Dark/Light Mode

Rencana Perdamaian PKPU Resmi Disahkan

Garuda Kudu Lebih Gesit, Efisien, Ramping, Dan Lincah

Selasa, 28 Juni 2022 07:30 WIB
Pesawat Garuda Indonesia. (Foto: ANTARA).
Pesawat Garuda Indonesia. (Foto: ANTARA).

 Sebelumnya 
Menanggapi ini, pengamat penerbangan Alvin Lie menilai, tercapainya homologasi pada proses PKPU ini bukan berarti utang-utang Garuda selesai.

Alvin bilang, PKPU ini hanya mengubah atau memperpanjang jangka waktu pelunasan utang yang jatuh tempo menjadi 20 sampai 22 tahun ke depan. Dengan bunga rendah 0,1 persen, alias nyaris tanpa bunga.

Selain itu, ada sebagian utang yang dikonversi menjadi saham di Garuda.

Baca juga : Gus Halim: Dengan Masterplan Desa, Arah Pembangunan Desa Akan Lebih Efektif, Efisien, Dan Berkelanjutan

“Dengan demikian, Garuda tidak punya utang jatuh tempo, hanya ada utang lancar. Nah, ini tentu menyehatkan perputaran keuangan Garuda saat ini,” kata Alvin kepada Rakyat Merdeka.

Namun, menurutnya, ada masalah lain yang harus dihadapi Garuda. Yakni, menyusutnya alat produksi atau jumlah armada. Sebelum pandemi Covid-19, Garuda yang mengoperasikan 150 pesawat, kini hanya 34 pesawat. Sehingga kemampuannya untuk mendatangkan penghasilan juga otomatis menyusut.

“Garuda harus meningkatkan kapasitas produksinya lagi. Setahu saya, Garuda akan menambah lagi pesawatnya hingga 55 unit sampai akhir tahun ini,” katanya.

Baca juga : Rieke Diah Pitaloka Raih Gelar Doktor UI Dengan Nilai Cumlaude

Alvin melihat, dengan tidak ada utang jatuh tempo, Garuda Indonesia diyakini mampu mengembangkan lagi kapasitas produksinya.

Apalagi, Pemerintah juga menjanjikan PMN sebesar Rp 7,5 triliun. Bahkan, hasil PKPU pun telah menyetujui rencana bisnis yang akan dijalankan Garuda.

“Saya harap, bantuan itu segera dicairkan oleh Pemerintah agar kesehatan Garuda segera pulih,” katanya, seraya mengingatkan bahwa Garuda perlu mengubah paradigma. Dulu Garuda menyatakan sebagai maskapai terbesar dan terkuat di Indonesia.

Baca juga : Tanggap Bencana, Pegadaian Salurkan Bantuan Untuk Korban Gempa Pasaman Barat

“Tapi sekarang bukan lagi (maskapai) terbesar. Strategi persaingannya juga harus berubah. Harus lebih gesit, lebih lincah, ramping, efisien. Direksi pasti paham strateginya seperti apa,” sarannya.

Misalnya, kata dia, Garuda hanya menerbangi rute-rute yang menguntungkan saja. Jangan lagi terbang ke banyak rute namun rugi. Lalu, melakukan upaya peningkatan bisnis kargo dan lainnya.

“Rute-rutenya diperkuat lagi, baik dalam negeri maupun luar negeri. Lebih baik sedikit (rute) yang penting menghasilkan untung, bukan bikin rugi,” saran Alvin. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.