Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Bima menambahkan, Tak hanya itu, dicabutnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Tanah Air, turut diyakini mendongkrak pertumbuhan e-commerce. Ke depan, jelang Ramadan dan tahun politik, dikatakan Bima bakal menambah cuan bagi para pelaku usaha di e-commerce maupun marketplace.
“Justru tahun politik, banyak partai melakukan belanja, mulai dari spanduk, kaos dan lainnya dari pelaku usaha lokal. Begitu juga saat Ramadan, ibaratnya bulan tersebut pelaku usaha benar-benar Lebaran, karena pendapatan di Ramadan mampu meng-cover pendapatan enam bulan lainnya,” ungkap Bima.
Ditegaskan Bima, belanja online bagi masyarakat Indonesia seperti sudah menjadi gaya hidup sekaligus menjadi alat untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Untuk itu, diperlukan strategi yang tepat dalam mempertahankan bisnis.
Baca juga : Pemerintah Kudu Dorong Investasi Masuk Ke Daerah
Mengingat persaingan dan tantangan ke depan masih ada. Selain penguatan modal, inovasi yang terus berkembang juga perlu dilakukan. Kepercayaan konsumen harus terus dipupuk, agar percaya dan membeli lagi barang di toko online.
“Karena bagaimana pun, perkembangan e-commerce mampu menciptakan lapangan pekerajaan yang sebelumnya bahkan belum pernah terpikirkan. Misalnya dengan tren live shopping, banyak pelaku usaha maupun marketplace meng-hire talent khusus. Terbukti hal itu mampu meningkatkan engagement dan penjualan di e-commerce,” sebutnya.
Menyoal ini, Pengamat Ekonomi dan Perbankan dari Bina Nusantara (Binus) University Doddy Ariefianto turut mengamini. Beberapa perusahaan e-commerce yang kolaps memang memiliki margin yang kecil namun modal yang sangat besar.
Baca juga : Satu Dunia Bakal Terkena Getahnya
“Jika ingin bertahan, mereka harus menemukan model bisnis yang tepat. Belum lagi persaingan butuh skala ekonomi, yang diduga pada akhirnya era pertarungan e-commerce ini suka tidak suka di China hanya mengakomodir satu sampai dua nama yang bertahan. Itu namanya natural monopoly, tinggal menunggu siapa pemenangnya,” ujar Doddy kepada Rakyat Merdeka, Senin (6/3).
Terjadinya natural monopoly sambungnya, karena perusahaan monopoli tersebut memiliki sesuatu yang khas dan tidak dimiliki kompetitornya. Misalnya, biaya produksi yang paling efisien dan penggunaan teknologi tertentu Menurut dia, yang bertahan adalah pertama, yang memiliki modal yang kuat. Kedua, siapa yang kreatif dan memberikan inovasi.
“Yang kita lihat sekarang di kebanyakan e-commerce di Indonesia, belum ada user experience yang berbeda signifikan. Kemudian juga kalau memakai gimmick harga itu menjadi strategi yang konvensional, dan lagi-lagi yang menambah amunisi pendanaan yang bisa bertahan,” pungkas Doddy. DWI
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya