Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Siapkan Diri Hadapi Badai Dunia
Kalau Ekonomi Kuat, Kita Tak Perlu Jadi Pasien IMF
Minggu, 16 Oktober 2022 06:20 WIB
Sebelumnya
Dia juga mengatakan, cadangan devisa Indonesia sampai September 2022 sebesar 130,8 miliar dolar AS. Jumlah tersebut masih relatif tinggi meski ada koreksi.
Kendati begitu, dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB), maka rasio cadangan devisa cuma 8,4 persen. Perlu didorong agar kemampuan dalam intervensi stabilitas kurs rupiah semakin baik.
Selain itu, rasio anggaran perlindungan sosial di Indonesia terhadap PDB baru mencapai 2,5 persen pada 2023. Idealnya, dibutuhkan setidaknya 4-5 persen rasio anggaran perlindungan sosial untuk menahan lonjakan angka kemiskinan baru akibat resesi dan inflasi.
Baca juga : Sandiaga Uno: Semoga Bawa Berkah Dan Panen Melimpah
Di bidang pangan, peringkat Indonesia dalam Global Food Security Index tahun 2022 menempatkan Indonesia di posisi ke-63 dunia. Angka tersebut juga lebih rendah dibanding Turki, Vietnam dan Rusia.
Kerentanan pangan ini, menurut Bhima, perlu dijawab dengan peningkatan alokasi subsidi pupuk, memastikan pangan lokal mampu mengurangi ketergantungan impor, dan bantuan pembiayaan lebih besar bagi petani tanaman pangan.
“Cara-cara ini bisa diterapkan Pemerintah agar perekonomian Indonesia makin kuat. Sehingga Indonesia tidak perlu jadi pasien IMF selanjutnya,” tegas Bhima.
Baca juga : Penataan Permukiman Kumuh Kelayan Barat
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, Pemerintah sangat berhati-hati dengan kondisi pelemahan ekonomi dunia, yang merupakan dampak dari the perfect storm, yaitu pandemi Covid-19 yang belum selesai, memanasnya konflik Rusia-Ukraina, perubahan iklim, kenaikan harga komoditas, dan inflasi.
Dia menyebutkan, saat ini lebih dari 55 negara mengalami pelambatan perekonomian. Tekanan inflasi pun telah membuat bank-bank sentral di berbagai negara mengetatkan likuiditas dan menaikkan suku bunga acuan.
Seperti Amerika Serikat yang suku bunganya sudah naik 300 basis poin, Uni Eropa sudah naik 125 basis poin, bahkan Indonesia pun sudah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin.
Baca juga : Ganjar Tuai Dukungan Emak-Emak Kabupaten Bone Jadi Presiden
“Namun begitu, faktor eksternal masih sangat kuat sehingga Indonesia tidak rentan terhadap masalah keuangan. Bahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di antara negata G20 nomor dua tertinggi setelah Saudi Arabia,” ujar Airlangga dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2022, Kamis (13/10).
Meski demikian, Airlangga menilai, laju inflasi Indonesia relatif moderat di kisaran 5 persen secara bulanan, dibandingkan negara lain. Seperti Amerika Serikat yang sudah di atas 8 persen, dan Uni Eropa yang di atas 9 persen. Kondisi ini tak lepas karena adanya sinergi baik antara kebijakan fiskal dan moneter. [NOV]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya