 2014.

Tahun ini, Presiden Jokowi memperkirakan nilai ekspor besi baja Indonesia dapat mencapai kisaran 28-30 miliar dolar AS atau Rp 405,26 - 434,17 triliun.

Baca juga : Dua Tersangka Kasus Korupsi Mesin Giling Tebu Bakal Segera Disidang

“Setelah nikel, kita akan mendorong investasi di sektor bauksit, tembaga, dan timah,” ujarnya.

Mekanisme transisi energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan yang dilakukan pemerintah, dipastikan tetap menjamin kepastian investasi.

Saat ini, pemerintah mendorong program pensiun dini untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Jawa dan Sumatera. Serta beralih ke energi baru terbarukan seperti geotermal dan solar panel.

“Kita akan membuka partisipasi di sektor swasta untuk berinvestasi di transisi energi ini. Saat ini, ada 5,5 gigawatt PLTU yang siap untuk program early retirement (pensiun dini) ini,” imbuhnya.

Baca juga : Jokowi: Transformasi Ekonomi Harus Dikebut, BUM Desa Kudu Berorientasi Ekspor

Jokowi memaparkan, pemerintah juga telah melakukan dekarbonisasi di sektor transportasi dengan membangun mass urban transport, seperti LRT (Lintas Rel Terpadu) dan MRT (Moda Raya Terpadu) di Jakarta, serta mendorong investasi untuk pabrik mobil listrik.

"Kita mengundang investasi yang bisa mendorong nilai tambah yang saling menguntungkan,” pungkasnya. [HES]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.