Dewan Pers

Dark/Light Mode

Rupiah Anjlok Kena Dampak Kebijakan Pengetatan AS

Jumat, 7 Oktober 2022 09:52 WIB
Rupiah dan dolar AS. (Foto: Ist)
Rupiah dan dolar AS. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah jelang akhir pekan melemah 0,35 persen ke level Rp 15.242 per dolar AS dibanding perdagangan kemarin di level Rp 15.188 per dolar AS. 

Mayoritas mata uang di kawasan Asia bergerak variasi terhadap dolar AS. Baht Thailand minus 0,1 persen, peso Filipina melemah 0,34 persen, won Korea Selatan turun 0,6 persen, rupee India anjlok 0,45 persen, yen Jepang naik 0,08 persen, yuan China menguat 0,13 persen, dan dolar Singapura menguat 0,02 persen.

Berita Terkait : HUT Ke-77, Pengamat Beberkan Pekerjaan Rumah TNI

Indeks dolar AS terhadap mata uang utama lainnya melonjak lebih dari 1 persen menjadi 112,22. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro melemah 0,98 persen ke level Rp 14.922, terhadap poundsterling Inggris minus 1 persen ke level Rp 17.105, dan terhadap dolar Australia melemah 1,06 persen ke level Rp 9.775.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, indeks dolar menguat pasca pejabat tinggi Federal Reserve memperingatkan, bahwa bank sentral AS belum hampir mengakhiri siklus kenaikan suku bunganya.

Berita Terkait : Kepala BSKDN Kemendagri Dorong Kebijakan Afirmatif Dalam Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender

“Siklus pengetatan kebijakan AS masih dalam masa-masa awal dan memperingatkan secara eksplisit, agar tidak bertaruh pada prediksi awal,” jelasnya dalam riset, Jumat (7/10).

Terlepas dari itu, Bostic menegaskan bahwa AS masih berada dalam tren lonjakan inflasi. Peringatan itu menjadi lebih penting setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, terutama Rusia, bertindak untuk menjaga harga minyak tetap tinggi dengan mengumumkan pemotongan besar dalam produksi mereka mulai bulan depan.

Berita Terkait : Rupiah Makin Anjlok Ke Level Rp 15.185

Dari dalam negeri, secara tahunan inflasi Indonesia tercatat 5,95 persen (year-on-year/yoy). Ke depan, tekanan inflasi diperkirakan meningkat, akibat dampak lanjutan (second round effect) dari penyesuaian BBM bersubsidi, tekanan inflasi dari sisi permintaan yang tinggi, dan masih tingginya harga energi dan pangan global.

Ia memproyeksi, nilai tukar rupiah bergerak berfluktuatif sepanjang hari ini, namun ditutup melemah di rentang Rp 15.170 - Rp 15.230 per dolar AS.