Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sektor Properti Kian Positif

Imbas Pandemi, Mayoritas Ingin Punya Rumah Di Luar Kota

Senin, 28 Maret 2022 12:51 WIB
Rumah.com. (Foto: Istimewa)
Rumah.com. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pandemi membuat masyarakat beradaptasi terkait hunian. Salah satunya, mempertimbangkan untuk memiliki rumah di luar pusat kota. Hal ini dinyatakan oleh 47 persen responden yang memiliki preferensi terhadap wilayah yang tidak terlalu ramai maupun pindah ke luar kota. Demikian seperti dikutip laporan Consumer Sentiment Survey H1 2022.

"Kecenderungan untuk bisa tinggal di luar Jabodetabek jika kondisi memungkinkan bekerja dari rumah (WFH) juga makin meningkat. Hal ini seperti dinyatakan oleh 64 persen responden, merupakan kenaikan dari 55 persen responden dari periode sebelumnya," kata Country Manager Rumah.com Marine Novita dalam keterangannya di Jakarta, Senin (28/3).

Jawa Barat tetap menjadi daerah tujuan untuk ditinggali di luar Jabodetabek. Hal ini dinyatakan oleh 43 persen responden, disusul oleh Yogyakarta yang menjadi pilihan dari 26 persen responden, kemudian Bali dan Jawa Tengah masing-masing menjadi pilihan 20 persen responden lainnya.

Adaptasi dan perubahan sikap lainnya adalah 2 dari 3 orang Indonesia semakin sadar untuk menjaga pola hidup sehat dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Sejumlah 61 persen responden sekarang lebih sadar untuk menjaga kebiasaan gaya hidup sehat. Sementara 60 persen responden kini memilih menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga daripada sebelum pandemi.

Berita Terkait : Ketua DPRD Pandeglang Minta Pengawasan Proyek SPAM Diperketat

Sedangkan sekitar setengah atau 48 persen responden memilih untuk mencari pekerjaan yang memungkinkan mereka lebih banyak berada di rumah atau WFH.

"Adanya pandemi yang menyebabkan masyarakat harus lebih banyak berkegiatan di rumah menyebabkan hampir setengah total responden ingin melakukan renovasi rumah. Hal ini seperti dinyatakan oleh 45 persen responden yang menyatakan keinginan untuk mengubah maupun mempercantik area tertentu di rumah mereka agar lebih sesuai dengan kebutuhan semua anggota rumah tangga," kata Marine.

Perubahan sikap dan perilaku selama pandemi lainnya adalah hampir setengah total responden sekarang memilih berbelanja kebutuhan pokok secara online, lebih sering daripada sebelum pandemi. Hal ini dinyatakan oleh 44 persen responden.

Sementara lebih dari setengah total responden sekarang lebih sering menghindari area keramaian karena pandemi. Hal ini seperti dinyatakan oleh 55 persen responden sekarang memilih untuk menghindari pergi ke area keramaian dan 30 persen responden lainnya sekarang memilih untuk menghindari makan di luar.

Marine menjelaskan, situasi pandemi mengakibatkan banyak perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) maupun merumahkan karyawannya menyebabkan tidak stabilnya pekerjaan ataupun gaji menjadi hambatan bagi karyawan untuk mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Berita Terkait : Dorong Pemulihan Ekonomi, Lestari Minta Wisata Aman Digencarkan

Hal ini seperti dinyatakan oleh 57 persen responden, naik 5 persen dari periode sebelumnya. Sementara 40 persen responden lainnya tidak mampu mengumpulkan uang muka (DP), naik dari 6 persen dari periode sebelumnya.

Sepanjang Pandemi Covid-19 berlangsung, sektor real estate di tanah air terus menunjukkan kinerja dengan pertumbuhan yang positif secara kontinu. Apalagi dengan hadirnya berbagai stimulus pemerintah sehingga berdampak pada sektor perumahan dimana terlihat dari pertumbuhan KPR yang tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif dibandingkan kredit lainnya pada perbankan nasional.

Sebagai contoh, sepanjang Q4 2021 kredit KPR tumbuh 9,55 persen sementara kredit perbankan secara umum hanya tumbuh 5,24 persen. Pada kuartal sebelumnya, kredit KPR tumbuh 9,32 persen sementara kredit perbankan secara umum hanya tumbuh 2,21 persen.

Bahkan ketika kredit perbankan secara umum turun hingga -3,77 persen secara kuartalan, kredit KPR masih tumbuh 4,30 persen. Pertumbuhan industri perumahan di tahun 2022 sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang mempengaruhi kondisi perekonomian nasional.

Faktor eksternal tersebut di antaranya adalah tumbuhnya harga komoditas yang makin naik sebagai dampak perang Rusia-Ukraina mendorong adanya investasi dalam bentuk properti. Secara historis, ketika terjadi booming commodity price, maka pembelian properti akan tinggi sebagai cara untuk menyimpan aset.

Berita Terkait : Genjot Penjualan Saat Pandemi, Vintage Raih Top Brand 2022

Faktor eksternal lainnya adalah keberlanjutan program stimulus PPN DTP memicu tumbuhnya KPR sepanjang masa pandemi. Perpanjangan program ini diyakini akan mampu mendorong tumbuhnya industri perumahan di tahun 2022. Meskipun PPN akan naik jadi 11 persen, namun insentif PPN bagi properti sebesar 50 persen masih berlaku untuk hunian baru di bawah harga Rp 2 miliar hingga bulan September 2022.

Sementara suku bunga perbankan saat ini kemungkinan juga pada titik terendah, yakni Bank Indonesia saat ini masih mempertahankan suku bunga acuan Bank Indonesia 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) di angka 3,5 persen di tengah inflasi dan kondisi ekonomi global. [MEN]