Dewan Pers

Dark/Light Mode

Top, 25 Bulan Berturut-turut Neraca Perdagangan Selalu Surplus

Rabu, 15 Juni 2022 21:44 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: Kemenko Perekonomian)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: Kemenko Perekonomian)

RM.id  Rakyat Merdeka - Berbagai tantangan global yang kian masif tidak menyurutkan rentetan kinerja impresif pada berbagai indikator sektor eksternal Indonesia. Performa positif tersebut salah satunya dibuktikan dengan nilai neraca perdagangan yang terus melanjutkan tren surplus pada Mei 2022 dengan nilai mencapai 2,89 miliar dolar AS atau setara Rp 42,2 triliun. Tren surplus ini bahkan telah dialami sejak Mei 2020 atau tepatnya selama 25 bulan secara berturut-turut.

“Kinerja neraca perdagangan yang kembali mencatatkan nilai surplus perlu disyukuri. Ini menjadi modal dan amunisi yang ampuh dalam menopang ketahanan sektor eksternal di tengah pemulihan ekonomi yang masih berlangsung,” ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, di Jakarta, Rabu (15/6).

Sebagai salah satu langkah mempertahankan surplus neraca perdagangan, Pemerintah terus berupaya mendorong ekspansi pasar ekspor ke berbagai negara. Pada Mei 2022, negara tujuan ekspor Indonesia yang terbesar adalah China dengan nilai 4,59 miliar dolar AS (setara Rp 67,7 triliun) atau 22,95 persen dari total ekspor. Diikuti India sebesar 2,26 miliar dolar AS atau setara Rp 33,3 triliun (11,27 persen), dan Amerika Serikat sebesar 2,05 miliar dolar AS atau setara Rp 30,2 triliun (10,26 persen).

Berita Terkait : Neraca Perdagangan Surplus, Rupiah Menguat Tipis

“Jalinan kerja sama bilateral maupun multilateral akan terus diperkuat Pemerintah untuk memperluas akses pasar produk-produk berkualitas hasil karya anak negeri. Termasuk Forum G20 dan berbagai forum kerja sama internasional lainnya akan menjadi media yang terus dioptimalkan untuk mencapai tujuan tersebut,” ujar Airlangga.

Surplus neraca perdagangan yang terus terjaga didukung kinerja ekspor yang semakin tangguh. Pada Mei 2022, nilai ekspor Indonesia mencapai 21,51 miliar dolar AS (setara Rp 317,4 triliun) atau tumbuh double digit sebesar 27,00 persen (yoy). Seluruh sektor nonmigas juga menguat jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya, seperti sektor pertambangan dengan kenaikan sebesar 114,20 persen (yoy), pertanian meningkat sebesar 20,32 persen (yoy), dan industri pengolahan dengan pertumbuhan sebesar 7,78 persen (yoy).

Bahkan, nilai ekspor Indonesia secara kumulatif selama periode Januari hingga Mei 2022 telah mencapai 114,97 miliar (setara Rp 1.696 triliun) atau tumbuh signifikan sebesar 36,34 persen. Di samping itu, struktur ekspor Indonesia yang didominasi sektor industri sebesar 65,73 persen juga mengindikasikan prospek yang sehat pada kinerja perdagangan ke depan dengan nilai tambah tinggi.

Berita Terkait : Top, Bandara Juanda Surabaya Angkut Penumpang Terbanyak Selama Libur Lebaran

“Untuk memacu nilai tambah ekspor, akselerasi program hilirisasi komoditas unggulan akan terus dipercepat. Program ini nantinya tidak hanya akan mendorong output nasional namun juga akan menyerap tenaga kerja sebesar-besarnya,” tutur Airlangga.

Sejalan dengan hal tersebut, posisi PMI Manufaktur Indonesia yang menunjukkan prospek output produksi sektor industri juga berada di level ekspansif pada Mei 2022 dengan nilai 50,8 atau melanjutkan level ekspansif selama sembilan bulan berturut-turut. Level PMI Indonesia tersebut juga masih berada di atas level PMI negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia (50,1) dan Myanmar (49,9).

Hasil survei PMI Manufaktur yang diterbitkan oleh S&P Global ini juga menunjukkan bahwa responden manufaktur Indonesia berekspektasi positif terhadap kinerja perekonomian selama 12 bulan ke depan, sehingga akan terus menambah kapasitas produksi mereka.

Berita Terkait : Ayo Buruan Booster, Jangan Mepet Mau Mudik

Beralih dari nilai ekspor, sisi impor Mei 2022 tercatat sebesar 18,61 miliar dolar AS atau setara Rp 274 triliun. Jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya, nilai impor telah meningkat sebesar 30,74 persen (yoy). Sokongan utama impor berasal dari kelompok bahan baku/penolong dengan porsi 78,77 persen dari total impor, disusul barang modal (13,09 persen), dan barang konsumsi (8,14 persen). Kondisi ini menunjukkan geliat produksi nasional semakin bertumbuh sehingga membutuhkan input bahan baku lebih besar.

Mencermati dinamika global yang masih akan penuh tantangan di masa depan, bersinergi dengan Bank Indonesia, Pemerintah akan mengoptimalkan pemanfaatan Local Currency Settlement (LCS) sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko eksternal. Untuk merealisasikan upaya tersebut, pada hari ini Bank Indonesia bersama Kemenko Perekonomian, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, Kadin, Apindo, dan Asosiasi Bank ACCD telah melaksanakan launching Task Force Nasional LCS sebagai bentuk sinergi dan kolaborasi dalam mengakselerasi pengembangan LCS.■