Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Pelaku usaha pelayaran mengaku ketar ketir menghadapi ancaman resesi global pada 2023. Ketua Umum DPP Indonesian Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan, seperti banyak sektor lainnya, industri pelayaran nasional tengah dihadapkan situasi sulit.
Di tengah pemulihan setelah diterjang badai Covid-19, kata Carmelita, kini pelayaran nasional harus siap menghadapi ancaman resesi global di 2023. Namun, Carmelita optimistis ekonomi nasional akan kuat menghadapi kondisi global.
Hal ini seiring dengan proyeksi banyak lembaga terhadap ketahanan Indonesia hadapi situasi ekonomi tahun depan.
"Banyak lembaga memproyeksikan ekonomi nasional masih di jalur pertumbuhan positif di tahun depan. Tapi, tetap kita harus memastikan bahwa daya beli masyarakat di dalam negeri terjaga baik, sehingga ekonomi di dalam negeri tetap kuat," katanya di Jakarta, Jumat (25/11).
Untuk itu, Bos Andhika Lines ini menilai, sektor pelayaran nasional tidak akan terlalu terdampak dari sentimen negatif kondisi ekonomi 2023. Walaupun banyak pengusaha saat ini memilih menunda untuk membeli kapal-kapal baru dalam menghadapi resesi global pada tahun depan.
Baca juga : Airlangga Klaim Partai Golkar Paling Siap Hadapi Pemilu 2024
Selain itu, ia menjelaskan, jika terjadi penurunan kegiatan ekspor pun di tahun depan maka akan berdampak pada kegiatan kapal angkutan ekspor impor dan kapal feeder.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Oktober 2022 mencapai 244,14 miliar dolar AS atau naik 30,97 persen dibanding periode yang sama tahun 2021. Sementara ekspor non migas mencapai 230,62 miliar dolar AS atau naik 30,61 persen.
Pada sektor angkutan kontainer di domestik, kata Carmelota masih akan tumbuh positif mengikuti pertumbuhan ekonomi nasional di tahun depan. Adapun, pada sektor curah kering batu bara, masih akan tumbuh positif meski tidak secemerlang sebelumnya, seiring dengan kebutuhan batu bara di dalam negeri, begitu juga dengan kebutuhan ekspor.
Kementerian ESDM menyebutkan, kebutuhan batu bara PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sekitar 161,15 juta ton batu bara pada 2023 mendatang, atau meningkat dari 2022 yang mencapai 130 juta ton.
Adapun produksi batu bara pada 2023 ditargetkan bisa mencapai 694 juta ton. Di sisi lain, kebijakan hilirisasi sumber daya alam (SDA) yang tengah digenjot pemerintah juga sedikit banyak akan memberikan dampak terhadap angkutan curah kering.
Baca juga : Menpora: Peran PWI Penting Untuk Sosialisasi DBON
Sementara itu, perdagangan minyak dunia mengalami peningkatan signifikan sebagai akibat dari pemulihan ekonomi selepas Covid-19. Volume diperkirakan meningkat 3 persen pada 2022, walaupun masih sedikit lebih kecil dibandingkan sebelum Covid-19 yang mencapai 5 persen.
Tapi dampak perang Rusia-Ukraina menyebabkan permintaan rute perdagangan yang lebih panjang, yaitu 5 persen bahkan untuk produk kilang peningkatannya mencapai 8 persen.
Pada tahun 2023, volume perdagangan minyak diperkirakan akan memingkat sebesar 2 persen, dengan potensi peningkatan ton mile akibat perubahan pola dan rute pedagangan sebesar 6 persen.
Dari sisi suplai, penambahan tonase tidak terlalu signifikan yang masih mencerminkan sentimen permintaan rendah karena Covid-19, serta perubahan persyaratan teknologi dan tingginya harga pembangunan kapal baru.
Walau pun kapal tertahan untuk diskrap karena tingkat market freight yang melonjak, penambahan tonase tidak berubah sinifikan. Melihat kondisi seperti itu, tanker market tahun 2023 menunjukan kondisi yang cukup menjanjikan. Untuk pasar domestik, kondisi market menunjukan gejala yang serupa.
Baca juga : JK: PMI Bersama Relawan Turun Bantu Warga Cianjur
Penggunaan B30 atau B40 juga memicu terjadinya penaikan jenis kapal angkutan cair (tanker) di domestik. Meski begitu, penggunaan bahan bakar tersebut juga menjadi tantangan karena adanya penambahan biaya maintenance mesin kapal. Pada jenis kapal offshore, masih akan tetap tumbuh meski tidak akan signifikan pada 2023. Karena belum ada tanda-tanda peningkatan kebutuhan kapal penunjang offshore.
Menurut Carmelita, pelayaran nasional juga lebih percaya diri dalam menghadapi sentimen global tahun depan, mengingat pelayaran telah banyak mengambil pelajaran dan berhasil melewati badai Covid-19.
Namun begitu, dia mewaspadai adanya penaikan biaya perawatan kapal karena fluktuasi nilai tukar rupiah, mengingat 70 persen komponen kapal masih impor.
"Jadi ancaman resesi pada 2023 mungkin akan berdampak bagi pelayaran nasional, tapi selama konsumsi domestik kita masih tumbuh, maka dampaknya tidak signifikan. Kita meski optimitis, tapi harus bersikap waspada atas situasi ekonomi tahun depan," tegasnya. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya