Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Pengoperasian proyek fasilitas jasa kompresi gas Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Maleo, Gorontalo, diyakini bakal menghemat impor bahan bakar minyak (BBM) dan makin ramah lingkungan.
Corporate Secretary PT PLN Gas & Geothermal (PLN GG) Astro mengatakan, perusahaan bersama Pelayanan Energi Batam (PEB) dengan Kerja Sama Operasi (KSO) PT Atamora Tehnik Makmur-PT Sinergi Pratama Sukses (SPS) mengoperasikan proyek fasilitas jasa kompresi gas PLTG Maleo, Gorontalo.
"Saat ini kami mendapat pasokan gas LNG (liquefied natural gas) dari Bontang dengan pengantaran kapal," kata Astro dalam keterangannya, Senin (18/4).
Seperti diketahui, pasokan LNG dari Bontang itu diantar menggunakan kapal LNG milik PT GTS Internasional Tbk yang di carter oleh PT Pelindo Energi Logistik (PEL).
Baca juga : Elektabilitas Kader Banteng Dibayangi Kekuatan Golkar
Kemudian, gas cair itu diubah menjadi gas oleh kapal Floating Storage Regasification Unit (FSRU) yang juga dioperasikan oleh PT GTS Internasional.
Nantinya, proyek tersebut memiliki kemampuan output 24 standar kaki kubik per hari atau million standard cubic feet per day (MSCFD) untuk membangkitkan PLTG Maleo dengan kapasitas 100 MW.
Proyek ini merupakan kelanjutan dari Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) Nomor 13 Tahun 2020 dan diperbarui dengan Kepmen ESDM Nomor 2 Tahun 2022.
Direktur Utama PLN GG Mohammad Riza Affiandi sebelumnya mengatakan, infrastruktur tersebut merupakan fasilitas konversi BBM menjadi LNG untuk pasokan listrik di PLTG Maleo. Kontrak dimulai pada Juli-Agustus 2021.
Baca juga : Dilaporkan Ke Dewas, Hymne Dan Mars KPK Diyakini Tak Melanggar Aturan
Proyek strategis ini merupakan yang pertama dibangun setelah diketok palu aturan Kepmen ESDM 13 Tahun 2020 dan Kepmen ESDM 2 Tahun 2020 oleh anak usaha PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dan konsorsium nasional.
Dia menjelaskan, konversi BBM High Speed Diesel (HSD) menjadi gas dapat menurunkan biaya produksi PLTG sekaligus lebih ramah lingkungan. Selain itu, konversi ini dapat membantu mengurangi impor BBM.
Sementara itu, Direktur Proyek KSO Atamora-SPS Doliano M Siregar menyampaikan, gas dari LNG cargo yang ditransfer ke Floating Storage Regasification Unit (FSRU), disalurkan ke Pembangkit 100 MW lewat fasilitas kompresi milik KSO ATM-SPS.
Menurut dia, LNG untuk regasifikasi merupakan produksi dari sumur-sumur gas dalam negeri. Cadangannya masih berlimpah. PLTG Maleo sendiri berfungsi untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo.
Baca juga : Moeldoko Dihujani Kritikan Pedas
Untuk melengkapi detil kegiatan operasional, Direktur Operasional PLNGG Yudistian Yudis masih enggan berkomentar. "Saya tidak berkompeten memberikan komentar soal PLTG Maleo. Bisa koordinasi dengan sekper kami," akunya.
Dikonfirmasi terpisah, Direktur Jenderal Ketenagakistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana juga masih belum berkomentar soal PLTG karya PLN itu. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya