Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
“Salah satu yang berhasil kami tekan, adalah biaya sewa pesawat,” katanya.
Ia mengakui, jumlah armada Garuda Indonesia berkurang selama masa pandemi, yang semula sebanyak 142 pesawat, kini hanya beroperasi 54 pesawat.
Emiten berkode saham GIAA ini juga memutuskan, untuk tidak mengoperasikan lagi dua tipe pesawat, yaitu Bombardier CRJ dan ATR guna menghindari kerugian yang dialami perseroan.
Baca juga : Ginting Bawa Dampak Positif Menuju Indonesia Open
“Setiap tahun, kalau CRJ ini didiamkan, kami rugi 20 juta dolar AS (Rp 299 miliar). Kita terbangkan, rugi 70 juta dolar AS (Rp 1,04 triliun),” bebernya.
Kini, dengan hanya mengoperasikan tiga jenis pesawat yaitu Boeing 777, Airbus 330 dan Boeing 737, perseroan mampu meningkatkan pendapatan per pesawat.
Meskipun jumlah pesawat berkurang, pihaknya berupaya agar utilisasi bisa ditingkatkan semaksimal mungkin.
Baca juga : Pemerintah Pastikan Beri Hak Sama Semua Atlet Di Indonesia
“Sekarang, pendapatan per pesawat (dalam hitungan tahunan) menjadi 26 juta dolar AS (Rp 389 miliar). Sebelum pandemi, hanya bisa 23,4 juta dolar AS (Rp 350,2 miliar).
“Ini menunjukkan, kami berupaya memaksimalkan pendapatan di setiap penerbangan,” tegasnya.
Tahun ini, perseroan akan menambah 5 unit pesawat narrow body jenis Boeing B737-800, melalui skema leasing, bukan pembelian.
Baca juga : Yess, Jerman Bersedia Dongkrak Kemampuan Teknis Sepak Bola Indonesia
Hal ini untuk menghindari potensi terjadinya penyelewengan atau tindakan korupsi. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya