Dewan Pers

Dark/Light Mode

Jababeka Dukung Pengembangan Kendaraan Otonom

Sabtu, 20 Agustus 2022 12:33 WIB
Ilustrasi kendaraan otonom. (Foto: Ist)
Ilustrasi kendaraan otonom. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kendaraan tanpa awak atau kendaraan otonom (autonomous vehicle/AV) merupakan  moda transportasi masa depan dan akan menjadi bagian dari sistem transportasi cerdas (intelligent transport system/ITS).

Kendaraan ini memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya, tepat waktu, konsumsi bahan bakarnya hemat hingga 15 persen, mengurangi emisi karbon, mengatasi kemacetan lalu lintas, dan mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi akibat kelalaian manusia (human error) hingga 40 persen.

Dengan sejumlah keunggulannya tersebut, pemerintah ingin mengoperasikan AV di kawasan Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur. Ini sejalan dengan konsep IKN, yakni green and smart city yang mengutamakan penggunaan energi baru terbarukan dan ramah lingkungan. Jadi, penggunaan kendaraan listrik dan kendaraan otonom sejalan dengan konsep IKN.

Meski begitu masih ada sejumlah tantangan dalam mewujudkan AV sebagai bagian dari sistem transportasi nasional. Di antaranya, kesiapan jalan, kondisi lingkungan, jaringan internet, regulasi teknis yang terkait dengan laik jalan, termasuk pelaksanaan uji kendaraan.

Pemerintah saat ini tengah menyusun dan mematangkan regulasi yang terkait dengan kendaraan otonom. Untuk mewujudkan AV menjadi bagian dari sistem transportasi nasional, pemerintah membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari banyak pihak, seperti akademisi dan kalangan swasta.

Demikian disampaikan Menteri Perhubungan Dr. Budi Karya Sumadi dalam sambutan kuncinya pada webinar Melirik Prospek Kendaraan Otonom di Indonesia: Peluang serta Tantangannya, belum lama ini. Webinar yang diselenggarakan secara daring ini merupakan hasil kolaborasi antara President University (PresUniv), Kementerian Perhubungan dan PT Jababeka & Co. 

Lebih dari 500 peserta mengikuti webinar ini. Sebagian mereka adalah mahasiswa, dosen dan perwakilan dari sekitar 60 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. 

Berita Terkait : Ekspansi Ke Asia Tenggara, KVG Genjot Pengembangan Bisnis Kenaf Di Aceh

Sementara, dalam sambutan pembukanya, Direktur PT Jababeka Tbk. Suteja Sidarta Darmono mengatakan, pihaknya siap mendukung kehadiran kendaraan otonom di Indonesia. Suteja memaparkan, Jababeka saat ini tengah mengembangkan Jababeka Silicon Valley atau Correctio lewat kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indogen Capital dan PT Bisa Artifisial Indonesia (BISA AI). 

Jababeka mengembangkan Correctio dengan dukungan tiga pilar, yakni Industry 4.0, Society 5.0, dan Transit Oriented Development (TOD). Correction hadir untuk mendukung perusahaan-perusahaan yang ingin migrasi ke Industry 4.0.

Untuk mendukung itu, ungkap Suteja, pihaknya tengah membangun jaringan internet 5G di Jababeka Silicon Valley. AV, lanjut dia, membutuhkan dukungan infrastruktur. Salah satunya adalah koneksi internet yang kuat. “Dengan adanya jaringan internet dengan sinyal yang kuat, AV dapat digunakan di kawasan ini,” kata Suteja. 

Pembicara lainnya, Staf Utama Menteri Perhubungan bidang Transportasi Darat dan Konektivitas, Irjen Pol. (Purn.) Budi Setiyadi; Rektor PresUniv Prof. Chairy yang juga pakar perilaku konsumen, Managing Director PT Jababeka Infrastruktur, Dr. Agung Wicaksono dan pakar pemasaran kontemporer dan peneliti kendaraan otonom dari PresUniv, Jhanghiz Syahrivar, Ph.D.

Menurut Budi Setiyadi, ada lima elemen yang menentukan perkembangan kendaraan bermotor, yakni persepsi, lokalisasi, perencanaan, kendali kendaraan (vehicle control/driver control) dan sistem manajemen.

Menurut Budi Setiyadi, selain memiliki beberapa kelebihan, kendaraan otonom juga ada kekurangannya, yakni teknologinya masih mahal. Ini membuat harga kendaraan otonom menjadi tinggi. Selain itu, karena kendaraan ini dikendalikan komputer, ada potensi penyadapan.

Di Indonesia, saat ini kendaraan otonom yang berbasis tenaga listrik telah hadir sejak Mei 2022, namun masih dioperasikan secara terbatas. Kendaraan dengan nama Navya Arma saat ini beroperasi di Q Big BSD City dan kawasan BSD Green Office Park, keduanya di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Banten. 

Berita Terkait : Franda Suka Baca Buku Dan Nikmati Wewangian Saat Santai

Sementara, Chairy membahas prospek kendaraan otonom dari perspektif perilaku konsumen. Menurut Chairy, saat ini AV masih menjadi sesuatu yang baru di masyarakat. Maka, agar kehadirannya bisa diterima, yakni masyarakat mau menggunakannya secara rutin, proses adopsinya perlu dipersiapkan. Apalagi, 

AV adalah produk inovasi yang dapat mengubah perilaku konsumen dan sistem transportasi dunia, termasuk Indonesia. 

Sementara, Managing Director PT Jababeka Infrastruktur, Dr. Agung Wicaksono memaparkan, penggunaan AV atau kendaraan otonom di berbagai negara. Kata Agung, Uji coba AV paling cocok dilakukan di lingkungan kampus. Ia lalu memaparkan pengalamannya menggunakan AV di Nanyang Technological University, Singapura.

Agung juga memaparkan kesiapan kawasan industri Jababeka untuk menggunakan dan menjadi bagian dari sistem transportasi masa depan. “Di kawasan Jababeka sudah ada charging untuk electric vehicle (EV). Lalu, di kawasan ini pula sudah ada pabrik baterai dan charging untuk EV,” kata Agung.

Selain itu, ungkap Agung, Jababeka akan menjadi titik temu berbagai jaringan transportasi publik masa depan. Akan ada Light Rail Transit (LRT) yang sebentar lagi beroperasi dengan stasiun di Bekasi Timur. Lalu, tahun depan kereta cepat Jakarta-Bandung juga akan beroperasi. Stasiunnya berada di Karawang, tak jauh dari Jababeka.

"Kemudian, stasiun terakhir Mass Rapid Transport (MRT) jaringan timurbarat dari Balaraja di Tangerang akan berhenti di Cikarang, Bekasi,” paparnya. 

Peneliti dari PresUniv, Jhanghiz Syahrivar Ph.D., memaparkan hasil risetnya tentang potensi pasar kendaraan otonom. Katanya, saat ini populasi dunia sudah mulai menua. “Semakin banyak penduduk dunia yang berusia lebih dari 60 tahun,” ucap Jhanghiz. 

Berita Terkait : Pengamat Dukung Program PATEN Yang Dikeluarkan KIB

Di Indonesia, misalnya, jumlahnya mencapai 25 juta atau sekitar 10 persen dari populasi. Ditambah dengan para penyandang difabel, mereka ini menjadi pasar potensial dari kendaraan otonom. 

Jhanghiz juga melihat pentingnya penggunaan EV di industri pariwisata. “Itu akan membuat wajah industri pariwisata menjadi lebih futuristik,” tegasnya. 

Selain itu, Jhanghiz juga menyoroti masalah kurangnya tenaga pengemudi di sektor logistik, yang mengoperasikan truk-truk berukuran besar. “EV bisa menjadi solusi atas masalah ini,” katanya. 

Selebihnya, potensi EV juga tercermin dari terus meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengurangi emisi karbon, menurunkan tingkat kecelakaan lalu lintas akibat human error, serta pentingnya efisiensi dalam berkendara. Meski begitu Jhanghiz juga khawatir dengan masih tingginya risiko gagal sistem.