Dewan Pers

Dark/Light Mode

Minta Pemerintah Lindungi IHT

Akademisi Dan Pengusaha Berharap Tak Ada Kenaikan Cukai Rokok Pada 2023

Rabu, 27 Juli 2022 21:43 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah diminta melindungi produksi dan pasar rokok klembak menyan (KLM). Rokok tersebut merupakan produk otentik Indonesia yang selama ini diproduksi oleh pabrik rokok tradisional dengan segala keterbatasan modal dan pemasaran.

Pabrik rokok tradisional yang dimiliki oleh UMKM (Usaha kecil menengah) ini telah menggerakkan perekonomian masyarakat. Hal tersebut disampaikan Ketua Koalisi Masyarakat Tembakau (KMT) Bambang Elf. 

"Sudah seharusnya pemerintah mengawasi perusahaan rokok multinasional yang banyak mengeluarkan produk rokok murah untuk menghantam produsen rokok rakyat," ujar Bambang dalam keterangan tertulis, Rabu (27/7).

Dia menilai, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 109/PMK/010/2022 yang mengatur cukai produksi KLM di atas empat juta batang per bulan akan masuk kategori I dengan cukai Rp 440 per batang, merupakan bentuk perlindungan pemerintah terhadap produsen maupun perusahaan rokok kecil yang memproduksi rokok kemenyan.

Berita Terkait : Ketum TP PKK Minta Orang Tua Awasi Penggunaan Gadget Pada Anak

Namun hal tersebut dirasa masih kurang. Sebab, bagi perusahaan besar berskala internasional yang dapat memproduksi rokok kemenyan dalam jumlah besar, besaran cukai tersebut dianggap tidak ada masalah.

"Hal itu belum cukup. Pemerintah perlu membuat program yang lebih nyata untuk melindungi perusahaan dan produsen rokok skala UMKM," tegasnya.

Sementara itu, dosen dan peneliti Pusat Pengkajian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya Imaninar mengatakan, kenaikan tarif cukai untuk rokok kemenyan akan memberikan keuntungan bagi pemerintah melalui penerimaan cukai.

Tetapi, pengenaan tarif cukai tersebut dapat berdampak secara langsung pada kenaikan harga produk rokok kemenyan yang sebagian besar konsumennya adalah masyarakat berpendapatan rendah seperti petani dan buruh.

Berita Terkait : Airlangga: Tangani Krisis Global Dan Perang Ukraina, Dunia Berharap Banyak Pada Jokowi

Selain itu, produsen yang terlibat di dalamnya sebagian besar juga merupakan produsen skala kecil yang tercermin dari jumlah produksinya yang hanya sebanyak 37,2 juta batang pada 2021.

"Kenaikan jumlah produksi KLM tak lain akibat adanya kenaikan permintaan. Kenaikan tersebut salah satunya merupakan imbas dari kenaikan harga rokok di jenis SKM, SPM, dan SKT yang terus mengalami peningkatan signifikan. Sehingga, para perokok akan mencari alternatif jenis rokok lain yang lebih murah dan terjangkau," paparnya.

Menurut Imaninar, sejumlah penelitian menunjukkan kenaikan tarif cukai dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap peredaran rokok ilegal. Salah satu penyebab tingginya peredaran rokok ilegal adalah untuk memenuhi permintaan dari masyarakat.

"Data menunjukkan bahwa kenaikan jumlah rokok ilegal bersamaan dengan semakin menurunnya jumlah volume produksi penjualan rokok segmen low. Para konsumen rokok di segmen low tersebut akan berpindah kepada rokok ilegal ketika harga rokok segmen low terus mengalami kenaikan harga," jelas Imaninar.

Berita Terkait : Tenang, RUU KUHP Akan Dibuka Ke Publik Kok...

Menyambung pernyataan Imaninar, Bambang meminta pemerintah untuk tidak menaikkan cukai rokok di tahun depan.

"Lebih bijaksana jika, pemerintah di 2023 mendatang tidak menaikkan cukai rokok yang sudah berkali-kali naik," ucapnya. ■