Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
25.23%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58.47%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16.30%
Ganjar & Mahfud
Waktu Update 20/02/2024, 00:17 WIB | Data Masuk 100%

Kinerja Keuangan Bagus Dan Terus Tumbuh

Saham BTN Diramal Meroket

Jumat, 18 November 2022 07:30 WIB
Staf khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Arya Mahendra Sinulingga. (Foto: Istimewa).
Staf khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Arya Mahendra Sinulingga. (Foto: Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Penerbitan saham baru PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk lewat skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue, diyakini sangat dinanti-nanti para investor. Apalagi harga saham BBTN saat ini masih di bawah harga pasar.

Staf khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Arya Mahendra Sinulingga mengatakan, right issue BTN akan sangat berbeda. Sebab, right issue tersebut tergolong langka, karena BTN terakhir melakukan aksi korporasi serupa pada 2012.

“Yang melakukannya adalah institusi perbankan dengan fokus bisnis yang spesifik, karena menjalankan penugasan negara,” kata Arya dalam keterangannya, Rabu (16/11).

Baca juga : Ketahuan Bekas Pakai, Tapi Kontrak Tak Bisa Dibatalkan

Arya menyebut, ada tiga fakta menarik lain yang mesti dicermati investor terkait right issue ini. Fakta pertama, efek dilusi. Keputusan Kementerian BUMN mengizinkan BTN melakukan right issue merupakan bentuk apresiasi pemegang saham pengendali terhadap investor publik. Ini untuk meningkatkan atau mempertahankan porsi kepemilikan di bank ini.

“Jika opsinya private placement (tanpa HMETD), investor publik justru kehilangan haknya untuk mempertahankan persentase kepemilikan. Kami tidak memilih opsi ini sebagai bentuk terima kasih atas dukungan investor publik selama ini,” ungkapnya.

Mengacu ke prospektus awal, investor yang tidak melaksanakan (exercise) haknya dalam right issue ini akan terkena efek dilusi.

Baca juga : Komitmen Ganjar Pranowo Kembangkan EBT Telah Dirasakan Manfaatnya Oleh Warga

“Jadi, akan rugi kalau investor tidak eksekusi right,” tegas Arya.

Mengapa investor rugi kalau tidak exercise? Arya bilang, hal ini terkait dengan fakta kedua. Menurutnya, saham BTN memang murah, tapi sahamnya murah, tapi tidak murahan.

Kinerja keuangannya bagus dan terus bertumbuh. Justru yang terjadi saat ini, saham BBTN undervalued dan sama sekali tidak mencerminkan fundamental kinerjanya.

Baca juga : Begini Tantangan Skuad Persib Saat Liga 1 Berhenti

“Intinya, performa harga saham belum sejalan dengan kinerja keuangannya,” katanya.

Arya menyebut, Price to Book Value (PBV) Bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) lain sudah di atas 2 kali, sementara BTN baru 0,76 kali.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.