Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Kini, pihaknya bersama Garuda Indonesia akan menjalankan rekomendasi-rekomendasi dari Panja. Yakni, mulai dari memperbaiki tata kelola korporasi yang buruk disertai timeline dan tolak ukur yang jelas, melaksanakan business plan secara konsisten, optimalisasi rute, jumlah dan tipe pesawat.
Kemudian, implementasi penurunan lease rate, serta peningkatan kargo dan pendapatan lainnya. Ini agar Garuda menjadi perusahaan yang sehat dan dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Kami akan fokus menangani outlook krusial. Di antaranya proses PKPU, avtur, dan kekurangan industri di penerbangan domestik,” ucap Erick.
Baca juga : KPP Dan Majelis Nur Tariim Doakan Jokowi Bisa Tuntaskan Masalah Migor
Di kesempatan yang sama, Wakil Menteri (Wamen) BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menuturkan, recovery penerbangan domestik sudah mulai terlihat, akhir-akhir ini.
Hal ini seiring adanya pelonggaran PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dan ditiadakannya persyaratan perjalanan. Seperti tes PCR (Polymerase Chain Reaction) dan antigen untuk penerbangan domestik.
“Kabar baiknya, ini menjadi momentum positif karena bisa memberikan kepastian cash flow yang lebih stabil bagi maskapai,” katanya.
Baca juga : WanaArtha Life Kebut Proses Masuknya Investor Baru
Sayangnya, momen positif ini tidak ditunjang dengan ketersediaan armada Garuda yang mencukupi untuk melayani masyarakat.
Pasalnya, situasi pandemi Covid-19 sejak dua tahun terakhir, membuat Garuda Indonesia mengalami penunggakan pembayaran sewa armada kepada lessor. Sehingga menyebabkan perusahaan beroperasi secara terbatas.
“Sekarang, hanya 29 pesawat yang dioperasikan dibanding kondisi sebelumnya. Hal ini turut mengurangi pendapatan Garuda secara signifikan,” katanya.
Baca juga : Lestari: Perjuangan Kartini Jadi Energi Perempuan Indonesia
Selain itu, kondisi pandemi juga mendorong terjadinya proses PKPU, lantaran ekuitas Garuda tercatat negatif mencapai 4,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS), setara Rp 64,8 triliun.
Belum lagi, kenaikan harga avtur akibat kondisi geopolitik di negara tertentu, turut memberikan tekanan tambahan bagi perseroan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya