Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Siapkan Diri Hadapi Badai Dunia
Kalau Ekonomi Kuat, Kita Tak Perlu Jadi Pasien IMF
Minggu, 16 Oktober 2022 06:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah mewaspadai gejolak perekonomian global agar Indonesia tak menjadi “pasien” Dana Moneter Internasional (IMF). Langkah antisipasi dan mitigasi risiko mesti disiapkan dalam menghadapi badai yang sempurna atau perfect storm tahun depan.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menerangkan, saat ini sudah ada 28 negara yang menjadi pasien IMF. Tidak hanya negara berkembang, kemungkinan ada juga negara maju yang harus mendapatkan bantuan dari IMF agar bisa bertahan di tengah tekanan ekonomi global.
“Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tidak mendapatkan bantuan langsung lagi dari IMF. Namun begitu, bukan berarti Indonesia menjadi negara yang relatif aman atau tidak membutuhkan donor dari lembaga sejenis,” kata Yusuf kepada Rakyat Merdeka.
Baca juga : Sandiaga Uno: Semoga Bawa Berkah Dan Panen Melimpah
Meski Indonesia tidak mendapatkan bantuan dari IMF di tahun lalu atau ketika pandemi Covid-19 terjadi, Indonesia masih mendapatkan bantuan dari Bank Dunia untuk program penanggulangan pandemi Covid-19 dan perlindungan sosial.
“Meski ada optimisme kita menjadi salah satu negara yang pemulihan ekonominya cukup baik di dunia, tapi kita tetap membutuhkan bantuan dari lembaga keuangan internasional. Ini membuat kita harus waspada. Potensi jadi pasien IMF tetap terbuka,” kata Yusuf.
Menurutnya, jika kita bicara konteks resesi, saat ini peluang Indonesia terkena dampak gejolak global relatif masih kecil. Namun demikian, masalah kenaikan inflasi di dalam negeri yang tinggi akan menjadi hambatan bagi Pemerintah untuk mendorong proses pemulihan ekonomi. Ataupun pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Baca juga : Penataan Permukiman Kumuh Kelayan Barat
Jika tidak tertangani tepat, menurut Yusuf, kondisi ini akan menekan pertumbuhan ekonomi ke level di bawah proyeksi Pemerintah, di atas 5 persen. Kondisi ini juga mempengaruhi daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah dan kelompok bawah yang berdampak langsung terhadap pemulihan ekonomi nasional.
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, kondisi ekonomi global saat ini sangat dinamis sehingga perlu penguatan fundamental ekonomi agar Indonesia tidak masuk jadi pasien IMF.
“Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup baik di kuartal II-2022, tapi kita perlu mengejar ketertinggalan. Karena pesaing di wilayah ASEAN seperti Vietnam dan Filipina masing-masing mencatatkan pertumbuhan 7,7 persen dan 7,4 persen pada kuartal yang sama,” kata Bhima kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Baca juga : Ganjar Tuai Dukungan Emak-Emak Kabupaten Bone Jadi Presiden
Menurutnya, pada saat resesi ekonomi terjadi, pelaku usaha termasuk sektor manufaktur akan mencari lokasi basis produksi di negara yang mampu memberikan pertumbuhan tinggi.
“Jika pertumbuhan ekonomi kita di bawah negara tetangga, investor bisa saja kabur dari Indonesia dan lebih pilih negara tetangga,” ucqp Bhima.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya