Dark/Light Mode

Minta Pemerintah Kaji Ulang Program Kompor Listrik

Brando Susanto: Hanya Bisa Digunakan Rumah Tangga Dengan Daya Besar

Sabtu, 24 September 2022 16:42 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah pihak mengkritik rencana pemerintah yang ingin melakukan migrasi penggunaan kompor gas elpiji menjadi kompor listrik. Mereka meminta pemerintah mengkaji ulang rencana tersebut.

Pemerintah membagikan kompor listrik sekitar 300 ribu unit di Bali. Namun kompor listrik didesain menggunakan Miniature Circuit Breaker (MCB) berdaya 3.500 watt. Padahal rumah tangga miskin masih menggunakan daya 450 VA.

"Kompor listrik hanya bisa digunakan oleh rumah tangga yang menggunakan daya besar," ujar pemerhati dinamisasi energi Brando Susanto, Sabtu (24/9).

Baca juga : Lestari Minta Pemerintah Tak Abaikan Pembangunan Sumber Daya Manusia

Presiden Jokowi sendiri memastikan, pemerintah tidak akan menghapus daya listrik 450 VA atau mengalihkan ke 900 VA. Brando menyarankan pemerintah untuk fokus berdayakan keadilan Listrik di desa-desa. "Di desa-desa masih banyak yang byar pet," tuturnya.

Diingatkannya, listrik dan elpiji sama-sama produk energi tidak terbarukan dan harganya ditentukan oleh currency luar dan market Internasional.

Selain itu, menurut Brando, orang Indonesia kebanyakan memasak dengan berbagai bumbu agar sedap. Hal itu membutuhkan waktu lama dengan kompor listrik. "Jangan hanya dites perbandingan untuk memasak panas saja dengan kompor listrik," katanya.

Baca juga : Pemerintah Dorong Produsen Susun Road Map Pengurangan Sampah 

Senada dengan Brando, Anggota VII DPR RI Mulan Jameela juga mengkritik rencana pemerintah yang ingin melakukan migrasi penggunaan kompor gas elpiji menjadi kompor listrik.

"Ini saya jujur ya, kapasitas saya sebagai anggota dewan dan sebagai emak-emak. Kami di rumah saja punya kompor listrik tetap tak bisa lepas dari yang gas, karena masakan Indonesia ya beda. Bukan (seperti) masalah orang bule yang pancinya seukuran begitu saja," ungkap Mulan, saat rapat di Komisi VII DPR RI.

Hal senada juga diungkapkan Ekonom Bhima Yudhistira. Dia menilai, masyarakat Indonesia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk beradaptasi memasak dengan menggunakan kompor listrik.

Baca juga : Publik Mau Hasilnya Cepat Diungkap, Biar Cepat Beres

Hal ini tidak terlepas dari budaya memasak di Indonesia. Aspek budaya ini kata Bhima, tidak hanya berlaku bagi masyarakat kelas menengah ke bawah atau miskin. Melainkan juga kepada rumah tangga kalangan menengah atas.

"Kelompok menengah atas sebenarnya juga sudah mengenal kompor listrik sejak lama," bebernya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.