Dark/Light Mode

Jadi Alternatif Alat Pembayaran

Rupiah Digital Segera Dirilis Bank Indonesia

Selasa, 6 Desember 2022 07:30 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan arah kebijakan BI tahun 2023 dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (30/11/2022). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/YU).
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan arah kebijakan BI tahun 2023 dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (30/11/2022). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/YU).

RM.id  Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) berharap tidak lama lagi bisa merilis uang digital Bank Sentral atau Central Bank Digital Currency (CBDC). Serupa dengan uang konvensional, uang tersebut berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah.

Sebagai langkah awal, BI telah menerbitkan White Paper pengembangan CBDC pada 30 November 2022.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, saat ini Bank Sentral tengah mematangkan segala regulasi dan teknis rupiah digital.

Baca juga : Pengamat Dorong Pemerintah Segera Realisasikan Komitmen Investasi

“White Paper yang dinamakan sebagai Proyek Garuda ini, merupakan desain level atas sebagai langkah menjaga kedaulatan mata uang rupiah secara digital,” jelas Perry dalam talkshow rangkaian BIRAMA (BI Bersama Masyarakat) melalui YouTube BI, kemarin.

Perry membeberkan alasan BI bakal menerbitkan CBDC. Pertama, Bank Sentral melihat BI adalah satu-satunya lembaga negara yang berwenang mengeluarkan rupiah digital. “Jika ada pihak lain yang mengeluarkan, sudah pasti itu tidak sah,” tandasnya.

Kedua, BI ingin melayani masyarakat. Masyarakat secara demografi masih ada yang ingin menggunakan alat pembayaran konvensional (uang kertas) dan berbasis kartu (ATM debit atau kredit). Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat membutuhkan alat pembayaran berbentuk rupiah digital.

Baca juga : Jokowi Terima Surat Kepercayaan Enam Dubes Negara Sahabat

“Sebagai Bank Sentral yang melayani masyarakat yang membutuhkan alat pembayaran digital, maka kami siapkan digitalisasi sistem pembayaran,” ucap Perry.

Selain itu, BI ingin melayani masyarakat untuk dapat menggunakan tiga jenis alat pembayaran. Yakni uang kertas, uang berbasis kartu atau rekening dan uang digital.

Kemudian alasan ketiga, uang digital dapat digunakan sebagai alat kerja sama internasional. Itulah mengapa pihaknya gencar bekerja sama dengan lembaga-lembaga internasional untuk mengembangkan CBDC.

Baca juga : Platform Webtoon Asal Korea Sasar anak-anak Indonesia

Seperti pada perhelatan Presidensi G20 lalu, BI sudah menyepakati kerja sama ini untuk meningkatkan inklusi keuangan. Bahkan ke depannya, akan ada konversi nilai tukar digital rupiah dengan digital dolar, digital euro, digital ringgit. “Nilai tukar dengan mata uang negara lain akan terus kami kembangkan,” katanya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.