Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tahan Kenaikan Suku Bunga Acuan BI, Pemerintah Harus Bisa Turunkan Inflasi
Senin, 19 Desember 2022 21:53 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah perlu menurunkan inflasi sesegera mungkin, terutama pada Desember dan Januari 2023. Sebab, ketika pemerintah mampu menurunkan inflasi, Bank Indonesia (BI) diprediksi tidak akan terlalu agresif menaikkan suku bunga acuan.
"Khususnya untuk mengantisipasi harga barang yang bergejolak. Ini disebabkan oleh kemungkinan BI menaikkan suku bunganya pada kuartal I-2023," tegas Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, Senin (19/12).
Menurut Josua, kondisi inflasi Indonesia saat ini cenderung mengalami normalisasi. Dia memperkirakan, inflasi akhir 2023 bisa berada di bawah 4 persen. Oleh karena itu, dari sisi inflasi, diperkirakan pada akhir 2023 akan berada pada kisaran 3,0 persen-3,5 persen.
Meski demikian, Josua menyarankan pemerintah mewaspadai goncangan pada rupiah ketika resesi global benar-benar terjadi. Hal itu akan memicu kenaikan harga barang yang didatangkan dari luar negeri.
"Salah satu risiko yang perlu diperhatikan pemerintah saat ini terkait inflasi adalah potensi shock pada rupiah di saat sentimen risk-off menguat bila resesi terjadi, yang berakibat pada kenaikan harga barang impor," ujarnya.
Baca juga : Tak Ada Alasan Ditunda, Pemilu 2024 Harus Lahirkan Pemimpin Beretika
Ketika pemerintah mampu menahan inflasi sehingga harga barang tidak terlalu tinggi, maka BI juga akan mempertahankan suku bunga acuan. Namun, ketika kenaikan harga tidak terbendung, BI diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 6 persen pada 2023.
Hal itu akan mengulang sejarah 2018, ketika suku bunga mencapai 6 persen pada akhir 2018, pelambatan ekonomi cenderung terjadi pada 2019.
Dilema
Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyebut kondisi dilematis yang menjadi tantangan perekonomian ke depan.
Pertama, menurunkan inflasi dengan menaikkan tingkat suku bunga. Kedua, menurunkan suku bunga dalam menghadapi resesi agar roda perekonomian dapat terus bergerak.
Baca juga : Bane Raja Manalu: Meski Berbeda Suku, Agama dan Ras, Hidup Harus Rukun
"Tapi tahun depan itu, dua hal terjadi sekaligus. Inflasi tinggi, resesi berat. Jadi, menaikkan tingkat bunga makin resesi, tak menaikkan tingkat bunga inflasinya naik terus. Ini dilema yang luar biasa," ujarnya.
Pemerintah meyakini, perekonomian Indonesia tetap solid di tengah ketidakpastian global dan penurunan pertumbuhan ekonomi dunia. Pada triwulan III-2022, perekonomian Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan 5,72 persen (yoy).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2023 mencapai 5,3 persen.
“Dengan pertimbangan, berbagai risiko global dan domestik, kami optimis dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen tahun 2022 dan sebesar 5,3 persen di tahun 2023,” terang Airlangga.
Peneliti Makro Ekonomi dan Pasar Keuangan LPEM UI Teuku Riefky mengatakan, perlunya Bank Sentral menjaga agar arus modal keluar realtif bisa dikendalikan.
Baca juga : Rupiah Makin Lemas Hadapi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Untuk itu, BI perlu menjaga rate differential sekaligus memperhatikan laju inflasi domestik serta nilai tukar rupiah.
“Kalau The Fed masih agresif, BI pun tampaknya harus menjaga agresivitas pengetatan suku bunga untuk menjaga agar arus modal keluar bisa relatif terkendali, dan stabilitas nilai tukar rupiah bisa terjaga,” kata Riefky.
Kemudian untuk menjaga laju inflasi, Riefky menyarankan, sejumlah ‘extra effort’ yang dilakukan pemerintah harus terus dilakukan.
“Selain dari kebijakan moneter konvensional, sejauh ini koordinasi TPIP-TPID dan penebalan jaring pengaman sosial relatif mampu mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat,” pungkasnya.■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya